Sabtu, 31 Mei 2014

BUKU ANTOLOGI PUISI "DENTUMAN RINDU"

    "Ketika rindu hanya mampu kutulis dalam bait-bait pepuisi di lembar-lembar kertas putih. Maka kuharap di suatu waktu, akan ada yang menuntunmu membaca lembaran-lembarannya hingga tuntas!"

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat yang juga berkecimpung di dunia literasi mengajak saya turut serta dalam proyek pembuatan buku antologi puisi bertema "Kerinduan dan Cinta" Akhirnya, dua buah puisi saya pun termuat dalam buku tersebut (Dentuman Rindu dan Cinta Cahaya). Suatu kehormataan buat saya, ternyata judul dari buku tersebut merujuk pada puisi saya yang berjudul "Dentuman Rindu".

PENASARAN? Ayo, buruan pesan!

 Cover Dentuman Rindu

BUAT PEMESANAN

(BATAS PRE-ORDER TANGGAL 15 Juni 2014)
TELAH TERBIT ANTOLOGI PUISI
Judul : DENTUMAN RINDU
Penulis : Ahmad Ihsan Jumadi, Andara Nada Heesan, Anin Niar Nanda, Bagas Il Romanista, dkk.
Penerbit : Sinrang Litera
Edisi : Mei, 2014
ISBN : 978-602-70152-3-4
Halaman : vi + 132
Ukuran : 13 x 19 (cm)
Harga pre-order: Rp 32.000,-
Harga normal : Rp 39.000,- (Berlaku 16 Juni 2014)
Catatan:
Batas Pre-Order (pemesanan dan pembayaran) sampai tanggal 15 Juni 2014;
Harga belum termasuk ongkos kirim. Pembelian minimal 10 eksemplar bebas ongkir.
Pemesanan via SMS ke 089652115541 (Nama Pemesan_Judul Buku_Jumlah order_Alamat lengkap)
Hati-hati penipuan!


Ayo, buruan beli!!






Jumat, 30 Mei 2014

PAHAMI AKU!

 PAHAMI AKU!
Oleh : Liyana Zahirah



Kau menyuruhku untuk belajar memahami sesuatu yang sebenarnya kau sendiri tak pernah memahami untuk apa ia harus dipahami. Sementara kita sibuk mengucap rasa yang mulai tak seimbang dari cara kita saling memahami hal-hal yang entah itu perlu untuk dipahami atau tidak. Iya, sesuatu yang entah __ Hingga retak-retak yang barangkali bentuk dari paham ini berceceran dan tak pernah kita pahami bersama.

Kau ingat kata ini "Tolonglah, pahami aku!"

Kata-kata yang kerap kau lontarkan ketika aku juga sebenarnya ingin untuk kau pahami saat itu. Kata yang ketika aku mengingatnya kembali, rasanya gelak tawaku seakan ingin pecah. Bagaimana mungkin kita saling mengucap kata itu, sementara kita tidak pernah paham untuk apa kita harus saling memahami. Seperti angin, bertiup tanpa irama teratur; menggugurkan daun satu-satu, menyapu telapak-telapak di jalan setapak, tanpa pernah ada mencoba memahami untuk apa ia ada, untuk apa ia diciptakan, dan untuk apa ia harus dipahami.

Siang itu, di langit sendu yang mulai tertutup awan gelap, kita saling menuntut untuk dipahami. Saling menguak-nguak hal; di mana kau telah memahamiku dengan jelas, sementara aku tak pernah memahamimu dengan sebaik-baiknya. Dan aku, dengan pembelaan yang menurutku sangat benar, menyatakan aku yang lebih memahamimu semetara kau tak pernah memahami aku. Kita bersitegang. Menggugurkan kenangan begitu banyak yang pernah tercipta tanpa kata "pahami aku".

Bagaimana mungkin aku lupa, saat dulu kita tidak pernah saling menuntut pemahaman namun saling paham caranya memahami. Bagaimana mungkin di saat waktu telah menggulung begitu banyak kenangan manis di antara kita, kata itu (memahami) kian buncah. Apa yang akan kita pahami setelah ini?

Angin bertiup, satu-satu air tumpah dari langit. Kulihat bara di matamu, sementara air di mataku berusaha memadamkannya. 

"Bruuukkkkk ..."  Suara bantingan pintu terdengar mengilu. Langkahmu menjauh. Semakin jauh, dan mulai tak terlihat.

