Selasa, 23 Desember 2014

Kisah Inspirasi



TENTANG JARUM YANG PATAH DAN 
SEMANGAT YANG TAK HARUS IKUT PATAH



Wanita itu masih terus memutar roda mesin jahitnya. Ini sudah kali ketiga jarumnya patah, padahal biasanya akan patah sekali dalam sebulan, atau dua kali, atau tak patah sama sekali. Kali ini, dalam satu hari ada tiga jarum yang patah. Wajahya mulai gelisah, leleh keringat mulai bercucuran dari kening, juga pelipisnya. Setelah memasukkan jarum keempat, ia kembali menginjak roda mesin jahitnya, berharap kali ini jarumnya tak kembali patah.
Usianya hampir menginjak setengah abad. Ia seorang penjahit, tapi bukan penjahit sungguhan. Begitulah yang sering ia katakan pada orang-orang yang datang membawakannya baju, celana, atau kain untuk dijahit. Ia memang bukan penjahit sungguhan, itu yang dikatakan sebagian pasiennya, orang-orang yang pernah memercayakan kainnya untuk dijahit.
Ia tak pandai membuat pola, tapi mahir membikin baju anak-anak. Tanpa pola, tanpa ukuran. Dia memang bukan tukang jahit. Kakinya hanya sebelah.”
Ia masih mencoba memainkan roda mesin jahitnya. Kali ini, ia mengambil kain tebal. Bekas potongan celana levis yang didapatkan dari tetangganya, yang bukan seorang tukang jahit. Ia akan menjahit tanpa pola dan ukuran. Tentu saja, lap kaki tak perlu diukur dan dibikinkan pola macam-macam seperti baju. Dirapatkannya sepatu mesin jahit pada kain, lalu ia kembali memutar roda mesin jahit, berharap jarumnya tak patah kembali.
Ia wanita separuh baya. Usianya hampir mencapai setengah abad. Ia sendiri di rumah yang cukup untuk dihuni sepuluh kepala, atau lebih. Separuh waktunya ia habiskan di roda mesin jahit, separuhnya lagi di balik panggangan kue.
“Kelak, jika sudah tak bisa menjahit, atau memanggang kue, saya masih punya tabungan membayar listrik,” katanya di suatu siang.
Ia kembali meroda mesin jahitnya, dengan harapan agar jarumnya tak kembali patah. Ini jarum yang keempat. Ia akan menjahit sebuah lap kaki tanpa membuat pola dan ukuran. Ia bukan tukang jahit sungguhan. Jalannya tak sempurna. Tapi di masa tua, ia punya uang cukup untuk membayar listrik.

Tak harus sempurna untuk menjadi bahagia, bukan!?


Palopo, Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

BALASAN PUISI UNTUK RANGGA

#Rangga

Perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karena cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya?
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hamba
ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin, kamu
itu saja


#Saya (bukan, Cinta)

Perempuan datang tak hanya atas nama cinta,
tapi juga seruan rindu yang terus berdengung di hatinya
dinding yang bebal akan runtuh
bulan terjaga di hatimu
mengeja wajah perempuan
; mungkin bunda, mungkin juga aku
tapi bukan gundah 
juga cecap sepi yang amat asin

Tak ada apa-apa dengannya.
caci tak memcecak nadi,
garis-garis senyum melengkungkan pelangi
masihkah ada "apa" dengan cintamu?

Pada purnama keberapa kau akan kembali
mempertanyakan cinta atas dirimu
aku menghitungnya bukan untukmu,
bukan untuk sesiapa, tapi untukku
karena aku juga ingin, kamu
cukup itu.




Palopo, 14 Desember 2014 
(membayangkan saya sebagai, Cinta)





Dua Puluh Dua

     Apa yang kau pahami tentang usia? Tentang angka yang bertambah dan jatah hidup yang berkurang, katanya (yang sepertinya memang benar). Saya belum memahami apapun. Saya tak pandai membaca apapun perihal takdir (kelahiran-kematian-jodoh). Yang saya pahami, usia, rezki, dan jodoh rahasia Tuhan (itu saya baca di buku agama saya, dulu). Saya (mungkin) hanya pandai membaca sajak-sajakmu. Itu saja (entah ini nyambung atau tidak). Tapi bagimana pun, hari ini saya ingin mengucapkan "selamat dua puluh dua, saya". Tetaplah sehat :)




Usia adalah bilang Tuhan yang rahasia.

