Selasa, 07 Januari 2014

TITIK

                                                                                
Titik ..
Sebab titik bukanlah akhir.
Dari sebuah titik akan lahir sebuah paragraf-paragraf baru.
Mengapa ? Karena titik bukan akhir.
Melainkan awal dari sebuah pertemuan-pertemuan baru.
Kenapa harus titik ? Kenapa bukan koma saja ?
Sebab titik bukan koma. Dan koma takkan sanggup menjadi titik.
Lantas dimana akhirnya ?
Saat Kau menganggap semua berakhir dan selesai saat itu semuanya berakhir. Yah, sekalipun harus tanpa titik. Sebab titik bukan akhir .

 

Titik ..

Apa pertemuan kita juga berawal dari sebuah titik ?

Yah, bisa jadi !

Kalau begitu titik itu sejenis takdir. Bukankah pertemuan merupakan takdir ? Entahlah. 

Titik akan selamanya menjadi titik. Koma akan selamanya menjadi koma. Dan takdirpun demikian, akan selamanya menjadi takdir.  

Titik.

Sabtu, 04 Januari 2014

Aku Bukan Malaikatmu




Baru kemarin kau ucapkan cinta tiada henti
Seolah dunia terhenti
Menjadi milik kita
Tiada yang lain

Bersama gerimis malam ini
Kau sobek segala asa hati
Tentang cinta yang kemarin
Terhapus bersama tiap bulir hujan malam ini

Aku bahagia saat bahagia menjamahmu
Aku sedih ketika guratan duka menyelimutimu
Aku berusaha ada untuk dunia yang kau pijaki
Namun, malam ini aku tersadar
Betapa cintamu terlalu absurd untukku

Aku bukan malaikatmu
Bersabar  dalam tiap keluh yang tak pernah kau pahami
Aku bukan malaikatmu
Bertahan dalam kerapuhan  yang seakan kepekaanmu mati untuk itu

Aku bukan malaikatmu
Bukan .. bukann ..
Aku bukan malaikatmu

Dan belenggu cintamu
Biarkan aku bebas
Tapaki senyum tanpa beban cintamu
Dan tentang kenangan kita
Semoga tersapu hujan malam ini



                                                      Palopo, 13 desember 2013

Jumat, 03 Januari 2014

Surat Terakhir


Surat Terakhir
Oleh : Liyana Zahirah

Isak tangisku mulai pecah di pundak Farhan, sahabat kecilku yang begitu setia merelakan kupingnya untuk setiap keluh kesahku.
Mestinya aku mendengarkan perkataanmu dari dulu ! bodoh, bodoh, aku memang bodohh !! Isakku pada Farhan.
Farhan hanya terdiam mendengar ku meraung-raung atas penyesalan yang baru saja kualami.
Dia menduakan aku Han, dia selingkuh. Aku memang bodohh .. bodoh .. Issakku kembali pada farhan.
Kamu itu memang bodoh Rha, meraung-raung dan menangisi sesuatu yang semestinya tidak perlu di tangisi. Dasar bodoh ! Timpal farhan dengan ketus padaku.
Tega kamu Han, udah tau orang lagi sedih, bukannya di hibur eh malah diledek. Bahagia diatas penderitaan sahabat sendiri, Huhh !!”
Bukan begitu Rhara yang paling bodoh !
Tuh kan, meledek lagi ! (Aku semakin manyun mendengar kata bodoh yang diucapkan Farhan).
Iya iya Rhara yang imut, pintar, baik hati, gak sombong, plus gak makan sabun ! (lengkap kan). Kamu kenapa harus menangis sih tiap kali putus ?, menangisnya sampai meraunng-raung kaya orang gila lagi. Untung saja kamu sahabatku, kalau bukan sudah kutinggal sendiri kamu disini, biar di tangkap satpol PP, trus dimasukin ke rumah sakit khusus orang gila ! (Gubrak !, nyambung di mana Satpol PP sama orang gila). Hahaha ..
Yee ..  tega kamu Han ,. !. (jawab ku semakin ketus).
“Kenapa kamu harus menangis untuk seseorang yang belum tentu mau merelakan air matanya untukmu? Kenapa juga kamu mesti meraung-raung seperti setengah waras demi seseorang yang telah mencampakkanmu? Jika dia bisa dengan mudahnya melupakan, menduakan, bahkan mencampakkanmu, kenapa kamu harus menangis demi dia ? Bukankah semestinya kamu bersyukur. Dengan begitu jadi tahu siapa dia sebenarnya. Bayangin deh kalau seandainya kamu tahu setelah menikah dengan dia, pasti bakalan lebih sakitkan. Masa baru merried langsung cerai sih ! hihii.. 
Aku hanya dapat terdiam, perlahan kucerna semua guyonan Farhan. Apa yang dikatakan Farhan memang benar, aku terlihat begitu bodoh jika harus menangis hanya demi seseorang yang dengan mudahnya meninggalkanku.
Yee.. gak pake cengar-cengir kaya gitu juga kali Rha. Aneh deh, baru-baru habis nangis sambil merangung-raung tiba-tiba saja senyum-senyum gak jelas gitu. Dasar kamu aneh”
Aku hanya tersenyum, dan kembali memandangi langit yang kian pekat. Ah, betapa beruntungnya menjadi langit, selalu saja dikelilingi gemerlap bintang. Rembulan juga selalu nampak tersenyum manis disetiap malamnya. Langit memang beruntung, selalu saja bermandikan keramain dan cinta. Apa langit pernah merasakan kesepian ? 

