Rabu, 18 Juni 2014

Kekasih Fiktif di Bulan Juni



Kekasih Fiktif di Bulan Juni
Oleh : Liyana Zahirah



Titik hujan tumpah satu-satu. Sementara angin masih saja bermain-main dengan ricik-riciknya. Seperti katamu saat awal perjumpaan kita, kau akan selalu hadir sebelum hujan berhenti.  Dan kini, sudah lima belas hari basah yang kulalui sendiri, dan kau tak kunjung datang menemuiku.
Aku ingat, saat itu tepat di awal bulan juni. Hujan membawamu tersesat menemuiku. Halte tempat biasa aku menunggu bus terasa berbeda saat itu. Tidak sesak, tidak juga membosankan. Dengan hati-hati, kau menyentuh bahuku. Memperlihatkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat yang juga terasa asing di mataku.
Sejak hari itu, kita kemudian menjadi akrab. Entah bagaimana setelah perjumpaan kita di halte, aku kembali bertemu denganmu di tempat itu esok harinya. Masih dengan nuansa yang sama. Hujan. Kita akhirnya berkenalan secara resmi, setelah kemarin hanya saling menerka-nerka alamat yang tak jelas.
“Bara” Ucapmu sambil mengulurkan tangan. Lamat-lamat aku menatapmu.
“Aku yang kemarin bertanya padamu mengenai alamat” Sambungnya lagi. Kau seperti paham apa yang difikiranku saat itu.
“Liyana” Jawabku dengan sesungging senyuman yang kuharap dapat menebus rasa bersalah atas kecurigaanku padamu.
***
“Kau tahu kenapa hujan kadang-kadang turun sekalipun bukan musimnya, Li?” Tanyamu padaku. Saat itu, gerimis mulai turun pelan-pelan. kita berteduh di bangku halte setelah seharian berkeliling kota. Di antara semua tempat yang pernah kita kunjungi bersama, tempat inilah yang kemudian selalu menjadi persinggahan terakhir kita.
“Tidak, Bar. Memangnya kenapa?” Tanyaku penuh penasaran. Hujan memang kadang-kadang datang di musim kemarau, hanya saja aku tidak pernah paham mengapa ia harus tumpah dibukan musimnya.
“Karena ia mengerti, kapan tanah betul-betul rindu padanya. Li, suatu hari nanti, saat kau betul-betul merindukanku maka aku akan datang menemuimu sebelum hujan berhenti”
Aku hanya mengangguk, memperhatikan tanganmu yang sedang asik menampung hujan yang mulai deras. Aku tersenyum bahagia menatapmu. Sejak saat itu, aku menyukai hujan. Juga menyukai sosokmu yang santun dan begitu sederhana.
Hujan pernah megantarmu tersesat hingga menemuiku. Dan kini, hujan membawa hati kita tersesat pada subuah rasa yang entah harus kunami apa.
***
Waktu memang selalu melesat tanpa beban. Tidak terasa ini sudah setahun kebersamaan kita. Juni kembali menyapa, dan hujan masih saja enggan menepi dari musim. Setahun lalu, kita bertemu di halte ini dengan rasa yang asing, dan hari ini aku berniat merayakan pertemuan kita.
Dulu, kau pernah berucap, bahwa menari di bawah hujan terkadang membuat kita merasa lebih tenang dan bahagia.  Dan hari ini, aku ingin kau mengajariku cara menari di bawah hujan. Setelah beberapa hari kita tak bertemu, maka hari ini aku ingin kita merayakan setahun kebersamaan kita. Menari di bawah hujan serta menggelak tawa bersama.
“Bar, sore ini kita bertemu di halte tempat biasa, yah!” Setelah mendaratkan pesan itu ke ponselmu, aku bergegas menyiapkan beberapa kejutan kecil untukmu. Untuk perayaan setahun kebersaman kita. Sebuah tartt mini bertuliskan nama kita kupesan khusus. Tak lupa kusematkan beberapa lilin di atasnya. Aku tak peduli berapa penghuni halte nantinya, bahkan lebih banyak lebih bagus. Mereka akan menjadi saksi atas pertemuan kita setahun silam.
***
Hujan mulai redah, satu-satu penghuni halte mulai pergi dan kau belum datang memenuhi jamuanku.
“Ada apa denganmu, Bar? Mengapa kau tak datang menemuiku. Hujan telah reda, namun kau tak juga datang. Apa jangan-jangan kau masih sibuk mengurusi bisnis rumah makan ayahmu? Tapi mengapa kau tak menelponku!” Batinku.
Ada perasaan-perasaan asing mulai menjalari hatiku. Perasaan- perasaan yang entah harus kunamai apa. Aku mulai tersesat. Tak paham mengapa akhirnya kau membuatku menanti. Kau tak pernah melakukan ini sebelumnya –membuatku menunggu berjam-jam tanpa kabar- darimu. Hujan telah berhenti, dan air di mataku mulai menetes. Aku mulai membenci hujan, juga dirimu yang kembali asing.
***
Masih tentang hujan dan suara-suara rindu yang menggenang di hati. Di luar jendela kamar, kusaksikan hujan jatuh dengan hati-hati. Suaranya yang konstan kembali mengingatkanku tentangmu. Tentang manusia hujan yang kutemui setahun silam. Nyaris tanpa celah kau merampas seluruh imajiku. Membawaku ke dunia penuh fantasi. Iya, sangat dipenuhi fantasi!
Di atas lembar-lembar kertas putih, aku kembali menarikan penaku. Menuliskan beberapa peristiwa yang membawa langkah kita semakin dekat. Besok pagi, aku bertekat kembali menunggumu di halte tempat biasa kita bertemu. Tak pedulu hujan akan turun atau tidak. Aku hanya ingin kau kembali!
***
“Bar, mengapa kau menyukai hujan?” Tanyaku suatu hari padamu. Saat itu, kita tengah duduk di taman kota. Menyaksikan senja basah sisa gerimis siang tadi.
“Entahlah, Li. Aku hanya merasa damai ketika mendengar suara hujan yang jatuh dari langit” Ucapnya sembari memandang genangan air hujan di jalan.
Aku hanya terdiam mendengar ucapanmu. Bagaimana mungkin ada seorang pria yang begitu menyukai hujan. Kamu aneh, Bar. Benar-benar sangat aneh!
***
Hujan telah reda, namun kau belum juga datang. Aku masih di halte, menunggumu datang menyapaku. Katamu, kau akan datang sebelum hujan berhenti, kini hujan mulai jarang turun dan sebentar lagi kemarau akan mengganti. Apa kau akan datang, Bar?
Aku tidak yakin, kemarau akan membawamu menemuiku. Sebab kutahu, hujan adalah mantra terbaik untuk membawamu kembali, Bar. Hujan reda, namun kau belum juga menemuiku.
***
“Bodoh .. Bodoh! Bagaimana mungkin aku menunggumu di halte ini, Bar. Bagaimana bisa aku merasa kau akan datang menemuiku. Dan .. Tartt mini ini? Kenapa aku harus menyiapkannya untukmu. Untuk merayakan setahun kebersamaan kita yang tak pernah terjadi. Bagaimana bisa aku menganggap diriku adalah Liyana, sementara ia hanyalah tokoh fiktif dalam novel perdanaku beberapa bulan yang lalu. Dan kau, Bara … Bukankah sudah kuceritakan kau akhirnya harus berpisah dengan Liyana dikarenakan kecelakaan tragis yang merenggut nyawamu diperjalanan saat hendak menuju ke halte!.”
“Ah, Tidak! Bagaimana bisa aku merasa narasi-narasiku hidup di dunia realistis.” Batinku.
Hujan mulai reda, dan aku merasa kau akan segera menemuiku, Bar.
***

