Minggu, 30 April 2017

Berebut Makna

"Kau akan menjadi sangat lapar dengan memikirkan betapa laparnya kau, meski sebenarnya kau tak sedang betul-betul lapar. Seperti kau tak akan pernah menulis apa-apa sampai kau berhenti berpikir hal-hal apa yang ingin kau tulis dan mulai menuliskannya". 

Saya memikirkan Quote ini, sepanjang jalan menuju pulang. Sebenarnya ini tamparan untuk diri sendiri karena sudah lama sekali tidak menulis apa-apa, bahkan jika itu hanya sebuah ucapan "selamat tidur" (ekhh, jadi baper :p). 

Sore tadi bersama para Punggawa Pecandu Aksara, dipandu oleh Pak, ekh... maksud saya, Kak Zulkarnaen Hamzon (mantan direktur UPEKS), saya belajar banyak hal; mulai dari bagaimana manajemen media yang baik, peranan setiap bagian dalam struktur media, sampai pada pertanyaan yang monohok "sudahkah kau menulis hari ini?" Dan rasanya saya malu sekali saat menyadari identitas saya sebagai seorang (pecandu) aksara, tapi dalam sehari tidak pernah menulis apa-apa. Bahkan jika itu hanya sebait tulisan remeh-cemeh di salah satu sosmed yang saya miliki. Sedang teman-teman saya yang lain sangat aktif menulis. Sangat produktif.

Sebenarnya, belakangan ini saya berpikir untuk tidak lagi menulis bait-bait puitis, kata-kata (sok) dramatis, dan caption yang mengiris di akun-akun sosmed yang saya punyai. Beberapa orang (mungkin) akan menganggap hal ini kekanak-kanakan. Sampai pada sebuah pernyataan yang dilontarkan Kak Zulkarnaen, "Di luar sana, orang-orang ribut saling berebut makna. Di luar sana, banyak sekali pembaca yang cerdas". Tetiba saya teringat, bahwa setiap orang punya selera baca yang berbeda. Setiap penulis adalah Tuhan bagi tulisannya dan setiap pembaca adalah Tuan bagi bacaannya.

Saya akhirnya urung berhenti menulis. Suatu kelak, tulisan saya mungkin menjadi dewasa. Bahkan menjadi lebih tua dari usia yang saya punya. Jika sekarang saya tidak memelihara rahim kata-kata yang saya miliki, maka kelak ia tidak akan pernah tumbuh dewasa. Sedang saya, akan pasti menua.

Barangkali memang benar, kita hidup di zaman, di mana anggapan orang lain menjadi sangat penting untuk (tidak) didengarkan. Sebab mungkin, hal sederhana yang kita pikirkan boleh jadi menjadi hal yang sangat rumit di kepala orang lain. Seperti bagaimana kata-kata lahir di penamu, sedang di lembar kertas yang lain orang-orang sibuk saling mengata-ngatai.

Menulis akan memperpanjang usiamu. Bagaimana mungkin? Coba saja!

Hohoho...


Nb :
       - O, Iya, sejujurnya tulisan ini saya buat hanya untuk menjawab pertanyaan Kak Zulkarnaen, "sudahkah kau menulis hari ini? Di mana? Di sini!"





Makassar,  Mei 2017

Selasa, 24 Januari 2017

CERITA HUJAN

; Sekolah


Hujan bertamu subuh sekali. Seperti seorang siswa yang bergegas menuju sekolah karena takut dihukum. Hujan, mungkin punya sekolah dan aturannya sendiri. Aku masih masih malas bergeser, meski ibu sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar, mengingatkan kalau sebentar lagi pagi. Ada kewajiban yang harus kutunaikan pada Tuhan. Dan lagi, ini senin. Kendaraan akan padat merayap jika tak bergegas lebih cepat.

Aroma perkedel menusuk hidungku, perut yang sejak semalam tiba-tiba sakit seperti kegirangan. Ibu memang juru masak yang hebat. Ia tak pernah alpa membuat bekal sejak aku curhat sering lapar saat di sekolah karena tidak sarapan. Perutku memang selalu rewel, malas sekali diajak sarapan. Sebenarnya bukan hanya perutku yang rewel, tapi karena aku yang kurang gesit sehingga selalu tak sempat sarapan.

Seperti dugaanku, senin menjadi hari macet se-versiku. Belum lagi saat hujan dan banjir, jalanan menjadi semakin panjang. Genangan di mana-mana, kenangan berbaris di kepala. Hal yang tak kusukai dari macet seperti ini adalah bising suara klakso yang sengaja dilempar tanpa jeda. Seperti bunyi perut yang sengaja dibiarkan lapar. Pemiliknya yang tergesah mungkin belum sarapan juga.

Aku tipikal pengendara yang penyabar, atau mungkin pemalas. Bagiku, klakso itu seperti signal penting yang digunakan saat mendesak, semisal, sudah ngebut di bahu kiri jalan, lalu tiba-tiba pete-pete (yang tadinya di tengah jalan) langsung menyerongkan badan tanpa aba-aba karena lihat penumpang, dan kau akan celaka jika klaksonmu tak marah. Atau, hal-hal lainnya yang menurut versiku penting.

Sekolah masih cukup sepi saat aku tiba, padahal, aku terlambat seper-sekian menit. Barangkali karena hujan. Mungkin karena banyak yang malas. Aku menebak banyak kemungkinan. Siswa-siswiku (di tempat mengajarku) memang berbeda. Istimewa. Berasal dari berbagai lorong dengan ragam karakter. Aku mencintai mereka yang rumit. Mencintai bagaimana mereka kadang membuatku marah dan ketawa. Mencintai cara mereka menebak diamku Mencintai cara mereka membuatku berpikir lebih keras. Aku mencintai mereka, hampir mirip seperti mencintai kau.Rumit. Aku berpikir, kapan-kapan mungkin akan kuceritakan tentang siswaku secara lebih detail. 

Hasil gambar untuk gambar pagi

 

Template by:
Free Blog Templates