Rabu, 19 Maret 2014

Sepotong Senja di Fort Roterdam


Sepotong Senja di Fort Roterdam
Oleh : Liyana Zahirah

Kita larut dalam imaji masing-masing, sementara matahari semakin melambai seolah membisikkan perpisahan panjang akan terjadi. Sama seperti yang kau lakukan lima tahun silam padaku. Hanya ada desiran lembut yang tak asing bagiku. Menjalar, menyeruput hati dalam beku. Mestinya banyak hal yang dapat kita bicarakan, hanya saja ini terlalu tiba-tiba.
“Maaf” Katamu tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Untuk apa ?”
“Untuk semuanya. Bukankah itu terlalu menyakitkan untukmu.”
“Sudah kulupakan”
Aku hanya dapat menjawabnya singkat tanpa berani menatap matamu. Aku mungkin pernah terluka untuk itu. Namun, kehadiranmu dihadapanku kali ini seperti membuatku lupa akan luka itu. Apakah aku telah memaafkanmu, atau aku kembali pada keadaan yang sama. Jatuh hati kembali pada seseorang yang sudah memporak-porandakan isi hatiku. Entahlah!
“Aku mencarimu beberapa bulan ini. Apa kau sudah menikah ?” Tanyamu yang seketika membuat dadaku berdegup. Rasanya terlalu gagu untuk menceritakan semuanya padamu.
“Belum. Kamu sendiri sudah menikah ?”
“Aku belum menikah. Apa kau sudah punya kekasih ?”
Pertanyaan-pertanyaanmu kian menjuham hatiku. Lidahku keluh, ada rasa yang kini mulai berusaha kubendung. Entah, namun keadaan ini betul-betul membuatku gugup. Aku hanya dapat bisu untuk pertanyaanmu kali ini, sementara matahari perlahan mulai membenamkan dirinya. Kita larut dalam imaji masing-masing. Dalam dimensi waktu yang berbeda, bisa jadi juga sama. Masa lima tahun silam, sebelum akhirnya kau betul-betul membuatku merangkak sendiri dalam gelap. Fort Roterdam yang setiap sorenya kupenuhi catatan-catatan kecil, hari ini bisu dalam pertemuan kita yang tiba-tiba.
“Sudahlah, ini hanya masa lalu! Namun, desiran itu ? Harus kumaknai bagaimana.”