Jumat, 13 Juni 2014

Senja di Akhir Mei


Terkadang, kita butuh begini; menatap laut lepas, merentangkan tangan ke langit, sembari meneriakkan kata "FREEDOM" atas kehidupan elegan yang terlalu riak!



Debur ombak, ilalang, serta gelak tawa kemerdekaan. Setelah ini, aku berharap masih akan menyaksikan pelangi bersama kalian :)
 
Atau paling tidak bisa menyebrang pulau bersama kalian. Barangkali senja di sana lebih indah :)
 
Menatap hal yang entah itu perlu untuk ditatap atau tidak ^^


Atau saling berceritra tentang hal yang sebenarnya telah sama-sama kita ketahui.

Atau barangkali saling tertawa lirih bersama.




















Sampai akhirnya, waktu mengharuskan masing-masing dari kita kembali..

Saya tidak akan melupakan moment ini. Salah satu tempat terbaik yang pernah kita jambangi bersama. Dan Yuyun sahabat saya yang paling tidak mau wajahnya terabaikan kamera. Sama seperti saya. heheh :D

MUSIM YANG BERLALU

Hidup barangkali seperti ini;

Seperti musim-musim yang silih berganti. Kadang kemarau, kadang hujan, atau bisa jadi dingin dan gugur. Ada yang datang, ada yang pergi, atau bisa jadi yang telah lama pergi justeru kembali. Seperti musim. Berganti. Entah-- Skenario Tuhan memang selalu sulit tertebak.

