Kamis, 24 Juli 2014

Secangkir Cappucino Panas dan Surat Untuk Ruth

Secangkir Cappucino Panas dan Surat Untuk Ruth



Ruth, pertamakali membaca sampul dari buku ini, aku merasa sangat penasaran denganmu. Aku pun juga sangat penasaran dengan lelaki yang kemudian menulis surat-surat itu untukmu, Ruth. Kau tahu, aku bahkan tak pernah mendapat sepucuk surat dari seorang lelaki. Bukankah itu hal yang romantis, Ruth? Di zaman yang serba modern saat ini, mendapatkan surat dari seorang lelaki yang mencintai kita dan (sebenarnya) -juga- kita cintai itu sungguh sesuatu sekali.. Bukankah begitu, Ruth? Aku harap kita sepaham mengenai ini.

 
Setelah membuka lembar pertama surat untukmu, Ruth. Aku semakin penasaran perihal lelaki yang mengirim suratsurat itu padamu. Lelaki itu sepertinya sangat mencintaimu, Ruth. Kau juga mencintai lelaki itu, bukan? Jika aku menjadi dirimu, Ruth. Aku akan sangat mencintai lelaki itu. Lelaki yang kemudian kuketahui bernama Are. Lelaki yang mengahadiahkanmu sebuah pisau voctorinox di hari ulang tahunmu. Ruth, aku bahkan belum pernah mendapatkan kado dari seorang lelaki di hari ulang tahunku. Bahkan jika itu hanya sebilah pisau biasa, aku tak pernah mendapatkannya, Ruth. Aku sungguh cemburu padamu.

Ruth, mengenai Abimanyu, mengapa kau tak berterus terang saja pada orang tuamu. Aku sependapat dengan Ayudita, kau tak harus mengorbankan seluruh kebahagiaanmu. Tapi, bukankah Ayudita sendiri juga mengorbankan kebahagiaannya bersama Nugraha hanya karena perbedaan kasta mereka? Ah, Ruth, sungguh aku tak paham mengapa kita harus dipertemukan dengan beberapa orang (kemudian saling menautkan hati) jika ternyata pada akhirnya kita tak bisa bersama mereka. Menua dan hidup bahagia sampai Tuhan menyeru untuk berpisah. Mengapa, Ruth? Ah, kau tak perlu menjawabnya, Ruth. Aku yakin di hatimu pasti sempat terbesit tanya yang sama mengenai itu.

Ruth, aku terkadang juga ingin menyesali pertemuan yang terlalu singkat. Aku selalu khawatir jika jatuh cinta pada seseorang, lalu harus berpisah hanya dalam waktu sekejap saja. Kau tahu, Ruth. Kenangan setelahnya selalu punya usia lebih panjang. Dan itu yang menyesakkan! Aku yakin kau sependapat denganku kali ini. Aku bisa membacanya dari daftar "30 hal yang menjadi kesalahanmu sebelum kau dan Are menjadi kita dan setelah tidak lagi menjadi kita". Kau tahu, itu daftar menyedihkan yang pernah kubaca. Bagaimana bisa kau menulis itu? Maksudku, bagaimana bisa kau menulis itu saat Are sudah tidak mungkin akan kembali lagi. Maksudku, bagaimana bisa kau menulis itu untuk Are saat kau dan are bisa menjadi kita, tetapi kau memilih menjadikan Are tetap menjadi Are dan Dirimu tetap menjadi Ruth tanpa kita. Ah, Ruth, kau sungguh tega.

Ruth, saat membaca surat untukmu, aku sedang berda di sebuah warkop di pinggir kotaku. Bukan di Batu (tempat pertama kali bibirmu dan Are bertemu), bukan pula di Bali (tempat ribuan kenangan kau tebar bersama Are), bukan, Ruth. Aku hanya berada di pinggiran kota yang begitu sesak. Yang sepanjang jalannya dipenuhi kenangan yang menari-nari, namun tak seindah kenanganmu bersama Are. 

Suratmu hampir kutammatkan saat cappucino panas pesananku mulai dingin. Aku sempat menyeruputnya beberapa teguk. Terlalu manis. maka kubiarkan ia dingin tanpa kusentuh lagi. Kita punya kesamaan mengenai selerah minum (barangkali). Tapi aku tak seberuntungmu karena sempat bertemu Are. Kau tahu, Ruth. Saat mendengar Are bermimpi aneh, aku mulai khawatir jika kalian tak punya cukup banyak waktu bersama. Ah, pertemuan memang terkadang mencemaskan yah, Ruth. Aku jadi cemas, setelah pertemuanku dengannya, tak menutup kemungkinan kami (aku) juga akan mengalami nasib yang serupa denganmu, Ruth.

