Rabu, 12 Maret 2014

Tidak Untuk Memilih


TIDAK UNTUK MEMILIH
-Liyana Zahirah-

Beberapa orang di dunia ini beranggapan bahwa hidup adalah pilihan, dan kebebasan memilih dalam hidup adalah sesuatu yang mutlak adanya. Namun, bagiku hidup bukanlah pilihan. Aku bahkan tak pernah memilih untuk hidup dan terlakhir di dunia ini. Sekiranya disuruh memilih, aku pasti sudah berada di surga saat ini, tak perlu ada dan terpilih untuk hidup. Sayangnya, takdir berkata lain. Hidup telah memilihku untuk ada, semestinya aku merasa beruntung dan bersyukur. Diantara sekian banyaknya sel ovum yang ada, hanya aku yang terlakhir dikeluarga ini. Namun entah mengapa Aku merasa begitu sial karena menjadi orang yang beruntung tersebut.
Aku benci hidup, entahlah mengapa. Bagiku hidup penuh tekanan, tak ada kebebasan atau pun pilihan. Bahkan diusiaku yang sudah menginjak kepala 3 pun aku tak pernah memilih. Aku hanya selalu terpilih untuk sesuatu yang tak pernah menjadi pilihanku. Harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi, bahkan seorang pacar yang begitu cantik telah memilihku. Lagi-lagi, mestinya aku bersyukur. Apa lagi yang kurang dalam hidupku saat ini. Uang, jabatan, calon pendamping hidup sudah kumiliki. Namun, entah mengapa Aku tak pernah merasa bahagia dengan semua itu.
***
Hampir setiap hari, rutinitas kantor merampas hariku. Meeting, dan meeting adalah kata yang begitu aku benci, namun entah mengapa kata itu begitu senang bersamaku, dan Aku tak punya pilihan lain selain harus ikut tiapkali ada meeting. Aku tak pernah merasakan kebebasan sama sekali, bahkan untuk memilihpun Aku tak pernah bisa. Sebelum aku sempat memilih, pilihan telah ada dan mau tak mau Aku harus rela untuk terpilih.
Sama seperti pagi ini. Pukul 06 : 45, Aku sudah berada di kantor. Lebih cepat setengah jam dibandingkan hari sebelumnya. Tak ada pilihan lain, kalau bukan Vita yang menelponku tadi malam, mungkin pagi ini aku masih mengapung bersama mimpi-mimpiku.
“Sayang, besok pagi ini kita sarapan bareng yah, pokoknya Aku tunggu kamu di restoran biasa pukul tujuh. Ada hal penting yang mau kubicarakan. Oke, sayang. Night. Tiett .. tiett.. tiett “Telpon terputus”.
Dia memang selalu melakukan hal itu, selalu seenaknya menelpon dan mematikan telpon. Bahkan belum sempat Aku menyetujuinya, ia sudah lebih dulu mematikan telepon. Dasar wanita, selalu ingin dimengerti dan tak pernah mau mengerti. “umpatku dalam hati”. Seandainya dia bukan anak teman ayahku yang kini merangkap jadi pacarku, pasti sudah kutinggalkan dia dari dulu. Lagi-lagi Aku tak punya pilihan selain menuruti keinginannya.
***
Seperti biasanya, Shinta sudah lebih dulu berada di kantor. Menyambutku dengan senyuman hangatnya yang begitu santun. Dia memang ramah, dan selalu on time. Makanya aku tak pernah berniat menggantinya sebagai sekertarisku, yah kecuali kalau dia sendiri yang memilih untuk berhenti dari pekerjaannya.
Tok.. tok .. tok .. “terdengar suara jeritan pintu ..
“Ya. masuk”. Aku yakin yang mengetuk pintu adalah Shinta, sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi mengingatkan jadwalku. Kalaupun bukan Shinta mungkin Pak Maman, Office Boy yang setiap paginya mengantar kopi ke ruanganku.
“Ya, Masuk”. Jawabku singkat. Beberapa menit kemudian sosok Shinta pun muncul di balik pintu.
“Maaf, Pak’, sekadar mengingatkan kalau sebentar pukul 08 : 30 ada meeting dengan klient kita dari Jepang, siangnya makan siang dengan pak Hartono, dan malamnya ada dinner dengan Pak Jaya“. Seperti yang kukatakan di awal, Dia kembali mengingatkan rutinitasku hari ini, sembari memberikan setumpuk dokumen penting yang harus kutandatangani.
