Selasa, 16 September 2014

Perihal Rindu II;


; Musim Gugur dan Daun Kering


Sudah hampir sepekan. Setiap kali membuka pintu rumah, aku selalu mendapati daun kering yang gugur di teras. Juga debu yang setia menempeli kaca jendela; serupa rindu yang berkali-kali diusir namun datang kembali. Apa musim hujan telah berlalu?

Kau tahu, kadang aku berpikir untuk menjadi daun kering yang gugur lalu mendapati wajah pagimu saat membuka pintu rumah. Melihat senyum simpulmu yang kemudian menyapu tubuh kecilku dari teras rumahmu. Lalu esoknya, aku kembali penuhi teras rumahmu. Dengan wajah setengah kesal kau barangkali kembali menyapu tubuh mungilku. Begitu seterusnya. Hingga kau jenuh dan membiarkan tubuhku terus berada di teras rumahmu untuk waktu yang lama.

Lalu kelak, jika kau menua. Aku masih ingin menjadi daun kering yang setia menyaksikan wajah pagimu; menghitung berapa garis keriput yang penuhi wajahmu. dannn .. menjadi saksi atas kebahagiaan cintamu dengan kekasih yang menjadi pilihanmu. Hingga kelak, saat pejam matamu abadi, aku tetap setia jambangi rumah terakhirmu. 

Kau tahu, aku tak pernah mencintaimu dengan cara yang biasa. Tak pernah merinduimu dengan cara yang biasa. Tak pernah menjadi "ingin" dengan cara yang biasa untukmu. Bahkan jika aku hanya dedaun kering pada musim gugur di matamu.




Palopo, 17/09/2014












0 komentar :

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Template by:
Free Blog Templates