Rabu, 30 April 2014

MAWAR


Mawar
Oleh : Liyana Zahirah

Aku mampir, pada padepokan lusuh penuh melati. Serupa kubur menanti jamuan doa. Padanya kemudian aku menanam mawar. Berharap tetumbuhnya menjadi wangi tanpa melati.

Dibeberapa selang hari yang berganti, aku mampir hendak mencuci kaki.
Kudapati mawar mulai memanjat langit. merekah kelopak-kelopak berwarna; indah, elok. Bahagia terbang di sana-sini. Kutanam janji, kembali menengok esok.


Dibeberapa selang hari tepat menanam janji. Aku kembali membawa bibit unggul. Bukan mawar, bukan melati. Bibit matahari untuk malam hari. Nyanyian mengayun di sepanjang jalan. Kicauan burung kalah akan siulan laguku. Aku berlari menujunya, mawar berwarna di padepokan lusuh.

Aku tersungkur menatap nanar. Duri-duri telah tiada disetiap dahan. Kelopak-kelopak gugur menyapu tanah. Akar-akar terangkat ke permukaan. Bebau melati menusuk serupa belati. mawarku gugur dalam nyanyian penanti. Bibit-bibit matahari malam redup tak menyentuh cahaya.


Semusim berlalu. Mawar telah gugur dan layu.
Aku kembali tanpa menuai setangkai keindahan,-

...


Palopo, 30042014

Selasa, 29 April 2014

Calon Novelku (Barangkali)


SINOPSIS
                                           
“Pada akhirnya, cinta akan menuntun hati pada seseorang yang tepat”
Mungkin seperti itulah gambaran yang tepat atas apa yang kurasakan kini. Pada akhirnya, aku  menyadari, betapa kehadiranmu tidak hanya sekadar untuk ada. Namun juga sebagai penggenap atas keganjilan hati yang kerap kurasakan. Mungkin memang benar adanya, bahwa cahaya akan redup jika tak ada terang yang menyelubunginya, namun satu hal yang kupahami, bahwa dalam gelap sekali pun ada kedamaian. Dalam gelap, kita akan mengetahui, siapa terang yang sejati.
Harus kuakui, kehadiranmu telah berhasil memeberi napas dalam narasi-narasiku kali ini. Aku bahkan mulai terbiasa dengan semua hal tentang kamu. Aku mengabaikan beberapa hal yang ternyata itu sebuah kesalahan. Sampai pada titik di mana kenyataan membuat aku belajar banyak hal tentang cinta, yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku saja. Kamu mengajarkan aku tentang kebahagiaan yang letanya di sini; di hati. Tentang kebahagiaan yang tidak harus berujung pada kepemilikan. Yang pada akhirnya, jika harus ditentang hanya akan membuat goresan-goresan luka di hati beberapa orang.
Mungkin, kita memang ditakdirkan bertemu di beberapa persimpangan saja. Tidak untuk bermuara pada aliran yang sama …

Selasa, 08 April 2014

Barangali Rindu

..

Saat senja mulai menggulung hari, saat kawanan burung telah kembali ke sarangnya, maka saat itu pula, sepenggal rasa menjalari hatiku. Perasaan yang entah --

Saat malam telah kembali menyapu langit, perasaan diam-diam kembali merayap dalam keheningan -- mencipta riuh dalam setiap helaan napas. Keriuhan yang entah --

Saat gulita kian pekat, rasa itu kian buncah; berkecamuk dalam dada. Mendobrak dinding-dinding hati yang mulai menipis, seakan enggan menetap -- ingin berlari menatap keteduhan di mata itu. Keteduhan yang entah --

Lalu, saat fajar mulai menyongsong hari. Rasa itu tak kunjung pergi juga, ia justeru semakin riuh -- semakin menggebu; menanti narasi narasi Tuhan yang lebih indah untuk jamuan mereka,

Lalu bercerita tentang hari ;

Di mana mulut kita bisu,
Hanya tatapan kita yang berbicara,
Bercerita panjang tentang kerinduan,
Bahkan tentang rasa yang lebih dari sekadar kerinduan,

Lalu, jemari kita saling mengenggam,
Seakan enggan untuk berpisah,
Lama --
Hingga mereka menua,
Menyetia bersama masa.








                                                                                                                          Palopo, 08 April 2014

Minggu, 06 April 2014

Senja di Awal April


Pertemuan ; Semu

Membuatmu menunggu!

Maaf, maafkan aku..

 

Lontara rindu,

Melunasi janji -- menuntaskan rindu!

