Rabu, 26 Maret 2014

HATI


HATI
Oleh : Liyana Zahirah
 “Ayolah Hati, berdamailah dengan malam. Buang ketakutanmu. Ini hanya ilusimu saja. Ayolah ! Berani akan mengalahkan takutmu. Lawan, ayo lawan. Seandainya dia di sini, pasti aku takkan segemetar ini menghadapi malam” Batinku lirih
Ah, kenapa aku harus memikirkannya. Dia tak di sini. Bukankah dia telah bersama yang lain. Aku harus kuat. Bukankah aku seorang superwomen ! Tak butuh dia mendampingiku. Tak perlu!
Tapi, bagaimana pun, mestinya dia di sini. Di sampingku; mengenggam erat jemariku, membantuku menggertak ilusiku, menyeka air mataku. Mestinya dia di sini, turut menyumbangkan keringatnya untukku. Mestinya malam ini dia turut dalam suka citaku. Mestinya …
Sedikit lagi, bertahanlah Hati. Tarik panjang napasmu”
“Ayolah, kau wanita hebat tanpa lelaki yang harus mendampingimu malam ini” Batinku lirih. Kuseka air mataku, lalu kembali berjuang.
Aku tak kuat lagi, sungguh! Aku tak tahan. Rasanya napasku mulai tak panjang lagi. aku merasa, hari ini takkan panjang untukku. Bahkan malam ini, akan segera menghapusku dari putaran waktu. Aku tak tahan lagi. Sungguh !
Aku tak kuat lagi, sungguh. Maafkan aku. Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku, Ibu. harusnya kalian tertidur lelap mala mini. Harusnya kekhawatiran tak menjadi kawan untuk kalian malam ini. Maafkan aku .. Maafkan aku ..
Sedikit lagi..
Tarik napasmu yang kuat Hati. Ayo, lebih kuat lagi. Dia mulai terlihat. Ayo, lebih kuat lagi !
Aaarghh ..
Ini sakit sekali, sungguh ! Tak ada yang dapat menandingi rasa sakitnya. Aku lelah. Sangat lelah. Maafkan aku Ayah, Ibu.

Ngeaakkkk …
“Anakmu sudah lahir Hati. Ia cantik, seperti kau. Pipinya merah, hidungnya juga mancung, persis sepertimu, Hati” Ucap Idha, sahabatku sewaktu SMA dulu, yang kini merangkap sebagai bidan pribadiku.
Aku melirik. Kulihat samar anakku dalam gendongan Idha. Ia cantik, bahkan lebih cantik dariku. Pipinya merah, bibirnya mungil, hidungnya pun mancung. Tapi, matanya. Kenapa harus menyerupai lelaki jalang itu. Ah, sial !!
“Hati, kau baik-baik sajakan ?” Tanya Idha lirih. Aku hanya diam, dan tersenyum dengan sisa-sisa energy yang kumiliki.
“Selamat, kau telah menjadi seorang ibu. Kau tak ingin menggendong buah hatimu ?”
Hati … !!!!
***
Aku lelah sekali. Sangat lelah. Ternyata, tak mudah untuk menjadi seorang Ibu. Aku menyesal telah sangat durhaka kepadamu, Ibu. Aku menyesal menjatuhkan pilihanku padanya, lelaki jalang itu. Aku menyesal tak mendegarkan nasihamu (dulu). Maafkan aku, Ibu. Maafkan anakmu karena sudah sangat durhaka.
Rasanya, napasku mulai tak karuan. Rasanya, aku ingin menutup mataku sejenak. Aku mulai lelah. Anakku, jadilah seorang wanita solehah nantinya, jangan seperti ibumu ini. Dengarkan semua petuah nenekmu, Nak’. Ibu barangkali tak punya banyak waktu untuk mengurusimu. Maafkan ibu, Nak’. Tak bisa menjadi yang terbaik untukmu.
Perlahan, semua mengabur. Ayah, Ibu, Khumairah kecilku… !!
Hati … Hati … Bangunlah. Ayo bangun, Nak’ .. !!!
                                                                          ***

Kita I


KITA
Liyana Zahirah

Kita ;
Dua keeping hati menyatu, lalu retak.
Dua ideologi menyatu, lalu ambruk.
Dua jalan menyatu, lalu berpisah.

Kita ;
Senyum seirama,
Mekar bersama,
Lalu gugur, layu sebab ego.

Tawa seirama,
Rekah bersama,
Lalu redup, roboh sebab ego.

Kita ;
Dua kutub yang menyatu (dulu),

Palopo, 12 Maret 2014

Template by:
Free Blog Templates