Untuk hari ini, satu angka dari usia saya kembali. Banyak doa yang merapal, ucapan-ucapan selamat membanjiri, dan kado-kado (puisi) memenuhi lengan, saya. Sore tadi, dapat tart mini (tanpa sirama nano-nano berwarna tak mirib pelangi. Dan saya bersyukur) dari sahabat-sahabat saya. Hiuup, saya bersyukur dan berterima kasih, tentu saja. Di sela-sela sibuk, mereka masih menyisipkan ingat atas hari ini.

Saya meniup lilin yang mirib permen dengan perasaan beraduk. Saya sudah dua puluh dua tahun, saya sudah dewasa seharusnya. Iya, seharusnya memang telah dewasa, meski terlihat sangat mungil dan imut-imut (saya tidak bohong). Bapak dan ibu saya juga menelpon, mengucap selamat dan menggiring kado dalam bentuk doa-doa. Tentu saja, kado terbaik adalah doa, menurut saya. Saya tak meminta di belikan ponsel, tak minta dibelikan sepeda, dan lagi minta dibelikan ini-itu, saperti ketika diusia belasan, dulu. Saya sudah dua puluh dua, dan tentu saja, bapak dan ibu saya memahami hal itu.

Sebukit harap dan doa membanjiri kepala saya; saya ingin wisudah di usia dua puluh dua, saya ingin lanjut ke perguruan tinggi yang lain di usia dua puluh dua, saya ingin menulis lebih banyak lagi di usia dua puluh dua, saya ingin tetap sehat, tetap bisa mendengar suara bapak dan ibu di telpon setiap pagi di usia dua puluh dua, saya ingin menyelesaikan tulisan saya (yang mungkin novel) di usia kedua puluh dua, saya ingin banyak menulis puisi di usia kedua puluh dua, saya ingin jatuh cinta lagi di usia kedua puluh dua. Dan masih banyak ingin-ingin yang saya capai di usia dua puluh dua, nanti.

Usia adalah bilangan Tuhan yang rahasia. Seberapa hebat kau mengali-bagikan angka, kau tetap tak akan menemukan rumus kepastian usia. Saya tak ingin membahas banyak tentang usia. Usia dua puluh satu saya telah lesap terganti dua puluh dua. Saya bahagia. Kehilangan tak harus dirayakan dengan air mata, bukan?

Sekali lagi, selamat dua puluh dua, saya. Terima kasih pula kepada kalian yang masih mengingat hari ini untuk, saya. ^_^


Saya ingin mengadokan sebuah puisi untuk, saya.
Namun sayang sekali, saya gagal menulis bait-baitnya.
Kalau ada yang bersedia mengadokannya, dengan lapang hati saya menerimanya sebagai kado :D hehee..


Kado (gambar) di usia dua puluh dua tahun, saya.

 (ini dari Ifha, sahabat putih abu-abu saya. kami berjanji akan mendaki bersama)

(Ini teman-teman saya yang istimewa. Mengadokan kue dan garis keriput karena bandel tiap kali saya latih dramatisasi puisi)





Palopo, 11 Desember 2014 
(Ini saya tulis di menit ke lima puluh lima 
sebelum memasuki tanggal dua belas. 
Dan baru sempat memostingnya hari ini)













Sabtu, 06 Desember 2014

(BELUM) BERJUDUL








Pukul 08.00.
Ia baru saja terbangun dengan kepala sedikit berat. Aroma alkohol masih mengendapi napasnya. Selimut menutup setengah tubuhnya, hanya dada bidangnya yang terlihat tanpa busana. Ia masih membayangkan setiap adegan yang dilaluinya bersama Maria semalam. Lekuk tubuh Maria membuatnya tak bisa segera beranjak dari ranjang. Ia masih membayangkan, bagaimana Maria begitu lihai melumat bibirnya, dan lengan-lengannya begitu hangat mendekapnya.
Selamat pagi, Sen. Maaf, Aku pulang terlalu subuh. Terima kasih atas jamuannya semalam.”
Yonsen terperanjat dari lamunannya saat SMS dari Maria mendarat di ponselnya, padahal ia baru saja ingin menghubunginya. Senyum tipis dibibirnya rekah.
“Ah, aku mencintaimu, Maria” ungkapnya sambil mengecup ponselnya. Segera ia mencari nomor kontak Maria dan menghubunginya. Beberapa kali ia menghubungi Maria, tapi tetap tak ada jawaban. Hanya operator telepon yang mengatakan Maria sedang sibuk dan silakan menghubungnya nanti.
“Maria mungkin memang sedang sibuk,” gumamnya. Ia kembali membenamkan tubuhnya di ranjang. Kali ini, seluruh kepalanya ikut sembunyi di bawah selimut. Ia kembali membayangkan wajah Maria yang berbentuk oval. Barisan giginya begitu rapi saat tersenyum dan tatap tajam matanya memacu setiap detakan pada dadanya kembali.
***