Maaf, maafkan aku

 

Mematungi waktu,

Menjajali detik,

Menanti -- menunggu,

Aku datang (terlambat) ..

 

Kecewamu kuyakin buncah

Maaf, maafkan aku..

Membuatmu kembali menggulung rindu itu.

 

Palopo, 1 April 2014

April; Tugas


..

Malam ini, saat hujan tumpah ruah dari langit, ada rindu yang diam-diam mengendap.
Di tengah tumpukan tugas kampus yang begitu memaksa mata tetap terbelalak (kantuk), ada rindu yang masih tetap buncah. 
Tatapan teduhmu, lekuk senyumanmu ..
Mungkinkah menatapnya kembali?

Ada ragu yang kemudian membuat hatiku tersudut,
Ada haru yang kemudian berusaha kuredam,
Ada rasa yang kemudian lebih dari sekadar rindu, untukmu,
Mungkinkah menatapmu kembali?

Cinta, katamu..
Mungkinkah seperti itu?

Aku sudah berusaha, merangkai tiap sub bab dalam proposalku -- tugas kampus yang rumit,
Namun, yang berhasil kutulis sempurna hanyalah untaian kata RINDU,
Kerinduan padamu ..
Kerinduan atas setiap patahan katamu,

Jika matahari bersinar esok,
Masikah kau tetap yang menyinariku,
Mendekap hariku, memelukku dengan untaian kerinduan,
Mungkinkah?

Ada masa yang membuatku selalu takut akan pertemuan,
PERPISAHAN .. Yah, Perpisahan!


Bisakah kita tak melalui masa itu,
Setelah akhirnya kita telah bertemu

;

Menatap, mengeja kerinduan, lalu mengucap patahan cinta ..

Bersamamu, rinduku lupa;
Lupa caranya untuk tidak melupakanmu --






Palopo, 6 April 2014

Jumat, 04 April 2014

SENJA



Jika ini rindu, maka biarlah. Aku rela digerogotinya. Sungguh!
Gulita menyapu langit, dentingan jam meraung – pilu. Ada rindu yang kurasa hadir di setiap malamnya. Pada dia, si pemilik bola mata teduh itu. Lekuk senyumannya, tatapannya, gaya bahasanya, serta sapaannya untukku. Cahaya.
“Dalam gelap pun ada Cahaya” Katamu lirih.
“Dan Cahaya akan nampak sempurna saat Terang menyelubunginya” Geming hatiku.
Kita larut, dalam ruang rindu yang sama. Menanti jamuan-jamuan yang lebih indah selanjutnya. Melunasi janji – menuntaskan rindu, lalu menggelar hutang-hutang kerinduan yang lebih banyak lagi.
***
Malam semakin merayap, tangan-tangan mulai saling memeluk. Rindu kian buncah!
“Kau suka malam ?” Tanyamu lirih, sembari menyulam senyum di bibirku. Meronakan wajah malamku. Aku terbang – melayang. Menembus antariksa waktu yang menjulang. Pertemuan awal kita. Aku mengenang.
“Tentu, aku sangat menyukainya. Bagaimana denganmu ?”
“Aku menyukai malam, namun, lebih menyukai Cahaya”
Rindu memeluk, senyum rekah, ada rasa yang entah – . Tatapan kita saling beradu, tanpa kedipan, enggan untuk melepas malam yang kian pekat.

