Sabtu, 20 September 2014

PERIHAL MIMPI

; Surat Cinta dan Ampelop Berwarna Ungu





Ini adalah malam kesekian yang kulalui dengan berdiam diri di kamar. Bertapa bersama huruf-huruf serta paragraf yang tak kunjung rampung. Aku tak hendak membuat puisi, cerpen, apalagi sebuah naskah novel. Aku hanya sedang belajar menulis sebuah surat cinta untukmu. Sebuah surat yang sudah sejak lama ingin kutulis untukmu. Surat balasan atas surat yang kau titip pada rumput di senja itu. Surat yang tak pernah kau isi dengan huruf serta paragraf yang jelas. Surat yang membuat aku terkadang ragu, apakah akan menulis surat cinta ini untukmu atau tidak.

Semalam, aku bermimpi berada di suatu tempat yang indah. Sebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Ada sebuah pohon kelapa yang berukuran lebih besar di sana. Pohon itu menembus langit. Aku melihat banyak orang yang berusaha memanjat pohon itu hingga menembus dan melihat indhnya dunia dari atas sana. Setelah itu, aku melihat sebuah hamparan sungai. Aku hanya mengingat samar mimpi itu. Sebangun dari tidur, perasaan aneh menggelayuti hatiku. Entah, aku tak paham! 

Setelah mimpi semalam, aku bertekat menulis surat cinta untukmu. Aku ingin membalas surat cinta yang kau kirim padaku lewat tatap mata serta dawai gitar yang menggetarkan. Sungguh, aku ingin menulis surat cinta itu untukmu malam ini. Kau tahu, Tuhan selalu punya rahasia di balik pertemuan. Dan aku merasa, pertemuan kita juga bukan sesuatu yang tak berahasia. 

Aku sudah menyusun beberapa kata untuk kutulis dalam surat cinta yang nantinya akan kualamatkan padamu. Beberapa kata yang terkesan konyol, menurutku. Beberapa kata yang kuyakin akan membuatmu tergelitik saat membacanya. Di paragraf awal, aku menulis sebuah kata "Hai", yang kuharap bisa membuat kita terkesan lebih akrab. Sekalipun sebenarnya kita tak pernah betul-betul akrab. Setelah itu, aku mencoba menanyai kabarmu. Diparagraf berikutnya, aku tak bisa menulis apa-apa lagi. Tulisanku terhenti. Surat cintaku tak tuntas lagi malam ini. 

Kau tahu, aku selalu gagal saat menulis segala hal tentangmu. Aku selalu terhenti di beberapa jeda yang kubuat sendiri. Seperti malam ini, aku kembali gagal menuntaskan surat cintaku untukmu. 

Hey, sedari tadi sepi mengendap-ngendap bertamu ke rumahku. Aku curiga, tiadamu akan semakin membuatnya semakin liar. Kau tahu, aku terkadang berkhayal membunuh sepi ini bersamamu. Memangkas sunyi yang sejak lama berakar di mataku. Lalu menanam beberapa benih rindu dan menuainya bersama. Khayalan tingkat tinggi, memang. Apa lagi mengingat kau yang "barangkali" hanya menganggap hadirku sebuah bayang.Yah, sebuah bayang yang terlalu absurd. 

Aku telah mempersiapkan sebuah ampelop berwarna ungu malam ini. Jika saja surat ini suatu hari jadi, aku akan memasukkan surat itu di dalam apelop ini. Ampelop berwarna ungu. Warna yang cukup unik, menurutku. Warna yang menyimpan banyak mistea. Seperti kau, yang selalu berwajah teka-teki. Entah mengapa aku begitu menyenangi warna ungu. Bahkan sejak lama aku ingin merubah cat kamarku menjadi ungu, lalu mengisinya dengan perabot berwarna ungu, tapi selalu gagal. Sama seperti kegagalanku menulis surat cinta untukmu malam ini.

Tidak malam ini barangkali. Mungkin esok, mungkin juga esoknya. Tapi tenanglah, aku akan menuntaskan surat cinta untukmu suatu hari nanti. Lalu kumasukkan ke dalam ampelop berwarna ungu dan langsung kuberikan padamu. :)




Palopo, 20/09/14 (Sabtu malam; ditelengkup sunyi dan rindu yang mulai uzur)

 




0 komentar :

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Template by:
Free Blog Templates