Ruth, kau dan dia memiliki kesamaan. Sama-sama pandai menyimpan rapat rahasia. Namun aku tak seperti Are yang selalu ingin mencari tahu setiap tanyaku tentangya. Aku khawatir dengan jawaban-jawaban yang akan menyesakkan. Heh! Aku harap kau tak mengataiku pengecut, Ruth. Atau mengataiku tak mencintainya. Aku mencintainya, Ruth. Sekalipun ia tak ernah menulis sepucuk surat untukku seperti Are menulis surat-suratnya untukmu.

Ruth, kusudahi saja ceritaku kali ini. Rasa penasaranku tentangmu dan tentang lelaki yang mengirimu surat ini telah tuntas. Aku sangat menyesal mengapa kalian tak bisa bersama pada akhirnya. Aku menyesal juga, mengapa surat Are untukmu begitu singkat. hehehe ..

Ruth, jika kau ingin menganggap tulisanku ini adalah sebuah surat, maka aku akan sangat bahagia jika kau dan Are membacanya bersama di dek kapal, tempat pertama kali kalian bertemu. Tapi bukankah Are telah.. Ah, sudahlah. Ruth, jika ada waktu, mampirlah ke kotaku. Di sini tak ada Are, hanya saja barangkali kita bisa saling berdialog perihal luka dan sembab sebab kehilangan...




Untukmu, Ruthefia Milana.
Dari aku (yang bukan) Areno Adamar

Makassar, 250714








 

FIGURAN ABU-ABU

Banyak yang berubah setelah hari itu. Tapak langkah kita tak lagi merujuk pada bangunan yang sama di setiap paginya. Kegemaran kita juga mulai berubah, tak lagi hobby makan batagor seribuaan. Hahaha.. Ini terkesan klise, tapi tak mengapa. Aku selalu menyukai kalian dalam rupa apapun..

Satu hal yang selalu jadi istimewa, ritual pertemuan tahunan yang sampai detik ini tak pernah alpa dari kita. Kau tahu, aku selalu rindu pulang hanya untuk bertemu kalian... Hanya separuh, barangkali. tapi itu sudah cukup menutupi sekat-sekat kerinduan yang merongrong dan selalu merengek untuk dijamah.


Acara buka puasa bersama :)

(Mita, Rika, Temannya Rika, Saya, Rifka)

(Rifka, temannya Rika, Rika, Nhovi, Kak' Pahmi, Fajrin, Lhago, Aku, Mita, Iren)


Kita sempat beradu tongsis dengan tetangga sebelah yang riuhnya bukan main... Dan Lhana selalu jadi orang yang bisa meledakkan tawa kita

(Rifka, Novi, Kak' Pahmi, Lhana, Aku, Aryan, Mita, Iren)

(Mita, Lhago, Aku, Novi, Rika, Iren)

Mita, Aku, Rifka, Iren, Aryan, Novi, Rika, Lhago

Aku, Ulfa, Mita, Novi, Iren, Lhago, Rifka, Rika, Ciput


Saya selalu berharap, tahun-tahun hingga kita menua, ritual ini masih terus berlanjut. Percayalah, kenangan tak betul-betul memudar. Bahkan setelah gerbang putih abu-abu tertutup untuk kita... :)




Makassar, 240714 
(Dua hari setelah buka bareng bersama teman-teman esemma)
 







Puisi Dalam Toples Kecemasan

Puisi Dalam Toples Kecemasan

 


Kupikir tak ada yang kebetulan di dunia ini. Bukankah semuanya sudah diatur olehNya? Kurasa kau juga akan sependapat denganku mengenai hal itu. 

Sudah berapa lama sejak hari itu. Wajahmu mulai samar diimajiku, meskipun begitu, kenangan tak betul-betul pudar sepenuhnya dalam ingatku. Kuharap kau tak akan marah padaku mengenai itu. Aku merasa itu cukup manusiawi, bukan? Bukankah ingatan tak bisa betul-betul kita hapus sepenuhnya? Setelah sebuah kisah berakhir, yang selalu tertinggal hanyalah ingatan-ingatan yang kemudian memprasastikan dirinya sebagai kenangan. Yah, kenangan...