***
Nona, sesungging senyumanmu membuatku luruh, membuat langit-langit hatiku bergemetaran. Tunggu,.. bukan hanya langit-langit hatiku saja, namun seluruh sendiku pun ikut bergemetaran ketika menatap binar matamu. Ada teduh di sana, ada rasa yang enggan memaling, ada hati yang bersorak. Riang!
Nona, ekor matamu membuntutiku. Sesungging senyumanmu membuat hatiku berdesir – terkepung dalam pesonamu. Sore ini, saat senja hendak melambai, kunanti kau kembali. Menggelak tawa bersama, saling memuji, dan membekukan waktu bersama. Cahaya!
***
Gerimis tipis mengikis langit. Bulir-bulir rasa tumpah ruah di sana – sini.
“Aku bukan pawang rindu; mengendalikan rindu tanpa harus dikendalikan rindu, bebas merindu, tanpa harus membebaskan rindu. Sungguh, aku bukan pawang rindu, Tuan”
“Tuan, salahmu masuk ke dalam duniaku, namun, salahku juga membiarkanmu dan tak mengusirmu keluar. Salah ? Semoga ini bukan kesalahan. Aku menerima uluran hatimu, Tuan. Aku menerima segala pujian yang tumpah padaku. Segalanya, Tuan! Sebab, kau sekarang berupa candu bagiku, sulit rasanya melalui malam tanpa patahan-patahan katamu, tanpa larik-larik puisimu, dan tanpa bait-bait merdu di setiap lagumu. Kau membuatku, koma. Koma untuk segala keadaan yang meniadakan namamu dalam hariku, Tuan.”
“Jika aku Cahaya bagimu, maka biarlah kau menjadi Terangku, sebab, Cahaya tak pernah nampak sempurna tanpa Terang. Tidak akan! Ia akan nampak sempurna jika bersama, beriring, dan saling menopang – melalui malam, berjalan di dalam gulita, melewati sunyi - sepi, serta kembali menggelar pagi bersama.”
***
Senja yang sendu, di suatu hari. Kita memasung janji bertemu. Di bawa teduh. Sembari menyedu segelas kopi pahit dan teh pekat paforit (kita).
“Kopi pahit kesukaanmu, Tuan, dan ini teh pekat untukku. Gulanya hanya di ujung sendok, tapi rasanya lebih manis dari yang kau duga, sebab, sudah kutaburi bersendok-sendok cinta saat mengaduknya tadi.” Ucapmu suatu malam, saat hendak memejamkan mata bersama. Kita bernyanyi, mendedangkan lagu kerinduan yang sama. Saling bersorak. Bertepuk. Bintang tersenyum, rembulan ikut berdansa – menari di tengan kebahagian (kita).
Aku masih menantimu, Cahaya. Menanti kau datang memenuhi janji; melunasi hutang – menuntaskan rindu. Kerinduan yang setiap malamnya kita agung-agungkan. Lalu kita sama-sama berjanji membekukan waktu. Membunuh detik yang menjajalkan rindu. Lalu, kita kembali menanami ladang kerinduan kita dengan rindu yang lebih banyak lagi. Lebih banyak dari rindu sebelumnya!
***
Darahku berdesir, senyumku kandas. Senyumanmu rekah, dalam lamun serta khayal yang indah. Jamuan-jamuan jemarimu dalam ponselku kurindukan. Tatapan binarmu mengapung, memenuhi rongga-rongga dadaku. Sesak. Menyesakkan!
“Nona, apa kau lupa caranya membuka mata ?”
“Nona, sadarlah! Ini sudah hari ke tiga kau tak memelukku dengan kerinduanmu.”
“Nona, apa kau sudah lupa dengan kesakralan janji yang hendak kita ucapkan bersama, nanti. Di hadapan banyak tamu. Di hadapan Ayah – Ibumu..?”
“Nona, hanya waktu yang hendak kita bekukan, bukan ? Namun mengapa, kini sekujur tubuhmu pun ikut beku!”
“Nona, rinduku kian buncah. Tanpamu, terangku tak ada gunanya, sebab kau Cahayaku. Cahaya yang selalu menyinari duniaku..”
“Nonaaaaaa …… nonaa ….. “
Gerimis tipis mengikis langit. Rinduku buncah, mataku berair. Deras, sangat deras!
Untuk kepergianmu yang tiba-tiba.. membuatku koma untuk waktu yang panjang. Sangat panjang!

**

Palopo, 2 April 2014



Rabu, 02 April 2014

April Berdarah



APRIL  BERDARAH
Oleh : Liyana Zahirah


   Suatu pagi di awal april. Saat matahari masih malu-malu menatap bumi, saat azan subuh belum berkumandang, saat mata pun baru saja terpejam, tiba-tiba saja, ketukan dahsyat terdengar dari luar pintu kamar yang ukuranya cukup besar. Samar kemudian kian sangar.

   "Bangun .. bangun .. " Teriak suara di luar sana. Terdengar memilukan. Suara butuh pertolongan. Segera.

   Mata masih enggan terbuka. Rasanya baru lima menit yang lalu mata kupejamkan, kini ketukan dahsyat menggerogoti pintu kamarku. Pilu. Ia menjerit kesakitan, sebab batangan ijuk sudah berkali-kali mendarat di punggungnya. Dalam keadaan tidak sadar,mataku terbelalak.

   "Ah .. sial!" Umpat hatiku.

   Rasanya dibangunkan saat kantuk masih menari dengan riang itu, seperti kiamat kecil.. Menyeramkan ...