Aku hanya mengangguk mendengarnya, sementara tanganku sibuk menandatangani dokumen-dokumen tersebut. Setelah semuanya selesai kutandatangani, kuserahkan kembali pada Shinta.
“Ini dokumennya, tolong kamu cek kembali dan setelah itu serahkan ke kepala bagiannya masing-masing. Jangan lupa persiapkan semua materi untuk meeting kita sebentar, dan  kalau ada yang mencari saya bilang saja saya sedang keluar. Saya mau keluar sebentar untuk sarapan.
 “Iya, Pak’," ucapnya padaku dan kemudian pamit untuk kembali keruangannya. Aku pun bergegas meninggalkan kantor untuk menemui Vita.
***
Desiran angin membelai lembut permukaan kulitku. Menampar kesejukan yang begitu asing bagiku. Aku bahkan lupa kapan terakhir menikmati kesejukan pagi. Tiap hari hanya menghabiskan waktu di kantor. Untung saja hari ini meetingnya agak sedikit siang, jadi bisa menemani Vita untuk sarapan dulu.
Kulirik arloji yang menggantung megah di tangan kiriku. Pukul 07 : 45 Aku sudah hampir setengah jam mengitari kota ini, menikmati pesona pagi yang begitu asri. Sudah berkali-kali kucoba menghubungi Vita namun tak ada jawaban. Aku yakin, saat ini Vita pasti masih berada di alam bawa sadarnya. Sekali lagi dia selalu seenaknya, dasar wanita. “Gerutuhku dalam hati”.
Kuputuskkan untuk kembali ke kantor, sebentar lagi ada meeting penting yang harus kuikuti. Lagi pula Aku yakin, hal yang dikatakan Vita penting semalam paling, kalau bukan model tas baru yang dilihatnya di mall, sepatu baru atau aksesoris wanita yang harganya lumayan fantastik. Mestinya tadi Aku  memilih untuk mengapung saja bersama mimpi-mimpiku. Sekali lagi aku tak punya pilihan.
***
Malam ini hujan mengucur sangat deras, kilat dan petir nampak saling bersahutan. Rasanya aku ingin cepat sampai di rumah, merebahkan diri dan tertidur pulas hingga tak kurasakan kekecewaan yang kutemui pagi tadi. Rasa kecewa atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Vita terhadapku. Sang, makhluk tanpa pilihan ini. Bukan karena dia tak menepati janjinya tadi pagi, melainkan karena aku memorgokinya sedang bermesraan dengan seorang pria di sebuah restoran saat perjalanan menuju ke kantor tadi pagi.
Aku tak sengaja memergokinya saat aku hendak membeli minuman kaleng. Dia nampak begitu menikmati kebersamaannya dengan pria itu. Tanpa Vita sadari, Aku pelan-pelan menyelinap disela kemesraan mereka. Ada percakapan kecil yang begitu merobek hatiku yang terjadi diantara mereka.
“Bagaimana kalau Radit tahu kita sedang bermesraan di sini, sayang”.
“Tenanglah sayang dia pasti saat ini sedang berada di restoran tempatku biasa makan dengannya, dia pasti menungguku sampai aku datang. Diakan begitu polos, begitu menurut padaku. Mungkin bukan polos sih lebih tepatnya Bodoh !! Hehehe..
Dengan mantap Vita mengatakan bahwa Aku bodoh. Begitukah Aku dimatanya selama ini. Kebaikan ku padanya, bentuk perhatianku dengan menuruti segala keinginannya justru malah dianggap sebuah bentu kebodohan. Aku tak habis fikir apa yang salah dengan diriku. Aku betul-betul tidak menyangka selama ini dia hanya memanfaatkanku saja. Hal ini betul-betul membuatku harus memilih. Memilih untuk tidak memilih bersamannya lagi.
“Vita, kita putus!”, Tegasku padanya yang tiba-tiba mengagetkan mereka.
Aku kemudian pergi dan meninggalkan mereka. Entah apa yang mereka lakukan seiring dengan menghilangnya bayanganku dari hadapan mereka. Yang kuingat, Vita hanya memanggil namaku, mungkin ia hendak menjelaskan semuanya, hanya saja aku enggan untuk mendengarkan penjelasannya. Percakapan mereka tadi sudah cukup membuktikan, betapa selama ini Vita tak pernah tulus ada untukku.
