Kamis, 24 Juli 2014

Secangkir Cappucino Panas dan Surat Untuk Ruth

Secangkir Cappucino Panas dan Surat Untuk Ruth



Ruth, pertamakali membaca sampul dari buku ini, aku merasa sangat penasaran denganmu. Aku pun juga sangat penasaran dengan lelaki yang kemudian menulis surat-surat itu untukmu, Ruth. Kau tahu, aku bahkan tak pernah mendapat sepucuk surat dari seorang lelaki. Bukankah itu hal yang romantis, Ruth? Di zaman yang serba modern saat ini, mendapatkan surat dari seorang lelaki yang mencintai kita dan (sebenarnya) -juga- kita cintai itu sungguh sesuatu sekali.. Bukankah begitu, Ruth? Aku harap kita sepaham mengenai ini.

 
Setelah membuka lembar pertama surat untukmu, Ruth. Aku semakin penasaran perihal lelaki yang mengirim suratsurat itu padamu. Lelaki itu sepertinya sangat mencintaimu, Ruth. Kau juga mencintai lelaki itu, bukan? Jika aku menjadi dirimu, Ruth. Aku akan sangat mencintai lelaki itu. Lelaki yang kemudian kuketahui bernama Are. Lelaki yang mengahadiahkanmu sebuah pisau voctorinox di hari ulang tahunmu. Ruth, aku bahkan belum pernah mendapatkan kado dari seorang lelaki di hari ulang tahunku. Bahkan jika itu hanya sebilah pisau biasa, aku tak pernah mendapatkannya, Ruth. Aku sungguh cemburu padamu.

Ruth, mengenai Abimanyu, mengapa kau tak berterus terang saja pada orang tuamu. Aku sependapat dengan Ayudita, kau tak harus mengorbankan seluruh kebahagiaanmu. Tapi, bukankah Ayudita sendiri juga mengorbankan kebahagiaannya bersama Nugraha hanya karena perbedaan kasta mereka? Ah, Ruth, sungguh aku tak paham mengapa kita harus dipertemukan dengan beberapa orang (kemudian saling menautkan hati) jika ternyata pada akhirnya kita tak bisa bersama mereka. Menua dan hidup bahagia sampai Tuhan menyeru untuk berpisah. Mengapa, Ruth? Ah, kau tak perlu menjawabnya, Ruth. Aku yakin di hatimu pasti sempat terbesit tanya yang sama mengenai itu.

Ruth, aku terkadang juga ingin menyesali pertemuan yang terlalu singkat. Aku selalu khawatir jika jatuh cinta pada seseorang, lalu harus berpisah hanya dalam waktu sekejap saja. Kau tahu, Ruth. Kenangan setelahnya selalu punya usia lebih panjang. Dan itu yang menyesakkan! Aku yakin kau sependapat denganku kali ini. Aku bisa membacanya dari daftar "30 hal yang menjadi kesalahanmu sebelum kau dan Are menjadi kita dan setelah tidak lagi menjadi kita". Kau tahu, itu daftar menyedihkan yang pernah kubaca. Bagaimana bisa kau menulis itu? Maksudku, bagaimana bisa kau menulis itu saat Are sudah tidak mungkin akan kembali lagi. Maksudku, bagaimana bisa kau menulis itu untuk Are saat kau dan are bisa menjadi kita, tetapi kau memilih menjadikan Are tetap menjadi Are dan Dirimu tetap menjadi Ruth tanpa kita. Ah, Ruth, kau sungguh tega.

Ruth, saat membaca surat untukmu, aku sedang berda di sebuah warkop di pinggir kotaku. Bukan di Batu (tempat pertama kali bibirmu dan Are bertemu), bukan pula di Bali (tempat ribuan kenangan kau tebar bersama Are), bukan, Ruth. Aku hanya berada di pinggiran kota yang begitu sesak. Yang sepanjang jalannya dipenuhi kenangan yang menari-nari, namun tak seindah kenanganmu bersama Are. 

Suratmu hampir kutammatkan saat cappucino panas pesananku mulai dingin. Aku sempat menyeruputnya beberapa teguk. Terlalu manis. maka kubiarkan ia dingin tanpa kusentuh lagi. Kita punya kesamaan mengenai selerah minum (barangkali). Tapi aku tak seberuntungmu karena sempat bertemu Are. Kau tahu, Ruth. Saat mendengar Are bermimpi aneh, aku mulai khawatir jika kalian tak punya cukup banyak waktu bersama. Ah, pertemuan memang terkadang mencemaskan yah, Ruth. Aku jadi cemas, setelah pertemuanku dengannya, tak menutup kemungkinan kami (aku) juga akan mengalami nasib yang serupa denganmu, Ruth.

Ruth, kau dan dia memiliki kesamaan. Sama-sama pandai menyimpan rapat rahasia. Namun aku tak seperti Are yang selalu ingin mencari tahu setiap tanyaku tentangya. Aku khawatir dengan jawaban-jawaban yang akan menyesakkan. Heh! Aku harap kau tak mengataiku pengecut, Ruth. Atau mengataiku tak mencintainya. Aku mencintainya, Ruth. Sekalipun ia tak ernah menulis sepucuk surat untukku seperti Are menulis surat-suratnya untukmu.

Ruth, kusudahi saja ceritaku kali ini. Rasa penasaranku tentangmu dan tentang lelaki yang mengirimu surat ini telah tuntas. Aku sangat menyesal mengapa kalian tak bisa bersama pada akhirnya. Aku menyesal juga, mengapa surat Are untukmu begitu singkat. hehehe ..

Ruth, jika kau ingin menganggap tulisanku ini adalah sebuah surat, maka aku akan sangat bahagia jika kau dan Are membacanya bersama di dek kapal, tempat pertama kali kalian bertemu. Tapi bukankah Are telah.. Ah, sudahlah. Ruth, jika ada waktu, mampirlah ke kotaku. Di sini tak ada Are, hanya saja barangkali kita bisa saling berdialog perihal luka dan sembab sebab kehilangan...




Untukmu, Ruthefia Milana.
Dari aku (yang bukan) Areno Adamar

Makassar, 250714








 

0 komentar :

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Template by:
Free Blog Templates