Apa begini cara kita saling memahami? Apa aku harus belajar memahami seorang suami yang kemudian pergi lantaran wanita lain yang entah sejak kapan dikenalnya. Sementara seorang anak yang usianya masih terbilang jari menjerit di balik lemari dengan semua pertengkaran orang tuanya.

Bagaimana mungkin kita begitu fasih saling menuntut paham, sementara cinta sudah terlalu abstrak untuk kita raba, untuk kita lihat, untuk kita saksikan, dan untuk kita pahami.

***

Titik-titik hujan kian deras, mengantar langkahmu menuju pembaringan terakhir, setelah truk besar dengan suksesnya menggilas separuh dari tubuhmu. Apa yang akan kupahami setelah ini. Bagaimana kemudian kita akan saling memahami, jika ternyata mulut-mulut tetangga telah menjadi ajang adu domba antara kita. Bagaimana mungkin aku akan belajar memahami, jika ternyata waktu sudah tidak paham bagaimana membuatmu kembali ada dan mengucap "biarlah kita saling memahami, tanpa pernah mematok takaran atas paham itu". Bagaimana mungkinnn ... ??

Hujan telah berhenti, langkahmu tak pernah kembali. Bahkan sampai hari genap memasuki angka ke lima puluh dari usiaku, aku masih enggan belajar memahami sebab mengapa kita harus terlena untuk pernah menuntut paham, atas apa yang sebenarnya tidak begitu penting untuk kita pahami. Iya, sangat tidak penting!



Palopo, 30 Mei 2014
Di kamar sunyi, ditemani titik hujan yang berisik! :')





Kamis, 29 Mei 2014

Hujan Tumpah Satu-satu

Kusaksikan hujan tumpah satu-satu di beranda rumah. Telapak-telapak satu-satu pergi dan menghilang, sementara gelak tawa kian samar di telinga. Ada rindu yang diam-diam mengetuk lewat sela hati. Tanpa intonasi serta irama yang beraturan, ia membuat napasku pongah!

Aku kembali menatap lurus, menjalari kenangan yang satu-satu menghampiri.
Ah, terkadang aku berpikir, mengapa harus ada masa yang akan datang jika masa sekarang hanya akan menjadi cerita yang entah empuknya masih seperti saat ini atau tidak. Mengapa harus ada kata klasik untuk sebuah peristiwa lampau dengan butir-butir kerinduan menyelimutinya. Ahh ,,, Sudahlah!

Aku hanya terkadang selalu merasa sedih ketika berpisah dengan beberapa orang yang pernah menyinggah dalam hidupku :")


Potret



Kalian selalu menciptakan narasi yang bereda di setiap harinya :)



Ini pagi tadi, pas sampai kampus mampir di depan gerbang dulu. Nongkrong, plus foto-foto. Sekali lagi, kami selalu tidak pernah lupa caranya berpose saat depan kamera. hehehe :D
Bersama; Yuyun, Aku, Mega, dan Dian.









Nah, kalau ini masih di tempat yang sama. Pas lagi makan coklat, ada yang menawarkan foro-foto :D
Bersama; Ardi, Yuyun, Aku, Mega, dan Dian











Nah, kalau ini di lapangan basket. Mumpung belum masuk, yahh .. kita foto-foto dulu.
Bersama; Mega, Vhera, Nhala, Yuyun, Dian, Dewi, Lhizna, dan Aku.









Tadinya kami mau mencar, karena gak ada yang mau di belakang yah gini nih hasilnya!











Nah kalau yang ini sudah di kelas. masih dalam keadaan yang sama. Di PHP-in sama dosen. Ifonya masuk jam sepuluh, ternyata dosennya masuk jam sebelas! Yah, kita foto-foto duluu deh :D
Bersama; Nala, A. Mega, Jumrana, Yuyun, Nirwana, Nining, Aku, Shifa, dan Yalni.







Kalau yang ini niru ala-ala ceribel :p













Terkadang, kita butuh kamera untuk mengabadikan beberapa moment terbaik =))





Senin, 26 Mei 2014

Ada Yang Diam-diam Berbicara

Ada Yang Diam-diam Berbicara
oleh : Liyana Zahirah

 
Ada yang diam-diam melihat di matamu
Ada yang diam-diam mendengar di matamu
Ada yang diam-diam berbicara di matamu

Ada yang diam-diam menulis di matamu
Ada yang diam-diam bercerita di matamu
Ada pula yang hanya diam dan bisu di matamu

Minggu, 25 Mei 2014

ZAHIRAH

..