Sore itu di sebuah café, Yonsen duduk di salah satu pojok, tepat mengahadap arah barat. Secangkir hot cappuccino ditenggaknya habis. Matahari mulai membenamkan dirinya, ia larut dalam pikirannya sendiri. Entah sejak kapan ia mulai senang menikmati senja. Padahal dulu, ia selalu saja menolak ajakan kekasihnya untuk ke pantai berburu senja.
“Segalanya mungkin akan berubah, seperti kebiasaan-kebiasaan yang tiba-tiba menjadi sangat ingin begitu, setelah dulu sangat tak ingin seperti itu.  Tak ada yang selalu setia dengan keadaan yang sama. Bahkan cinta.” Ia masih larut dalam pikirannya sendiri.
***

Di meja yang berlainan, seorang wanita duduk menghadap ke arahnya. Tatapannya kosong. Sesekali ia terlihat tersenyum tipis, sesekali raut wajahnya terlihat sangat kesal. Kadang-kadang ia mengepalkan jarinya, seakan ingin mendaratkan tinjuannya pada wajah seseorang. Sesekali pula, ia terlihat merenggang-pasrahkan jemarinya. Yonsen menatap wanita itu dengan tatapan heran. Baru kali ini ia melihat wanita dengan ekspresi seperti itu di café ini.
Sudah hampir sepekan ia menghabiskan sorenya di tempat itu, menikmati jatah liburan pasca kecelakaan di kantor. Ia dituduh selingkuh dengan pacar bosnya. Belakangan barulah terkuak, jika informasi yang diterima bosnya salah. Tentu saja setelah beberapa tinjuan berhasil membuat pipinya belur dan hidungnya merembeskan darah. Beruntung karena bosnya adalah sahabatnya sendiri, sebab itu, ia diberi jatah libur yang cukup lama. Tentu saja tanpa potongan gaji.
Ia mengalihkan pandangannya lalu menatap wanita itu. “Wanita aneh,” gumam hatinya. Ia segera memalingkan wajah, saat wanita itu mendapati matanya sedang menjajal wajahnya. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu. Yonsen kembali meluruskan pandangannya, menatap siluet senja.

***

  
#Tentu saja ini belum selesai. Ini (mungkin) akan sedikit panjang, tentu saja.  :') 

GIGI BUNGSU

"Karena setiap peristiwa patut diabadikan. Sebab itu, tulisan ini saya dedikasikan buat Gusi saya tercinta, yang sebentar lagi akan melahirkan Gigi terkahirnya"



     Tak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi, Gusi. Dalam hidupnya, ia ditakdirkan melahirkan anak Gigi sebanyak tiga puluh dua kali. Jika ada manusia normal yang melahirkan tiga puluh dua anak dalam hidupnya, barangkali akan masuk kategori "persalinan terbanyak versi omaygat" di tivi. Beruntung karena hanya Gusi yang ditakdirkan melahirkan anak-anak Gigi yang begitu banyak. 

     Belum lagi, saat Gusi harus mengalami kehilangan anak-anak Giginya ketika manusia berusia sekolah dasar. Menjadi ompong tentu saja akan membuat seorang anak kecil terkadang jadi bahan olokan temannya, tapi sadarkah kita, saat itu ada yang diam-diam sedang menangis. Gusi. Sebab itu, saya selalu menghargai upaya Gusi saya melahirkan anak-anak Giginya dengan cara rutin menyikatnya dua sampai tiga kali sehari. Yah, kecuali jika dalam keadaan darurat.

     Sebulan yang lalu, saya begitu rakus dalam hal melahap dan menghabiskan makanan. Tiap kali ke kampus, saya selalu singgah di depan gerbang untuk menyapa Mas Joko* dan melahap somay yang dijajalkannya. Sepulang kampus, saya tak langsung pulang. Kerap, saya mengajak teman-teman saya untuk nongkron di Lapangan Pancasila* sembari meminum es kelapa muda milik si mba (yang tak saya ketahui namanya). Belum lagi jika sudah di rumah, saat begadang, saya kerap memakan banyak cemilan.