Tapi tenanglah, kali ini aku tak ingin mereka ulang semua kenangan itu. Sungguh! Aku mungkin pernah tak menyesal untuk sebuah keadaan, saat Tuhan menggariskan pertemuan antara tatap mata kita. Saat semilir angin menerbangkan perasaan-perasaan kita pada satu haluan yang sama, yang pada akhirnya kita namai cinta. Sekalipun kita sama-sama ragu, apakah itu cinta atau ...

Dalam puisi, kita pernah sama mengulur janji. Memetakkan rasa, lalu tanpa peduli sekeliling. Berapa yang kemudian cemburu dan berapa yang kemudian takjub, kita baru tahu sekarang. Dan aku sungguh menyesali semuanya setelahnya. 

Kau lihat, puisiku kini masih terus melukis cintanya. Tapi tak lagi untukmu, sekali pun beberapa kata kerap mungkin akan membuatmu merasa. Jika bukan kau, barangkali dia yang akan merasa jika itu adalah kau. Ah, aku sungguh tak paham bagaimana kemudian membuatmu dan dia paham. Lalu membuat mereka menutup mulut untuk tak lagi membincangkan kita dalam sebuah toples yang dipenuhi buih puisi.

Ah, aku mulai cemas setelah hari ini. Setelah hari di mana puisiku kembali menggerai cintanya. Kembali melukis cerita-ceritanya. Dan itu bukan tentangmu, Sungguh! Tapi bagaimana kau akan paham? Atau dia, bagaimana dia akan paham? Bukankah hati seseorang tak bisa dibaca oleh orang lain? Kau tak mungkin akan bisa membaca hatiku saat ini. Tapi biarlah, aku tak akan berkilah apa-apa jika kau kembali bertanya perihal hatiku padamu yang sungguh telah betul-betul memudar setelah hari itu.

Kau tahu, ada cemas yang perlahan merapali hatiku saat ini. Jika saja tiba-tiba kau kembali datang dan menamparku dengan puisi yang dipenuhi magic. Membiaskan luka lalu memerah kembali air mataku. Aku sungguh khawatir. Kau tahu, setelah hari itu, aku mulai ragu melangkah keluar rumah. Aku khawatir bertemu puisimu di jalan-jalan yang pernah kita lalui dengan begitu mesrah. Aku khawatir, sungguh!

Aku bukan seorang pengecut, tapi banyak hal yang kemudian memenuhi kepalaku. Menggumpal lalu menguap dalam bentuk kecemasan yang mencekam. 

Bukankah tak ada kebetulan di dunia ini? Setelah hari ini, jika kau ingin datang dan mengambil puisiku. Maka datanglah bersamanya, akan keberikan penaku agar kau tak lagi temui puisiku dalam toples kecemasan setelah hari ini. Hari setelah kau merampas puisiku dari dalam toples-toples itu..



Makassar, 240714 (bersama deru kecemasan)



Rabu, 23 Juli 2014

Untuk Er

Untuk Er,.. 






Er, aku menulis ini beberapa saat setelah bertemu denganmu tanpa sengaja, di sebuah bangunan megah yang kau sebut kampus...

Bagaimana bisa kita bertemu, Er. Kau tahukan, kita bahkan tak pernah pernah menanam janji untuk hari ini. Hari di mana aku dapat kembali menyentuh matamu dengan sebuah kedipan. Hari di mana bibir kita terbata menguak derita. Dan aku, masih malu menatapmu, Er...

Er, ada sesuatu yang selalu sama di wajahmu. Dan aku kembali melihatnya kemarin. Pahat luka yang barangkali akan terus ada di garis wajahmu. Ah, Er, aku tak mungkin melupakan hari itu. Hari di mana kecewa mencekam sendi kelitihanmu. Hari di mana aku, kau, atau kita (barangkali) mempertaruhkan beberapa hal yang -mungkin- tak adaa tautannya sama sekali. Kau tak tahu, Er. Hanya aku yang tahu alasan mengapa aku tak harus memberitahukannya padamu. Tapi, Er. Sejauh apa yang kau pahami tentang itu, aku tetap akan bungkam untuk menjelaskan perihal alasan mengapa aku tak menepati janjiku hari itu.