Pertemuan yang cukup panjang, cerita yang sudah sangat banyak, kadang-kadang harus gugur dalam waktu sekejap. Aku menganggap ini perjalanan. Pembelajaran yang barangkali bisa mengajarkanku sedikit lebih dewasa, sedikit lebih tegas, dan lebih banyak-banyak bersyukur. Iya, lebih banyak bersyukur!

Si Terang pada akhirnya kembali ke pangkuan cahayanya yang sesungguhnya, sedang rembulan kini telah bertemu bintang inspirasinya yang baru. Dan aku bahagian.

Pada akhirnya, kita akan paham. Kapan musim harus menjadi basah, dan kapan ia harus menjadi gugur. 

Musim dingin sebentar lagi datang. Aku berharap ada yang bersedia membagi matelnya denganku. Atau sekadar menemaniku menyaksikan salju tumpah. Oh ... Tidak. Aku aku hanya harus menyaksikan musim hujan tuntas, setelahnya baru aku akan berpikir akan melalui musim dengin dengan siapa.

Ah, salju ...

Jika ada yang jatuh setelah hujan malam ini, kuharap itu salju. Bukan hujan lagi!











 

Palopo, 13 Juni 2014 (Ditemani hujan)



Selasa, 10 Juni 2014

Ada yang Tak Pernah Kita Pahami



Ada yang Tak Pernah Kita Pahami
Oleh : Liyana Zahirah

Ada yang tak pernah bisa kita pahami,
Seperti langit pekat yang berhujan
Dan pelangi yang muncul sebenatar saja..

Ada yang tak pernah kita pahami,
Seperti malam yang menggulung langit setelah senja
Dan ribuan bintang yang menyergap satu rembulan saja..

Ada yang tak pernah kita pahami
Seperti setitik embun yang menyinggah di rumput pagi
Dan cahaya matahari yang membakar kulit-kulit tanah

Ada yang tak pernah kita pahami
Seperti hatimu yang selalu berbicara dalam diam
Dan detak nadiku yang selalu menyebutkan namamu tanpa putus..

Ada yang tak pernah kita pahami
Seperti sepenggal senyumanmu setelah pergi
Dan deru napasku yang menjadi tak karuan..



Palopo, 100614

Senin, 09 Juni 2014

KASIH II



KASIH II
Oleh : Liyana Zahirah
 




Kasih,                                                                   
Sudah tak lagi kusaksikan biru mengarung di matamu
Lekuk bulan sabit di senyumanmu sudah tidak lagi bercahaya seperti dulu
Dan pelangi di matamu menjelma fatamorgana yang absurd
Maka biarlah kali ini, aku tenggalam bersama senja yang temaram
Hingga kawalan burung gereja mengantarkan bunga pada makam kenangan di hati kita


Kasih,
Barangkali memang sebaiknya seperti ini;
Meredam bara dalam tungku-tungku yang menyala,
Menyurutkan asa agar tidak melangkahi sisimu,
Lalu berakhir menjadi dinding-dinding kebisuan dalam dirimu


KASIH I



KASIH I
Liyana Zahirah




Kasih,
Kita pernah berjalan di lingkar-lingkar hari yang penuh onak
Mendayung-dayung kesejatian tanpa muara yang pasti
Lalu kita tegakkan asa di kepala-kepala yang penuh dengan kepal-kepal kecemasan
Dan kita kukuh, berusaha menanggalkan masa yang menyeret amarah-amarah dalam gerbong-gerbong hati yang merah

Kasih,
Kita pernah berjalan mengarungi musim dengan tongkat-tongkat yang penuh kepincangan
Meredam bara dalam tungku-tungku menyala
Sampai akhirnya tirai-tirai kepercayaan luntur dalam koyak-koyak pengkhianatanmu
Kau hias bibirmu dengan gincu-gincu cercaan
Lalu kau poles wajahku dengan garus-garis tanganmu yang kokoh
Kita amuk dalam badai-badai kepasrahan

Kasih,
Saat jingga tak lagi berwarna,
Biru tak lagi mengarung,
Dan merah menjelma abu-abu,
Maka kau tak perlu lagi melambai-lambaikan nista
Mengratkan golok di mulutmu
Lalu melucuti hatiku dengan madu-madu beracun

Template by:
Free Blog Templates