     Beberapa minggu setelahnya, saya merasa ada keganjilan pada mulut saya. Gusi saya serasa kembang kempis, belum lagi pipi saya mulai tembem, lebih tepatnya bengkak. Mungkin sariawan, bukankah lumrah saja jika mulut juga butuh sakit. Saya pun tak menghiraukan hal tersebut. Beberap hari kemudian, keganjilan itu semakin terasa. Gigi saya masih kembang kempis, pipi saya juga semakin bengkak, dan lagi rahang bawah dekat dagu saya juga terasa mulai bengkak. Saya mulai menderita dan berpikir akan belajar menghilangkan trauma saya terhadap dokter waktu itu. Mungkinkah saya sakit gigi? 

     Suatu siang, saat saya sedang menikmati perih yang ditimbulakan oleh gigi saya, saya teringat perkataan dosen saya yang waktu itu memang tengah mengalami sakit gigi. Ia berdalil bahwa, "Saya lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi seperti ini"  Benarkah seperti itu? Mungkin saya akan membenarkan perkataan dosen saya itu, jika saja saya lebih sering sakit gigi dari pada sakit hati. Kenyataannya, saya jarang -bahkan setelah dewasa tak pernah- sakit gigi, namun saya pernah merasakan sakit hati saat ditinggal pergi mantan pacar (dulu). Kedua hal tersebut jelas beda. Meski tetap ada saja sakit yang ditinggalkan dari keduanya.

     Saya kembali ke Gusi, saya. Belakangan saya mengetahui, kalau Gusi saya tengah mengandung anak terakhirnya, Gigi bungsu. Dan tentu saja, ini sangat mencemaskan buat saya. Beberapa artikel yang saya baca menceritakan tentang bagaimana kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja dialami oleh si cabang Gigi. Mulai dari kelahiran tidak normal (miring, tidur, terbalik), sampai pada impaksi -infeksi sekitar mahkota gigi (pericoronitis), sakit kepala, parestesi pada rahang, bahkan gangguan sendi rahang (temporo mandibular disorder)-. Dan tentu saja, hal ini akan sangat membuat saya resah memikirkan proses persalinan si Gusi, saya.

     Saya belum tahu kapan tepatnya Gusi saya akan melahirkan anak barunya, saya belum pernah cek up dan melakukan rongsen panoramik* ke dokter Gigi. Saya khawatir akan difonis macam-macam dan berujung pada persalinan yang tidak normal di ruang oprasi. Saya tak mau persalinan si cabang Gigi dilakukan secara sesar dengan cara oprasi odentektomi*. Saya trauma dokter, fobia jarum suntik, apa lagi ruang oprasi. Saya betul-betul ngeri membayangkannya. Meski sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mencari kekasih seorang dokter gigi, barangkali dengan begitu anak-anak Gusi saya nanti akan tumbuh sehat sampai kakek-nenek. Ah, tapi sudahlah. Saya tetap trauma dengan dokter. Titik!

     Buat teman-teman saya yang super dan bijaksana, bantulah mendoakan proses persalinan si Gigi bungsu, saya (yang barangkali tinggal menghitung hari). Doakalah agar ia lahir normal dan sehat. Saya sudah mencoba memberi asupan gizi terbaik saat ia ngidam; mulai dari memberinya somay, es kelapa, es mataram, sampai cemilan tengah malam. Saya sangat berharap, si bungsu dapat lahir normal dan lengkap. Bukankah kebahagiaan seorang ibu adalah ketika anaknya lahir selamat dan normal? Dan saya yakin, Gusi saya pun akan merasa hal serupa jika si Gigi bungsu lahir normal dan selamat. Sekali lagi, doakalah Gusi, saya. Saya akan sangat senang membesarkan si bungsu jika ia lahir normal. :')

     Salam cinta saya, untuk si cabang Gigi. Lahirlah normal, nak! Saya menantimu :')


*karena gusi juga pernah sakit, melahirkan dan kehilangan. Percayalah!


Ket:
- Mas Joko:  Tukang somay depan kampus saya.
- Lapangan Pancasila: Tempat tongkrongan anak muda Palopo
- Ronsen Panoramik: scraning sederhana yang dilakukan untuk memastikan keadaan gigi bungsu
- Odentektomi: Oprasi gigi bungsu.
- beberapa istilah kedekteran lainnya saya peroleh di goggle.