   Dengan sisa-sisa napas yang belum stabil, aku berusaha bangkit, membelalakkan mata. Menatap gelap yang tumpah memenuhi kamar. Aku oleng, masih sangat oleng. Tugasku rampung pukul 02 : 30, dan mataku baru saja terpejam setengah jam setelahnya. Kini pukul berapa ? Gelap masih nampak si sana - sini; di luar jendela pun masih sangat gelap. Tak ada kokokan ayam bersahutan, menandakan pagi sudah kembali menyapa.

   "Ah, sial! Ini masih terlalu dini untuk bangun."

   "Bangun .. bangun .."

   Suara itu kembali terdengar. Kali ini justeru lebih histeris lagi. gaduh memenuhi telingaku, mataku kupaksa terbuka, kakiku kupaksa berjalan -- berjalan dalam gelap, dengan mata setengah tertutup. Napasku belum terkumpul sempurna saat pintu kamar kubuka. Seorang wanita paruh baya menatapku; tajam. Penuh kebencian, dendam, amarah, dan entah --. Ia menyodorkan sebuah sapu lidi dengan ketebalan yang entah.

   "Bantu aku" Pintahnya tegas.
   "Bantu, bantu apa ?" Tanyaku dengan nada heran, dan sedikit malas."

~~

   Teriakan-teriakan pilu pecah. Hening berubah gaduh, saat tetangga masih lelap dengan buaian mimpinya. Mataku terbelalak. Dengan keadaan seperdua belum sadar berlari -- kalang kabut dengan bekal sapu lidi.

   "Ayo tangkap dia. Dasar kurang ajar!" Teriak wanita paruh baya yang bersamaku. Ditangannya telah penuh dengan senjata. Siap menghantam tubuh lawannya.

   Ia mulai memukulkan senjata itu ketubuhnya. Musuh barunya, dua hari yang lalu. Sesekali ia mencoba maju melawan kami, aku maju, melawan. Saat ia kembali menyerang, aku mundur, teriak.. Takut.

   "Pukul kepalanya .. pukull .. " Teriak wanita itu padaku.

   Pukul ? Kau gila menyuruhku memukulinya. Dia tak punya salah padaku kali ini, urusannya hanya denganmu saja. Ah, aku betul-betul tak paham dibuat wanita ini. Dia menyuruhku bangun hanya untuk beradu tenaga.

   "Aku bukan pembunuh!" Teriak hatiku.

   "Plakkkkk ... " Senjatanya mengenai kepala korban. Ia masih sadar, dan mulai berlari pelan. Darah belum mengucur, namun kupastikan, saat itu ia sudah mulai  kalap. Napasnya tersengal.

   "Plakkk .. Plakkk ...  Dia pingsan .. dia pingsan" Ucap wanita itu padaku dengan girang. Aku melihat kepalanya masih bergerak, matanya pun masih terbuka sedikit.

   "Plakkkk ... " Aku melemparkan senjata yang kupunya ke wajahnya. Kepalanya. Ia terkapar, terbujur dalam napas yang perlahan lenyap.

  Tuhan, apa yang baru saja kulakukan. Apakah aku baru saja membunuh ? Aku bukan pembunuh, bukan!

~~

    Azan subuh berkumandan, badannya pun terbujur kaku. Aku iba. Ada sesal yang mulai menyelubungi hatiku. Riuh .. Sesal. Seandainya aku tak menuruti keinginan wanita itu untuk membalas dendamnya, pasti aku tidak akan dirundung rasa sesal seperti ini.

   Ada raut sesal pula yang kusaksikan di wajah wanita itu. Ia menyuruhku segera membereskan darah yang berserakan di sana sini. Menghilangkan jejak, namun, di hatiku masih ada jejak penyesalan yang tertinggal.

   "Aku benci, ia selalu menggangguku. Mengobrak abrik isi dapurku. Ia juga kerap kali mencuri makanan yang telah kumasak. Aku benci pencuri, benci!" Ucap wanita itu lirih, padaku. Berharap itu bisa sedikit menghilangkan sesal hatiku.

   "Tapi sungguh, aku menyesal sudah membunuhnya. Niatku hanya membuatnya pingsan saja, kemudian membuangnya agar tak menggangguku lagi, namun ... dia terlanjur tewas" Tambahnya.

   Aku diam, hanya menyimak pembelaannya. Ada benarnya juga. Aku pun sempat resah dibuatnya. bagaimana mungkin ia masuk ke kamarku, merusak beberapa barang milikku, kemudian meninggalkan tinjanya di kamarku. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikanku pembunuh. Membunuhnya.

   Ah, sungguh, Tikus - tikus got yang sering meresahkan ini membuatku merasa bersalah di pagi, di awal april yang cerah ini..


Palopo, 01 April 2014
  






Template by:
Free Blog Templates