Jangan berisik. Akan kuceritakan padamu bagaimana akhirnya aku bisa lebih jatuh cinta padamu setelah musim sudah tak lagi sebasah dulu. Saat debu-debu sudah tahu bagaimana caranya hinggap di pipi kita. Dan kita menjadi sepasang yang tak berasanding dalam gemelut riuh yang mencekik.

"Zahirah" Kamu selalu memplesetkan namaku dengan sapaan itu. Seakan lidahmu sulit mengeja huruf (a) setelah (h) yang sebenaranya tidak begitu rumit di beberapa lidah orang yang kukenali.

"Biar kuantar pulang, bagaimana?" Ini tawaran yang kesekian kalinya semenjak nama kita berada pada deret yang hanya diantarai satu nama dalam absen harian kelas.

Aku memerhatikanmu lamat-lamat. Sepasang mata sipit dengan wajah khas blasteran China. Seandainya namamu bukan Zainal, serta ayahmu yang tidak dipanggil Opu,barangkali aku akan tidak percaya kalau kamu berdarah luwu.

Setelah lama melakukan pergulatan batin, aku kembali memasang senyum termanis yang kuharap tak membuat kecewa di hatimu kembali. "Aku pulang dijemput sama kakak, Nal"

Beberapa daun gugur meninggalkan ranting, menciumi tanah yang masih basah bekas hujan semalam, hingga suara motormu semakin terdengar. Untuk penolakan yang kesekian kalinya, aku kembali merasa gemuruh di dadaku..


...
Palopo, 250514

Belukar Tugas

    Inilah, hal yang sering membuat otakku kriting. TUGAS! Iya, tugas. Tugas kampus yang hobbynya main "borong" kaya orang tauran. Datangnya juga musiman loh! Seperti saat sekrang ini, saat MID Test serta Final Test mendekat. Saya heran, kenapa harus menjelang Final atau MID tugas-tugasnya diberikan, padahal beberapa minggu di awal perkuliahan santai-santai saja. Kalau satu atau dua tugas tidak masalah, lah ini, hampir semua mata kuliah tugasnya beranak cucu. Yang paling rempongnya karena kebanyakan disuruh merangkum! Itu berarti, akan banyak tarian-tarian baru yang akan dilakukan jemariku.
   Kalau sudah seperti ini, kami (Chuink-chuink) sudah jarang lagi deh keliyuran sana - sini. Hanya bergelut dengan tugas -yang sudah seperti hutan dipenuhi belukar- di warkop andalan kami. Ah, tugas ini melilit!

Oh, iya. Tetapi ada satu ritual yang tidak akan pernah hilang dari saya dan personil cuink-chuink lainnya. Jeprettt .. Foto-foto. Iya, kami tidak akan pernah lupa bagaimana caranya berpose sekali pun tugas membelit tanpa ampun. Mau lihat buktinya? 

Jrenggg ... Jrengg .........

Ini waktu di awal perkuliahan semester VI. Seperti biasa, kami nongkrong sambil ngopi di warkop. Waktu itu, tugas-tugas kampus masih belum banyak, eh, belum ada malah. Masih tahap kontrak perkuliahan. Tanpa beban, kami akhirnya berpose =D
Bersama; Dian, Aku, Yuyun, dan Mega Chuink-chuink.







Kalau yang ini masih dalam keadaan serupa seperti yang di atas. Masih nyantai-nyantai karena belum dililit tugas =D . Kali ini bukan Vhera lagi yang foto, tapi Mega. hehehe ..
Bersama; Vera, Dian, Aku, dan Yuyun Chuink-chuink










Nah, kalau yang ini di warkop yang berbeda. Ini sewaktu tugas mulai datang satu-satu. kami masih santai-santai saja. Nikmati segelas Cappucino dan beberapa potong pisang goreng keju :D Nyummyy ..
 Bersama; Mega, Yuyun, Dian, Aku, dan Lisna Chuink-chuink








Nah, di sini nih mulai sibuk-sibuknya ngerjain tugas. Lihat saja tuh Yuyun yang lagi melas untuk dicarikan bahan ajar.
Bersama; Dian, Yuyun, dan Antonius Chuink-chuink.










Nah, ini dia salah satu autentik tugas yang membuat jari saya pegelinu. MERANGKUM!!

