***
Pukul 01 : 23 Pm. Aroma alkohol yang begitu khas menyambar indra penciumanku. Kubuka perlahan mataku, rasanya terlalu sulit untuk menggerakkan seluruh badanku. Perlahan mataku mulai menjajaki isi dari ruangan ini. Semuanya bercorakan warna putih, begitu steril dan tenang. Apa aku sudah berada di surga ?. Mungkinkan Tuhan telah memilihku untuk kembali menghuni surgaNya.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar" Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di sampingku dan membuyarkan segala lamunanku tentang surga.
Aku hanya menatapnya lekat. Dalam hatiku menyimpan sejuta tanya tentang wanita ini. Siapa dia ?. Mengapa dia ada disini ?. Ada apa sebenarnya ?. Mengapa aku ada disini ?. Wanita tersebut seakan tahu apa yang sedang ku pikirkan.
“Oh iyah, perkenalkan saya Ifha” Sambil tersenyum ia memperkenalkan dirinya, kemudian menjelaskan kronologi hingga Aku bisa berada ditempat ini.
"Tadi,  ketika saya melintas saat hendak membeli gorengan di tepi jalan, tanpa sengaja saya mendengar suara benturan yang begitu keras. Saya  menemukan kamu sudah pingsan di dalam mobil, sementara mobil yang kamu kendarai menabrak salah satu pohon besar di tepi jalan. Akhirnya masyarakat yang ada disekitar tempat kejadian tersebut membawamu ke  klinik ini. Syukurlah lukamu tidak terlalu parah, hanya ada sedikit benturan kecil dikepalamu. Kata dokter mungkin besok kamu sudah bisa pulang." Jelasnya panjang lebar.
Namun, Aku masih belum mengerti mengapa sampai akhirnya dia yang menemaniku di klinik ini. Apa sudah tidak ada warga lain yang mau menjagaku di sini. Diakan wanita. Mungkin karena dia yang pertama kali menemukanku, makanya dia yang merasa bertanggung jawab untuk menemaniku. Entahlah. 
Aku kembali memejamkan mataku, sementara wanita tersebut larut dengan bacaannya di kursi samping tempatku berbaring. Kali ini bukan kenikmatan yang memilihku, tapi musibahlah yang memilihku. Setidaknya aku tak perlu meeting besok pagi sampai beberapa hari kedepan dengan alasan sakit.
***
Pukul 06 : 00. Matahari nampaknya masih kantuk, namun mau tidak mau ia harus tetap menjalankan tugasnya, menyinari bumi. Mungkin sudah menjadi pilihan sang mentari menyinari bumi, mungkin juga ia tak punya pilihan lain. Entahlah. Yang pasti hari ini Aku memilih untuk masuk kantor setelah hampir seminggu di rumah. Setelah kejadian yang menimpahku beberapa hari yang lalu, Aku belajar bahwa hidup ini bukan tentang memilih atau terpilih, tetapi bagaiman kita ikhlas untuk menjalaninya.
 Tidak banyak yang berubah, kecuali Shinta. Beberapa hari yang lalu ia memilih mengundurkan diri sebagai sekertaris pribadiku. Alasannya karena ia mau fokus dengan kandungannya. Maklumlah, ini kali pertamanya ia hamil setelah hampir 2 tahun menikah. Akupun memaklumi hal itu.
“Tok .. tokk .. tokk ,.." Terdengar suara jeritan pintu ..
Aku yakin kali ini yang mengetuk pintu bukan Shinta lagi, mungkin pak Maman, atau mungkin juga sekertaris baruku. Entahlah.
Ya masuk” Balasku singkat ..
Ada desiran aneh yang kurasa saat pintu ruanganku terbuka. Perlahan aku merasa detak jantungku berdenyut lebih cepat, perasaan yang sama ketika Aku berada di klinik bebarapa hari yang lalu. Wanita itu !. Aku begitu mengenalnya. Tatapannya yang ramah, senyumannya yang khas, dan rasa tanggung jawabnya yang tinggi.
Aku mematung bersama segudang tanya yang kian merayu. Apakah kali ini Aku terpilih. Atau haruskah Aku memilih. Entahlah. Namun, jika kali ini Tuhan mengizinkanku untuk memilih takdirku sendiri, Aku memilih untuk memilihnya sebagai sekertaris pribadi sepanjang hayatku.  
***

(El -- Z)
Phalopo, Selasa 12 Feb 2012


Template by:
Free Blog Templates