Er, suatu hari, jangan pernah kembali bertanya mengapa aku melakukan itu padamu. Sungguh, aku takkan sanggup untuk menjawab tanyamu. Kau tahu, Er. Bukan hanya hatimu saja yang terluka kala itu, hatiku juga merasainya. Tapi kauu .. Ah, kau tak mungkin akan pahami mengapa aku tak membaginya padamu, Er.

Oh, yah, Er. Kau banyak berubah sekarang. Kau tak sekurus dulu lagi. Aku selalu menyukai lekuk senyummu. Dan tatapanmu, aku tak mungkin akan melupakannya; wajah tabah yang setia merapal waktu hanya untuk sebuah kepastian yang berujung pada kekecewaan. Maafkan aku, Er. Sungguh, aku bahkan merasa sangat bersalah padamu saat itu. Jangan tanyakan kembali mengapa aku melakukan itu padamu, dulu. Aku sungguh tak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Selain itu aku khawatir hanya akan tertawa geli mendengar alasanku. Kala itu, kita masih terlalu kanak untuk memahami maklumat.

Er, bagaimana kalau kusudahi ceritaku hari ini. Aku khawatir tak bisa berhenti menulis tentangmu jika terus kusambung. Selain itu, aku khawatir akan membuatmu kembali bertanya perihal ini itu (hal yang kerap kau tanyakan padaku). Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan padamu, Er. Kau ingat tentang lelaki yang kuberitahu padamu waktu itu, aku telah jadiannya dengannya. Bahkan hubungan kami telah usai, Er. Aku yakin kau pasti tahu akan hal itu, hanya saja kau tak tahu jika lelaki itu adalah dia, Er. 

Er, sebenarnya aku masih penasara tentang wanita yang bersamamu saat ini. Kau bahkan tak pernah cerita perilah tentangnya padaku. Setahuku, tak ada namanya di dederet nama wanita-wanita yang dekat denganmu waktu itu; waktu kita bersepakat untuk menutup lembar kebersamaan kita. Waktu aku, kau, harus mengaku kalah atas jarak yang kembali menjadi pembeda letak raga kita. Waktu kita mulai saling mengikhlaskan tentang cerita hati di lain raga. Kau ingat itukan, Er? 

Lantas siapa wanita itu, Er? Wanita yang matanya dipenuhi huruf R atas namamu. Wanita yang kini kau limpahi gelarku dulu, kekasihmu. Aku sangat penasaran, Er. Bagaimana bisa dia begitu lihai merebut hatimu. Aku tak cemburu, Er. Sungguh! Aku hanya ingin mengenalnya, Er. Aku ingin berterimakasih karena telah meyapu beberapa debu-debu kekecewaan yang telah kutinggalkan di wajahmu. Kapan-kapan, ajaklah aku mengenalnya, aku juga akan mengenalkanmu pada seseorang. 

Er, jangan berpikir aku banyak berubah saat ini. Karena hatiku... Ah, sudahlah, Er. Aku tak mau membahasnya lagi. Sebenarnya, aku ingin menatapmu lebih lama, hanya saja sentakan asing menyanggah niatku. Kau menjelma En, Er. Seseorang yang pernah menggenggam jemariku di bawah pendingin ruangan yang begitu gigil. Kuharap kau tak mengingat itu. 

Er, sebelum kau menjelma menjadi yang lebih klasik, kusudahi saja tulisanku ini. Aku sungguh khawatir tak tahu berhenti jika terus melanjutkannya. Er, jangan menatap punggungku. Kita tak akan betul-betul berpisah setelah hari ini, bukan? 




Makassar, 230714

Selasa, 22 Juli 2014

Kamu dan Huruf R bag. I

Sebenarnya saya masih ingin menulis. Masih ada beberapa hal yang ingin sekali saya tuang dalam bentuk tulisan, sekali pun sebenarnya dari tadi saya punya cukup waktu untuk menulis semuanya. Hanya saja barangkali saya terlalu lama berputar-putar memikirkan awal untuk memulai menuliskannya.

Saya ingin sekali menulis cerita tentang kamu. Tentang bagaimana saya betul-betul terbius dengan sosokmu. Kamu barangkali tak tahu. Tapi itu tak penting untuk kamu tahu. Karena saya hanya ingin menulis itu untuk mengabadikannya saja. Jika kamu sempat mampir dan membacanya, kuharap kamu tak merasa jika itu adalah kamu yang kusihir dalam bentuk tulisan-tulisanku. Tapi bagaimana aku menuliskannya. Aku bahkan masih mencari idea untuk mengawali paragrafku.