Kalau ini juga lagi kerja tugas. Dan lagi, Yuyun merengek buat dibantu! -_-















Ini dia, tugas microteaching yang buat saya begadang.Tapi hasilnya, MEMUASKAN! :D












    Hum .. Masih banyak lagi bukti autentik yang bisa saya ajukan dipersidangan tanya. Jadi, jangan pernah berani kembali mengatakan "kamu sok' sibuk skarang!, kamu jarang ke sekret sekarang, kamu bla.. bla ..." karena sungguh, bahkan untuk  "bojo" ke sana sini pun akhir-akhir ini sangat sulit!


............

Untuk orang-orang yang merindukan saya dengan hujan pernyataan yang terus terang terkadang membuat saya .. Uhh, ingin kembali ke semester bawah saja. Saat tugas kampus bukan keharusan yang menguntit di celah malam. -_-

Palopo, 25 Mei 2014
 

Minggu, 18 Mei 2014

Baris Terakhir Puisi

 Baris Terakhir Puisi
                                                                Oleh : Liyana Zahirah
 
Ada bait,
Di mana kamu, aku,
Adalah jelmaan diksi pada pepuisi yang sama

Ada bait,
Di mana aku, kamu,
Adalah jelmaan narasi dalam pepuisi yang sama

Ada bait,
Di mana kamu, aku,
Harus berpisah pada baris tak sama dalam pepuisi yang tak sama

Baris terakhir puisi
Aku ingin jadi pembaca dederet puisi-puisimu...

Palopo, 170514

Malam Perpisahan

Malam Perpisahan 





 Oleh : Liyana Zahirah





Angin tak berisik
Bulan terpaku risih
Hujan rintik-rintik
Jelma ketegasan sunyi
Pada bait terakhir puisi
Kita tuntas sampai di sini



Palopo, 170514

Mata







 

Mata 
Oleh : Liyana Zahirah





Matamu, mataku
Mataku, matamu
 

Matamu
Mataku
Mataku
Matamu
 

Mata mata mata
 

Kamu kamu kamu
Aku aku aku
Aku aku aku
Kamu kamu kamu

Matamu, mataku
Mataku, matamu

Tatap kita tak seirama!
 

Palopo, 170514

Nyanyian Pohon Pinus

Alhamdulillah, setelah kesekian kalinya mengirimkan karya ke harian Fajar, hari ini karya saya pun diterbitkan =D. "Man Jaddah, Wa Jadah". Tuhan selalu memeluk mimpi-mimpi kita, kok! Setelah ini, rasanya, ingin terus menulis :)

 



Nyanyian Pohon Pinus
Oleh : Liyana Zahirah





Angin berbisik,
Kala itu, gerimis tipis mengusik,
Ingin ikut dalam percakap unsil
Menggelak tawa – haru ..

“Lihat, dia tumbang sekarang”
Bisiknya sembari tersenyum tipis
Tawa rekah; mereka terbahak!

Tangis pecah!
Buncah!

Nyanyianmu mengalun ;
Teduh, rindang – tumbang …
Kenangan terasing,

Sejak rantaumu, kau tak pernah kembali
Wajahmu kian samar di memori
Hanya nyanyianmu, nyaring – mengalun, melambai, mencipta riuh

Sebatang pinus yang menjulang telah tumbang,
Hasil jamuan tangan kita – bertahun silam,
Saat dunia masih sempit kukenal.

Jika pinus ini rebah, biarlah!
Namun, jangan kau yang rebah,
Karena aku tak mungkin tegar.

Pulanglah, Ibu ..
Putrimu telah dewasa,
Rantaumu, biar ia mengganti.





Selasa, 13 Mei 2014

Buka Tulang Rusukku

Bukan Tulang Rusukku
Oleh : Liyana Zahirah



"Kenapa kau tertawa? Apa menurutmu ini lucu!"
"Lucu? Iya, ini lucu. Sikapmu sungguh menggelitik! Dulu, kau bilang tak ingin peduli padaku. Sekarang, saat aku dekat dengan yang lain, kau berlagak seolah yang paling tersakiti karena aku. Aku tak paham maumu bagaimana."

Hening...