Palopo, 06 Desember 2014 
(Sedang siaga menanti kelahiran si buah Gigi)


    

Kamis, 04 Desember 2014

KAU MEMBISIKKAN



KAU MEMBISIKKAN





Kau membisikkan keresahan pada daun
yang menjadikan ranting merapuhkan harapan
dan dahan yang menggoyahkan ketabahan
Hingga bunga – bunga menyanyikan nestapa
dan angin meniupkan kesunyian di sela napas kita

Kau menulis kebisuan pada cuaca
yang membiarkan debu menerbangkan luka,
kecemasan, dan jarak yang merancau sepi pada nadi kita
Hingga tak lagi kurasa kau apa – apa

 
Palopo, 04 Desember 2014


Selasa, 02 Desember 2014

Hey!!


Hey!!
Apa kabar?


 
Sudah berapa malam kau insomnia? Apa kau masih mengonsumsi kopi berlebihan. Bukankah sudah kukatakan untuk tak dibuat candu oleh kopi. Ah, kau memang selalu membandel. Tadinya, aku ingin menulis sebait puisi untukmu. Tapi,.. lupakan saja. 

Pukul berapa semalam kau tidur? Mungkinkah kau insomnia karena memikirkanku? Aku hendak menceritakan sesuatu padamu. Jangan menebak apa pun sebelum aku selesai mengatakannya (meski kutahu, kau sudah menebak banyak hal dalam hatimu).

Beberapa malam ini, aku bermimpi banyak hal yang aneh. Apa kau juga bermimpi yang sama? Aku merindukanmu, sepertinya. Sebab itu, aku memimpikan beberapa hal tentangmu belakangan ini. Kau sehatkan? Jika sedang sakit, minumlah obat. Atau, pandangi saja potoku. Barangkali bisa sedikit mengobati sakitmu. Atau, sobek saja potoku. Mungkin kau akan lebih sehat setelahnya.

Kau tahukan, belakangan ini aku disibukkan dengan perkara semester akhirku. Kau tentu tahu, betapa getirnya menghadapi semester akhir; disibukkan dengan skrip"shit", tanda tangan dosen pembimbing, konsultasi, dan... judul skripsiku harus diganti. Kau tahu, menyesakkan sekali jika judul skripsimu yang telah di-acc dua kali dan tiba-tiba menerima pengumuman kalau salah dan harus diubah. Ah, menyebalkan sekali, bukan? Tapi sudahlah. Lupakan saja.

Apa kau sudah makan? Jika belum, makanlah yang banyak. Aku tak mau melihatmu kurus. Bukankah sudah kukatakan, aku tak peduli jika kau harus gendut. Maka, makanlah yang banyak malam ini. Oh, mengenai kabarku. Aku baik-baik saja. Dan akan sangat baik jika saja kau ingin bernyanyi malam ini untukku. Aku tak akan memaksamu tentu saja.

Ayo, mulailah bernyanyi.
Mulailah dari tangga nada yang kau bisa.
Aku menantimu bernyanyi. Bernyanyyilah!



Palopo, 2014




Desember, Bintang, dan Kado




Selamat Malam, 

Saat ini, di kotaku tengah merujuk pada pukul 19.57. Di kotamu bisa saja lebih cepat sejam, atau lebih lama, mungkin juga sama saja. Tak mengapa. Aku hanya ingin mengucapkan, selamat malam.

Apa di kotamu musim dingin? Maksudku, musim penghujan. Ini awal desember, bukan? Seharusnya, intensitas hujan yang menyambangi kotamu dan kotaku sama derasnya. Desember identik dengan hujan, kan? Juga perayaan. Yah, perayaan...

Kau masih ingat ceritaku perihal hujan? Perihal bagaimana pertemuan kita nanti. Uh, membayangkannya sungguh mendebarkan. Apa kau merasa hal serupa? Sudahlah. Kita lupakan saja mengenai khayalanku itu. Bagaimana pun, kita pasti bertemu jika saatnya tiba. Entah saat musim penghujan, atau musim kemarau. Dan tentu saja, kita akan merayakannya dengan makan, ngopi, atau berceritra perihal diri kita masing-masing. Dan kau harus menepati janjimu padaku. 