~ *** ~

Air langit tumpah ruah menyelimuti gundah hatiku pagi ini. Sudah hampir seminggu aku tak pernah bertemu Farhan. Kata teman kelasnya dia sakit. Ah paling dia demam, Farhankan memang sudah langganan demam dari dulu. Sekalipun bukan musim hujan ia kerap kali terserang demam, yang parahnya dia tak ingin dijenguk oleh siapapun.
Aneh, Farhan memang aneh, hidupnya dipenuhi bercak misteri yang sulit untuk terpecahkan olehku. Bahkan semenjak aku mengenalnya, aku tak pernah tahu siapa kekasihnya, berapa mantannya, dan kapan ia putus. Jika kutanya, dia hanya menjawab “suatu hari kamu pasti tahu kok Rha”. Bagaimana mau tahu kalau dia saja tidak pernah cerita. Aneh kan !
Lupakan soal keanehan itu, aku hanya merasa ada desiran lembut menyapa degup jantungku pagi ini. Aku tak tahu apa, hanya saja tiba-tiba memori tentang Farhan terasa begitu lekat. Sepanjang bel masuk tadi hanya nama Farhan yang mampu kueja dengan sempurna. Bahkan selerahku untuk melahap kawanan rumus phytagoras menurun. Rasanya begitu hambar untuk lalui beberapa hari ini tanpa Farhan. Ada apa denganmu Farhan ? Tidakkah kau rindu dengan sahabatmu ini ? akhhh …

~***~
Terkadang keadaan begitu menikam, hingga kita harus rela tertikam untuk sebuah kenyataan. Tapi haruskah ini terjadi ? Mengapa ? Rasanya baru kemarin kau menyadarkanku dari tumpahan tangis itu, dan hari ini kau yang menyobek celah agar ia tumpah kembali. Rasanya baru kemarin kau menggenggam jemariku, berjanji untuk disampingku dalam keadaan apapun. Rasanya baru kemarin kau menyeka lukaku, saat aku terjatuh dari sepeda kecil itu. Rasanya baru kemarin kau menjadi super heroku, menyelamatkanku dari kejahilan-kejahilan senior yang tengah membuliku habis-habisan. 
Sambil mengusap bulir hujan dari matanya, dengan tergopoh-gopoh, Rhara terus menyusuri koridor sekolah untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar.
“Aku yakin, Farhan saat ini tengah belajar di kelasnya. Apa yang dikatakan Kak’ Hamka itu salah. Aku yakin Farhan yang dimaksud bukanlah sahabat kecilku”  
Berkali-kali Rhara memanjangkan lehernya, mecari-cari sosok yang begitu dekat dengannya empat tahun belakangan ini. Sahabat kecilnya yang setia mendengar tiap dendangan kisahnya. Namun hasilnya nihil, Farhan tidak di sana. Ia tidak ada diatara kerumunan siswa yang wajahnya tak begitu asing bagi Rhara. Ia kembali menyeka air matanya, berusaha menyembunyikan guratan duka yang tengah mengapung hebat dalam hatinya. Sampai akhirnya sepasang mata menangkap jelas bahasa tubuh gadis manja ini.
“Rha, kamu cari siapa ?”  Tanya Toni, yang tak lain adalah ketua kelas Farhan.
“Kamu tidak kerumah Farhan ?” Sambunya lagi.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Kak’ Toni air mataku sudah tumpahruah tak terbendung. Ribuan pertanyaan yang sudah kusiapkan terendap dalam kebekuan. Aku tidak bisa membendung semuanya. Rasanya terlalu perih untuk mengakuinya. Rasanya urat sarafku tak berfungsi normal untuk mengakui sebuah kenyataan. Ini begitu menikam. Bahkan belati tak mampu menandingi rasa sakitnya.
Kenapa ? Kenapa harus kamu Farhan ? Kenapa kamu terlalu tega meninggalkanku ? Setelah dengan lihainya kau masuk dalam duniaku, dan kini kau pergi tanpa sempat berpamitan terlebih dahulu. Apa kau takut aku akan menahanmu ? Apa kau takut aku akan mengiba agar kau tak meninggalkanku. Atau kau takut melihatku menangis lagi ?