"Mestinya, kau paham. Aku selalu ingin dekat denganmu, itulah mengapa aku tak pernah ingin menjadi sekadar kekasihmu saat ini. Aku ingin, saat hatimu dan hatiku telah mantap, barulah kemudian kita merajut benang kasih ini. Membuatnya menjadi selimut-selimut hangat yang kemudian kita kenakan bersama selamanya. Iya, selamanya. Selama napasmu dan napasku masih mengudara bersama. Aku ingin tak hanya mengenakan label "pacar" saat bersamamu. Aku ingin, lebih! Aku ingin menjadi adik, sehabat, serta potongan dari tulang rusukmu. Seharusnya kau memahami itu tanpa harus kujelaskan."

Aku diam, suaraku akhirnya redam sebelum sempat mengeluarkan kata apa pun. Senyumannya, tatapannya, serta caramu menatapnya membuat aku paham. Tak seharusnya aku menuntut atas perasaan lima tahun silam itu kepadamu.

...

Palopo, 14052014

Kamis, 08 Mei 2014

PELANGI

PELANGI
Oleh : Liyana Zahirah


Purnama pucat
Bebintang runcing
Di sana tak ada pelangi

Rerinai hujan
Gelegar petir
Di sana tak ada pelangi

Musim penghujan telah berakhir,
Jangan berharap pelangi akan terbit
Jika bola matamu masih saja basah

Musim gugur telah berlalu,
Jangan memelas pelangi kembali
Bola matamu masih saja basah

Musim semi telah datang,
Jika ingin pelangi melengkung
Hentikan titik air di bola matamu itu

Musim panas akan sesegara datang,
Pelangi akan mustahil
Jika matamu masih saja menangis

Sebab di matamu,
Ada pelangi yang mengabur
Sejak saat Ayah menimbun di bawah gunduk tanah, Ibu ...
















Rabu, 07 Mei 2014

Ada Isyarat

    SELAMAT DATANG DI KASTIL KECIL SAYA :)


        Inilah dia, tempat saya biasanya menghabiskan banyak waktu. Saat warkop tempat saya nongkrong barsama teman-teman padat pengunjung, tempat inilah yang kemudian menjadi pilihan saya. 

        (Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka ...?!). Mari kita berkenalan dulu kalau begitu ^_^

       Seorang pengagum hujan, pecinta senja, penyuka cahaya, sangat gemar bermain diksi serta begitu terobsesi dengan prosa, fiksi, dan puisi. Kelahiran 11 Desember "92" dengan nama Ratu Bulkis Ramli, yang kemudian mendeklarasikan diri sebagai seorang Liyana Zahirah dalam setiap jejak karyanya.  


        LIYANA ZAHIRAH. Liyana yang berarti lembut dan Zahirah yang berarti suci. Wanita yang lembut dan suci, kurang lebih seperti itulah makna dari nama pena saya. Banyak teman-teman yang kemudian bertanya, kenapa saya tidak memakai nama asli saja (Ratu Bulkis). Ini pertanyaan yang sungguh tidak bisa saya jawab dengan serius. Beberapa alasan yang kemudian sering saya paparkan kepada mereka; Alasan pertama, saya khawatir kalau sewaktu-waktu saya menjadi terkenal dan berdatangan fans untuk dimintai tanda tangan. Bayangkan saja kalau lagi di kampus tiba-tiba ada yang minta tanda-tangan*ehh! (imajinasi tinggi). Alasan kedua saya yang sama tidak pentingya, yah karena ikut-ikutan saja (ini alasan paling ngawur). Alasan ketiga saya, yang masih terkesan tidak penting juga, karena MEMANG! *Nah loh!!? Iya karena memang. Karena memang saya mau pakai nama itu saja. Jadi sebenarnya alasan saya memakai nama pena, bukan hal yang penting untuk didiskusikan.

         Saya seorang wanita berdarah Sulawesi. Sulawesi Selatan, tepatnya. Sekarang sedang berjuang menyelesaikan studi strata satu di Universitas yang cukup tidak terkenal, dan mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karena saya berasal dari rahim Bahasa dan Sastra Indonesia, rasanya tidak afdol kalau hanya menyandang status saja tanpa pembuktian karya. Saya pun akhirnya mencoba membangunkan kembali kegemaran kecil saya. Menulis. Yah, menulis! Saya sudah mulai menggemari dunia ini sejak duduk di bangku SMP. Kegemaran yang berawal dari sebuah kegelisahan. 