***
Seperti biasa, setiap sorenya aku menyelipkan waktuku untuk bercengkraman dengan senja. Semenjak kepindahanku ke kota ini, Fort Roterdam menjadi tempat kebanggaanku. Selain karena tempat ini bersejarah serta padat pengunjung, tempat ini juga merupakan tempat strategis untuk mengantarkan matahari keperaduaannya. Aku biasa menghabiskan berjam-jam di tempat ini. Selain untuk melihat matahari pamit, aku juga kerap kali bercengkraman dengan penahku di sini. Inspirasiku kebanyakan lahir di tempat ini, bahkan keterpurukanku juga sirna di tempat ini. Namun, sore ini nampak berbeda. Karena kehadiranmu barangkali.
“Kau masih ingat awal pertemuan kita ?” Tanyamu kembali dengan senyum tipis dibibirmu. Kau berusaha mengembalikan memori yang sudah aus dalam otakku.
“Aku ingat. Aku bahkan ingat kapan perjumpaan terakhir kita”  Jawabku datar. Dikalimat terakhir yang kuucapkan, aku merasa ada bara yang perlahan menjalari hatiku. Kejadian-kejadian lima tahun silam kembali teriang dalam lamunanku. Kau bisu, sementara dadaku kian sesak. Mungkin aku belum betul-betul memaafkanmu. Sementara matahari tinggal seperepat.
“Apa sesakit itu ?” Tanyamu.
Aku kembali bisu untuk pertanyaanmu itu. Dadaku kian sesak, lidahku kaku, dan pertanyaanmu kali ini hanya mampu menyambar telingaku saja.
“Aku mencarimu. Semenjak kepindahanmu yang tiba-tiba, aku merasa terpuruk. Aku dihujani rasa bersalah. Maafkan aku” Ucapmu tiba-tiba. Kau berusaha meyakinkanku atas rasa bersalah yang membanjiri hatimu. Kau hadapkan wajahku sejurus dengan wajahmu. Aku tetap tak berani menatap matamu. Ada hal yang berusaha kubendung. Aku yakin kau menyaksikan itu. Aku terus menunduk, sementara matahari tinggal seperempat.
“Haruskah kuceritakan padamu tentang lukaku. Haruskah aku bercerita betapa merindukanmu membuat hariku sesak. Haruskah kau tahu, aku telah dua kali menolak pinangan pria yang dipilihkan kedua orangtuaku hanya karena bayangmu. Bahkan, Ayahku harus dirawat inap beberapa hari karena sifat pembangkangku saat itu. Haruskah kau tahu semua itu !” Jerit hatiku. Semua terbendung, namun air mataku tumpah ruah dalam benangan pelukmu. Mulutku bungkam. Aku mungkin belum betul-betul memaafkanmu, namun tak juga betul-betul membencimu. Aku terisak dalam pelukmu. Begitu erat dan hangat.
“Maafkan aku meninggalkanmu tiba-tiba. Saat itu, ayahku sakit keras, sementara ibu dan adikku membutuhkanku sebagai penyokong untuk tetap tegar menghadapi cobaan itu. Aku pun harus bekerja untuk membiayai pengobatan Ayah.”
“Kenapa tak pamit ?” Tanyaku dengan nada haru. Sementara kau hanya diam dan memelukku kian erat.
 “Aku mungkin takkan sesakit sekarang seandainya kau menceritakan semuanya padaku waktu itu. Kau tahu, aku mencarimu di setiap sudut kampus. Bahkan Ahmadi, teman se-kosmu pun tak tahu keberadaanmu. Kau tahu, aku mengkhawatirkamu.” Air mataku kian mengucur dalam pelukmu.
“Maafkan aku karena tak pamit sebelumnya. Setelah kepergiaan Ayahku, aku kembali dan mencarimu. Aku lupa bahwa kau mahasiswa teladan, sudah pasti telah lulus saat itu. Aku mencarimu ke rumah, katanya kau telah pindah ke Makassar menyusul orangtuamu. Aku pun mengejar ketertinggalanku. Menyelasaikan kuliahku sembari bekerja. Sampai suatu hari aku tak sengaja menemukan namamu di deretan fiksi disebuah tokoh buku yang dulu sering kita kunjungi. Kau tahu, aku sangat bangga padamu ” Katamu sembari merangkulku semakin erat.
“Kau betul-betul telah menjadi penulis seperti impianmu. Sementara aku masih harus berjuang menyelesaikan strata satuku. Kau memang hebat” Ujarmu dengan penuh semangat.
“Lantas kenapa sekarang kau di sini ?” Tanyaku yang kini tak lagi berada dalam rangkulanmu.
“Aku mencari kepingan hatiku yang hilang. Dan orang itu kamu. Aku mencarimu. Apakah kita masih bisa menyulam kembali mimpi-mimpi kita dulu ? Membangun keluarga kecil yang harmonis.
Dengan senyum kau berusaha memutar memoriku tentang masa-masa bahagia kita dulu. Aku larut. Ada haru yang berusaha kubendung. Bahagia berbaur sedih. Apa yang harus kukatakan padamu saat ini.
Mengapa baru sekarang kau datang ? Haruskah kukatakan, bahwa lusa, aku akan menikah dengan seseorang yang beberapa bulan ini telah menemaniku melewati sunyi yang kau ciptakan. Haruskah kubatalkan pernikahan ini (lagi) karenamu ? Aku tak tahu! Matahari telah tenggelam sempurna, namun perasaanku, tak tahu harus kubenamkan di mana.


Makassar, 24 Januari 2014

Template by:
Free Blog Templates