Bagaimana jika dimulai dari matamu? Tapi itu sudah sering saya lakukan. Dan saya selalu gagal mendeksripsikan keindahan matamu. Barangkali karena matamu memang terlalu indah untuk diurai dalam narasiku.

Bagaimana kalau dari senyumanmu yang serupa lekuk sabit saja? Tapi itu itu juga sudah pernah coba saya lakukan. Dan saya kembali gagal memulai paragraf itu dari senyumanmu. Ah, lantas dari mana saya akan memulai menuliskan tentangmu hari ini.

Sungguh, saya ingin sekali menulis tentangmu hari ini. banyak yang ingin saya tulis tentangmu. Tentang bagaimana hati ini kamu sihir dari keping-keping menjadi utuh. Yang kemudian berwujud dan barangkali akan saya namai cinta jika saja kau tahu. Tapi sudahlah, kamu tak mungkin tahu. Kamu pun tak mungkin membacanya. Jikapun kamu membacanya, barangkali hanya sepotong. Atau utuh tanpa rasa. Tanpa tahu jika sebenarnya yang saya maksud itu adalah kamu.

Saya masih berpikir untuk memulai paragraf saya dari mana. Sungguh, saya ingin menuliskan banyak hal tentangmu hari ini. Tapi saya selalu gagal untuk memulainya.

Ssstt. Sebuah bebeem mendarat. Saya harap itu dari kamu. Tapi bukankah kita tak pernah saling bertukar pin!?