Aku tak akan membahas perihal apa pun tentangmu malam ini, sebab aku sangat merindukan seseorang, dan tentu saja bukan dirimu (meski aku tetap memikirkanmu). Yah, aku sangat rindu pada si Bintang, si bungsu yang sangat menggemaskan itu. Iya, dia adik bungsuku yang kini masih duduk di bangku SD. Giginya sudah tidak ompong lagi, tapi masih selalu kuhujani ciuman setiap kali berkunjung ke kotamu. Kau memang se-kota dengan ibu dan ayahku, Makassar. 

Kau tahu, adik bungsuku itu sangat menggemaskan (ini sudah kukatakan, tadi). Dan salah satu alasan kenapa aku selalu ingin pulang, yah.. karena dia. Kau tahu, betapa bahagianya menjadi kakak tiap kali si bungsu pulang sekolah dan mencarimu di setiap sudut rumah. Khawatir kalau saja kakaknya telah pulang tanpa berpamitan padanya. Belum lagi, ketika mengajaknya makan bakso atau coto (aku sering mengajaknya makan), dia akan membuat isi dompetmu terkuras. Tapi, bukankah itu membahagiakan? Sampai detik ini, aku masih selalu bertanya-tanya "bagaimana rasanya punya kakak?"

Dulu sekali, sewaktu masih berseragam putih-merah, aku memiliki kakak angkat. Lebih tepatnya, kakaknya sahabatku yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Setiap kali ada yang usil, aku hanya mengadu padanya, dan... tentu saja, aku akan dibela habis-habisan. Dan itu sungguh menyenangkan. Sayangnya itu tak berlangsung lama. Bagaimana rasanya punya kakak lelaki? Bagaimana bahagianya punya kakak perempuan? Tak perlu dijawab, sebab aku sendiri tak pernah merasakannya. 

Hari ini, si bungsu kehilangan satu usianya. Tapi apa yang ia pahami tentang kehilangan, toh, ia masih terlalu kanak untuk memikirkan hal itu. Doaku pagi tadi, semoga ia tetap menggemaskan dan sehat. Aku belum menelponnya pagi ini, mungkin besok. Semoga ia tak meminta kado padaku. Hihihi.. 

Sembilan hari lagi, aku juga akan kehilangan satu angka dari usiaku. Aku tak akan meminta diberi kado seorang kakak pada usia ke duapuluhduatahun. Sebab itu mustahil. Bapak dan ibuku mungkin akan menelpon dan menjanjikan sesuatu. Itu tak penting. Suara sehat mereka setiap paginya sudh lebih dari sebuah kado yang tak ternilai bagiku. Lagi pula, aku sudah memesan beberapa kado dari sahabat-sahabatku di kampus. Aku meminta dibuatkan surat. 

Aku tak pernah mendapatkan surat dari siapa pun. Perkembangan zaman sudah mengabaikan hal-hal romantis dari orang-orang dulu. Surat. Kadang-kadang aku membayangkan wajah ibuku (dulu), saat sedang membaca surat cinta dari bapak. Pasti wajahnya sangat merona. Dan bagaimana kegetiran hati bapak saat menulis surat cinta untuk ibuku... Humm... itu pasti moment yang membuat bapak sampai tak tidur bermalam-malam. Sebab itu, aku meminta diberi surat dari sahabat-sahabatku di kampus. Memaksa? Memang. Aku sering melakukan beberapa tindakan pemaksaan terhadap mereka. Dan, mereka rela-rela saja. Bahkan kadang-kadang selalu tertawa mendengar permintaanku yang aneh-aneh.

Hey, jika saja kau mau menulis sebuah surat di hari ulang tahunku, tentu saja aku akan sangat bahagia. Kadokan surat dan sebait puisi. Ini tak akan mahal, bukan? Tentu saja aku tak memaksamu. :)

Sstt... 
Bapak menelponku, barangkali si bungsu rindu. 
Akan kuucapkan "Selamat Ulang Tahun" padanya. Jika ia telah remaja, mungkin akan kuceritakan padanya, jika tahun-tahun tak pernah berulang. Dan usia kita selalu memendek setiap tahunnya. 


"Selamat ulang tahun, dik. Semoga kau tetap sehat dan naik kelas. Kau mau kado apa?"
"Pulanglah, kak"

Uh, saya juga rindu rumah, dik. 
Bersabarlah...
 


                         Palopo, 02 Desember 2014 
(rindu-rindu mengintip; 
di daun pintu, di balik gorden, 
di bawah kolong ranjang, 
dan sebrang suara bapak)



Template by:
Free Blog Templates