        Sebuah lingkungan dengan segala keterbatasan media elektronik kemudian memupuk kejenuhan dalam diri saya saat itu. Kegelisahan atas rentet peristiwa yang sayang jika terabaikan begitu saja. Dengan berbekal buku tipis persegi yang saya beli dengan harga lima ribu rupiah waktu itu, saya pun menuliskan beberapa peristiwa yang membuat bibir saya hanya bungkam atasnya. Sebuah diary kecil yang kemudian terlihat begitu menggemaskan jika membacanya saat ini. Di situlah saya memulai hobby baru saya. Menulis. Berbagi nestapa dan kebahagiaan dengan lembaran-lembaran kertas putih yang tak akan membantah atas gagasan-gagasan konyol saya saat itu. Sampai pada suatu hari, seorang teman mengenalkan saya pada dunia fiksi.
        Novel. Saya mulai mengenal nama itu saat duduk di bangku kelas dua SMP. Jadian Enam Bulan, karya Rhein Fathia yang kemudian menjadi awal saya mulai menggemari dunia baca. Terus terang saja, saya dulunya bukan seorang kutu buku. Bahkan sekarang pun saya belum masuk ke tahap kutu buku. Sejak saat itu saya mulai hobby membaca, khususnya hal yang berbaur fiksi. Berawal dari kebiasaan berlomba menammatkan novel bersama beberapa teman di SMP inilah yang kemudian membumbungkan niat saya menjadi seorang penulis. Saya sempat mencoba membuat sebuah novel dengan gender mistik sewaktu SMP dulu. Sayangnya, saya menyerah sebelum sampai di klimaks. Barangkali karena teknik penulisan yang baik belum terpatri pada diri saya waktu itu.
         Saya tidak hanya mencoba menulis novel saja, saya pun menulis beberapa puisi dengan diksi seadanya waktu itu. Puisi-puisi itu pun pada akhirnya hanya cukup menjadi konsumsi pribadi saya saja. Kalau mengenai pepuisi, saya sudah menggemari ini sejak duduk di bangku SD. Entah. Bagi saya, larik-larik dalam pepuisi serupa mantra-mantra yang memiliki kemuatan magis bagi para pendengar serta pembacanya.
         Sampai detik ini, saya masih begitu menggemari dunia ini. Menulis. Belum banyak memang prestasi yang saya toreh. Namun kelak, saya percaya bisa seperti mereka-mereka. Penulis-penulis ternama yang dengan karyanya selalu membuat saya cemburu dan terus ingin berkarya. :)

        Terimakasih untuk kalian yang sudah mampir ke kastil kecil saya. Silakan berkomentar dengan semua perabot-perabot kata yang saya tata di sini. Itu akan membuat kastil ini lebih indah nantinya.






                                                                                                                                           Salam karya, 

    Liyana Zahirah :')


       
        






    Minggu, 04 Mei 2014

    PENGAKUAN RINDU




         Malam ini, di sela jemari hujan yang menerabas malam. Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Tentang sesuatu yang kerap kali menyinggah dalam pikiranku. Sesuatu yang kemudian membuat jemariku menari begitu lentik dalam merangkai huruf demi hurufnya. Sesuatu yang kuyakini bahwa kamu, dia, mereka, dan kalian semua pasti pernah melafalkannya. Bahkan barangkali pernah merasakannya. Bisa jadi juga, perasaan itu seperti perasaan ini. Atau bisa jadi pula, bahkan lebih dari apa yang dirasakan perasaan ini.

        Jika ada pasang mata, yang kemudian dengannya seseorang bisa berdiam diri lebih lama di bawah derasnya rinai hujan agar kuyup bersama detiknya saat itu. Apakah itu rindu?

        Jika ada sesungging senyuman, yang kemudian dengannya seseorang bisa melupakan banyak hal dalam dirinya kecuali pada senyuman itu sendiri. Apakah itu disebut rindu?

        Apakah dengan semua peristiwa, yang dengannya seseorang kerap merasa hadirnya bisikan lirih yang memanggil untuk kembali. Itu disebut rindu?

        Jika benar rindu, apakah yang kurasakan adalah rindu? Yang kemudian dengannya aku kerap dipeluk kesunyian. Yang dengannya kemudian, aku kerap mematung menghadap detik -berharap memutar haluan- hingga merasakan apa-apa sebelum kehadirannya. Apa ini rindu?

        Jika benar ini rindu, kepada siapa harus kualamatkan rindu ini. Sedan di sinii, di negeri yang pulaunya tak terbilang jari, aku masih buta dalam mencari alamat yang tepat untuk menetapkan rindu ini.






    ..
    Palopo, 04052014 (Di puncak kerinduan kronis)

    Template by:
    Free Blog Templates