~***~
  
Langit siang itu menangis, tanah basah. Semua larut dalam sedih. Aku hanya menatapmu dari jauh, saat jasad itu perlahan-lahan tertimbun. Ingin rasanya aku teriak, ingin rasanya aku berontak menahan mereka agar tak menguburmu. Aku yakin kau tersiksa dengan tumpukan tanah itu. Aku yakin kau tak nyaman dengan pakaian terkahir yang kau kenakan. Rasanya aku ingin berontak. Namun sungguh aku begitu lemah, bahkan untuk berjalan sempurna menghampirimupun aku tak bisa. Aku hanya ditopang oleh ibumu yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri, sedang ayahmu dengan tabahnya disisimu sampai kau betul-betul nyaris tak berwujud.
Farhan, seandainya kau melihatku mungkin kau berkata aku ini bodoh. Menangisi seseorang yang tega meninggalkan sahabatnya tanpa salam perpisahan terlebih dahulu. Tapi ini bukan bentuk kebodohan Farhan. Menangis itu bukan wujud kebodohan. Itu yang ingin kujelaskan padamu tiap kali kau mengataiku bodoh saat tengah menangis. Tapi bagaimana aku menjelaskannya padamu saat ini.
Kusaksikan mereka perlahan meninggalkanmu setelah prosesi penguburanmu selesai. Sementara aku tetap enggan memalingkan langkah untuk menjauhimu. Kalau bukan ibumu yang membujukku, aku mungkin akan bertahan lebih lama di samping nisanmu. Farhan, kau memang kejam. Kau tega membiarkanku menangis, bahkan membiarkan ibu dan ayahmu dikepung duka karena kepergian anak semata wayang mereka.

~***~



Rha, semoga saat ini kau tengah tersenyum bahagia. Maaf tak sempat pamit hari itu, tetapi percayalah, dari sudut lain aku menatapmu lekat. Mengapa kau membanjiri kepergianku dengan tangismu waktu itu ? Bukankah sudah kukatakan jangan menangis untuk seseorang yang belum tentu mau menangis untukmu. Ah, kau ini memang bodoh Rha, namun entah mengapa aku terus saja menancap rindu yang teramat sangat pada makhluk bodoh sepertimu.
Mungkin sepucuk surat ini dapat mengobati rindumu padaku. Super Hero modern yang pernah kau temui, katamu. Tapi jangan menangis yah, karena aku bukan untuk kau tangisi.
Terimakasih Rha, sudah menjadi narasi-narasi indah dalam hidupku yang singkat. Maaf , aku terlalu tertutup untuk bercerita anemia akut yang kuderita sejak beberapa bulan ini. Aku hanya tak ingin kau turut menanggung sakit ini. Kau tahu, aku selalu tak tega jika harus melihatmu menangis.
Aku titip surat ini ke Ibu, saat aku merasa rentang hidupku sudah semakin menuah. Kupesan agar menyampaikan padamu 4 bulan setelah kepergianku. Saat itu ibu terisak menerimanya, semoga saat menerima surat ini kau juga tak memasang mimik seperti yang ibu perlihatkan 4 bulan yang lalu padaku. Percayalah, aku kini tengah berbahagia di tempat ini. Meskipun kadang-kadang aku rindu ingin memandang langit bersamamu. Aku juga terkadang rindu dengan celotehan riuh tentang prahara asmaramu. Meskipun sebenarnya terkadang terdengar  begitu memilikan untuk hatiku.
Kau ingat tidak tentang pernyaanmu akan gadis-gadis yang kerap dekat denganku ? Aku tak menyimpan perasaan sama mereka. Karena jauh sebelum mereka hadir dihidupku, kau telah mengisi hariku. Kau tahu, aku begitu mengagumimu. Bahkan mungkin lebih lama dari yang kamu tahu. Huh, maaf yah Rha, aku terlalu pengecut untuk itu.
Hei .. hei .. Jangan menangis Rhara, bukankah sudah kukatakan bahwa aku bukan untuk kau tangisi. Jadi jangan pernah menangis lagi yah.
Sebenarnya banyak hal yang ingin kukatakan padamu, hanya saja suster cantiknya sudah datang. Semoga kali ini ia mendapat pendonor baik yang rela membagi darahnya untukku. Kau tahu aku selalu takut melihat jarum suntik, tapi untuk hidup lebih lama denganmu aku rela, sekalipun aku tahu lambat laun kanyataan akan menikamku.
Oh yah, lupakan perkataanku tentang suster yang cantik tadi, karena dimataku hanya kau wanita tercantik yang pernah kutemui. J .

Bersama senja dan gerimis tipis.
                                                                                                    Sahabatmu,
                                                                                                   Farhan



Template by:
Free Blog Templates