Makassar, 220714

Senin, 21 Juli 2014

Kesaksian Kunang-kunang di Malam Pengantin



KESAKSIAN KUNANG-KUNANG DI MALAM PENGANTIN
Liyana Zahirah




Kusaksikan kunang-kunang menari di matamu malam itu. Bercerita lirih tentang pahat luka yang menyinggah di beberapa lekuk senyumanmu yang sabit. Dadaku sembab. Pelukmu penuh luka. Jika aku ada dalam daftar dederet nama yang menyobek separuh sayapmu, maka biarlah kau ambil separuh sayapku untuk terbang malam ini.
Kunang-kunang masih menari di matamu. Kau mendekapku erat. Memelukku dengan sayat luka penuh lubang. Kau bungkam tanpa bercerita luka. Meski begitu, kupahami hatimu masih menyimpan kecewa yang membiak. Ah, aku barangkali terlalu kejam untuk sebuah pengakuan. Tapi sampai kapan aku menyembunyikannya darimu. Sementara waktu tak memberiku jeda untuk menghitung mundur sebuah perpisahan.
***
Kau tak sungguh menangiskan? Bukankah seorang lelaki tak seharusnya menangis? Tapi matamu... matamu berair, sayang.
Dadaku sembab. beberapa kenangan menari-nari di kepalaku. Kepalamu rebah dalam pangkuanku. Pahaku basah sebab matamu. Hujan turun dari bola mata kita.
Sudah berapa petak waktu yang membawa kita sejauh ini. Mengingkari kenyataan yang semakin hari semakin berwujud. Keluh lidahku harus kutahan. Harus kubertahu padamu sebelum hari itu betul-betul tiba. Bukankah kita harus siap atas semua kemungkinan? Termaksud jika itu sebuah perpisahan, bukan!?
Kau kerap berkata, bahwa pertemuan selalu hadir beriring dengan perpisahan. Hanya saja kita punya cukup waktu untuk menahan seberapa lama kita akan berada pada titik pertemuan dan tak melangkah menuju gerbang perpisahan itu. Tapi seberapa lama kita akan bertahan dengan ini. Desak semakin tak terelakkan. Namun kau ... Aku harus memberitahu ini padamu. Bahkan jika restumu harus kujinjing beriring air mata.
***
Malam ini seharusnya berlalu khikmad. Kebahagiaan seharusnya rekah jika yang datang besok adalah kau, lelaki yang telah menutup sekat-sekat kesunyian hariku selama lima tahun belakangan ini. Lelaki yang kukenal tanpa sengaja dari salah seorang sahabat SMAku.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Para tentangga serta keluarga berhias dengan bedak serta gincu-gincu rapi. Semua bahagia. Kecuali hatiku, juga hatimu, barangkali.
Apa yang bisa kulakukan sekarang. Kau bahkan tak menahanku untuk tak duduk di malam mappacci ini. Kau membiarkanku bersanding dengan lelaki yang tak kucintai sama sekali. Lelaki yang baru sekali kutemui. Itupun hasil dari desakan dari orang tuaku. Apa kau tak mencintaiku lagi? Tapi tak mungkin kau tak mencintaiku.
Aku bisa saja kabur dari rumah sebelum malam ini tiba. Namun kau melarangku. Kau tak membiarkanku melakukan hal konyol yang justru menurutku masuk akal. Bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana mungkin aku akan melalui seluruh hidupku dengan orang asing. Melahirkan keturunan bukan atas landasan cinta.
Kepalaku pening. Kupaksa senyum rekah memenuhi bibirku. Luka tak harus diumbar. Pikirku.
***
Tamu-tamu kembali memenuhi rumahku. Beberapa wajah yang akrab denganku satu-satu memasuki kemarku hanya sekadar untuk memberi ucapan selamat dan berfoto denganku. Ah, bagaimana bisa mereka semua bahagia?
Sebentar lagi aku akan resmi menjadi milik orang lain. kau berjanji akan datang dan menyaksikan ijab qabulku. Kita berjanji tak akan saling menitihkan air mata jika waktu itu tiba. Tapi apa aku sanggup menepati janjiku?
***
Tamu-tamu semakin ramai. Kudengar beberapa orang mulai memberi tanda bahwa mempelai pria telah datang. Dan itu bukan kau. Dadaku kembali sembab. Haru mengelus lembut mataku. Aku tak boleh menangis. Aku telah berjanji untuk tak menangis. Dan kau berjanji pula untuk datang dan memenuhi undanganku.
Ibu mulai menuntunku keluar kamar. Rumah betul-betul telah ramai. Dekorasi indah telah menutup beberapa cat yang mulai memudar. Mataku sedikit berair. Aku tak boleh menangis. Tak boleh!
Aku berharap kau tak datang dan melihat mataku yang merah. Atau datang dengan sebuah ketegasan. membatalkan pernikahanku dan mengajakku lari. Tapi itu tak mungkin terjadi. Aku tahu bagaimana kau begitu menghormati ayah ibuku, sekalipun mereka tak pernah betul-betul menyukaimu.
Mataku mulai menjajali isi ruangan. Kusaksikan penghulu telah hadir dengan segala kesiapannya. Aku masih mencarimu. Kau akan datangkan?
Kunang-kunag menari di matamu. Kepalamu rebah dalam pangkuanku. Pahaku basah sebab matamu. Hujan turun dari bola mata kita.

Makassar, 220714

Minggu, 20 Juli 2014

KENANGAN PADA TUMPUKAN BAJU

Kenangan Pada Tampukan Baju


Ini sudah hampir empat tahun berlalu





Siang ini hujan kembali mengguyur. Saya betul-betul tak paham dengan musim di kota ini, terkadang di sela kemarau hujan tiba-tiba turun. Tak jarang pula sebaliknya. Barangkali memang tak ada menentu di dunia ini. Seperti hati, kadang berubah. Dan ingatan-ingatan yang tak betul-betul sempurna lekatannya.  

Beberapa hari lalu, saya dan beberapa teman-teman SMP berniat ke Malino. Salah satu tempat terkeren yang sudah pernah saya kunjungi beberapa kali. Beberapa kenangan juga berserakan di sana. Saya pernah ke sana saat musim stroberi sedang merah-merahnya. Pernah pula saat stroberi tak bemusim. Hanya pohon pinus yang setia di sana. Tak kenal musim untuk melihatnya bersenandung. Indah. tapi kali ini saya tidak akan menceritakan tentang Malino dan kebun teh, atau stroberi dan kuda-kuda yang bisa kita jumpai di pohon pinus, karena saya dan teman-teman SMP tak jadi ke sana. Yah, terkadang rencana bisa berubah haluan.  

Setelah batal ke Malino, saya jadi berpikir untuk mengunjungimu. Tetapi saat bangun dari tidur, genangan air sudah berkerumun di depan rumah, air juga tak betul-betul berhenti dari langit. Saya pun memutuskan untuk tetap di rumah dan tak ke mana-mana hari ini. Saya suka hujan juga menyukai matamu yang basah. Di sana juga ada kenangan yang terpelihara dengan baik. Di selipan hujan. Juga di kedipan matamu. Ah, kenapa juga saya bercerita tentang matamu dan hujan. Padahal kali ini bukan itu yang ingin saya ceritakan.  

Waktu menunjukkan pukul 14:30 beberapa saat sebelum saya menulis ini. Mama kedatangan seorang tamu yang entah dari mana. Saya tak melihatnya, hanya mendengar suaranya dan memprediksi kalau dia seorang wanita berusia beberapa tahun di bawah usia Mama. Dari percakapan mereka saya tahu, jika wanita tersebut berniat meminta baju bekas yang layak pakai. Karena rumah masih sangat berantakan, Mama hanya memberinya beberapa lembar pakaian saja. Dan menyuruh wanita tersebut datang berkunjung kembali setelah rumah betul-betul tertata rapi.  

Setelah wanita itu pergi, Mama bergegas menuju kamar si bungsu, memunguti pakaian-pakain yang tak terpakai dan masih layak pakai. Semua baju-baju sekolah pun tak luput dari tangan Mama. Saya hanya memerhatikannya sesekali sembari memencet-mencet tombol laptop. Sampai pada akhirnya mata saya betul-betul terusik saat Mama memperlihatkan sebuah baju berwarna putih yang dilumuri dengan warna-warni pilox tak bertata. Beberapa tanda tangan memenuhi baju itu. Saya bahkan masih hapal dengan beberapa nama yang ada di sana. Masa putih abu-abu memang selalu mengesankan. Haru memenuhi dada saya. 

Banyak yang berubah setelah hari itu. Beberapa adegan sering terucap berulang saat bertemu. Yang paling mengesankan saat-saat bandel-bandelnya dulu. Tak jarang pula, kita saling mengingat-ingat beberapa adegan yang terkesan menyebalkan waktu dulu. Ah, ingatan-ingatan memang kerap tak utuh. Tapi mengapa kita kerap selalu disibukkan untuk mengingatnya? Barangkali karena memang kenangan harus dipelihara dengan baik. Saya belajar itu dari seseorang. hahaa..  

Ssstt .. Salah seorang teman SMA nge-bbm saya. Jika hujan reda, barangkali saya tak akan berbuka di rumah hari ini  


Makassar, 200714

Minggu, 06 Juli 2014

LALU UNTUK APA



Lalu Untuk Apa…
Liyana Zahirah



Lalu untuk apa aku di sini,
Menunggumu datang setelah senja ringsut
Hingga pekat malam menyelubungi gemetar hatiku yang kusut
Jika ternyata gemerlap bintang hanya untuk kusaksikan sendiri,
Dan rembulan hanya menertawaiku getir tanpa tawar

Lalu untuk apa aku di sini
Berbisu bersama kenangan yang hilir mudik serupa bayang
Hingga hujan memelukku dalam kuyup menawan
Jika ternyata kunang-kunang hanya bersembunyi
Dan lampu jalan memaki serta mencaci

Lalu untuk apa aku di sini
Untuk apa, kasih?

Tidakkah kau ingat ;
Pada musim-musim yang pernah pecahkan tawa kita
Pada debur ombak yang menggulung langkah-langkah kita
Pada purnama yang mencumbu desah napas kita
Pada rangkai-rangkai  janji yang kau sematkan di lingkar jariku

Tidakkah kau ingat;
Tilas telapak kita pada setapak-setapak bisu di pertigaan jalan
Saat kau kecupi  keningku di bawah gerimis romantis
Hingga kucing-kucing kampung cemburu lalu memburu
Tidakkah kau ingat itu, kasih?

Lalu untuk apa aku di sini
Jika garis putus-putus kau gores dengan jeda  yang terlalu panjang
Dan ribuan tanya kau penjarakan dalam dinding hatiku yang karam

Lalu untuk apa, kasih?
Untuk apa kau masih memintaku di sini;
Menunggumu datang dengan segenggam purnama serupa matahari
Jika hatimu buta membaca arah hatiku untuk kembali
Dan kakimu lumpuh dalam pangkuan hati yang lain

Lalu apa aku di sini?
Tidakkah sebaiknya kau mengusirku pergi?!





Palopo, 060714 (Ditemani secangkir kesunyian)




Template by:
Free Blog Templates