Kamis, 27 Maret 2014

Lelaki Penunggu Warung Kopi



Lelaki Penunggu Warung Kopi
Oleh : Liyana Zahirah


Di seberang sana, hanya beberapa meter dari tempatku duduk. Aku menapatnya, memperhatikannya secara diam-diam. Sesekali, ia tersenyum simpul, entah apa yang menggelitik hatinya saat tersenyum. Lalu kemudian, ia kembali larut dalam bacaannya. Di balik kaca mata minus yang hampir mencapai angka dua ini,  Aku masih melihatnya begitu jelas. Gurat wajah yang penuh ekspresi; sesekali ia mengerutkan dahi, memangku dagu, tak jarang pula terlihat gusar dan bergeser beberapa centi dari tempatnya duduk.
Tik .. Tok .. Tik .. Tok ..
Pukul 09 : 00, tiga puluh menit lima belas detik. Tanpa patahan kata, di balik bacaan fiksiku, Aku terus memperhatikanya, melirik dari balik novel tebal karya seorang penulis favoritku. Aku seolah-olah larut dalam bacaanku, padahal sebenarnya aku tak berkonsentrasi untuk membaca.
Ini kali ketiganya pertemuanku dengannya, di Warkop yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku. Berfasilitaskan wi-fi serta interior yang didesain dengan sangat indah. Meja-mejanya terbuat dari jati yang dirancang dengan sentuhan klasik, sementara kursinya terbuat dari belahan-belahan bambu, sangat padu dengan lampu remang yang menggantung berbentuk bakul nasi anyaman bambu. Atapnya terbuat dari daun kelapa yang dianyam, selain itu, musik yang diputar pun bernuansa melow, harga menu yang dijajalkan juga beragam, dan pas untuk semua jenis kantong.
Selain itu, ada pula tempat untuk lesehan, bergelarkan tikar anyaman bambu, serta dinding-dinding anyaman yang tingginya hanya beberapa centi saja. Tempat ini sangat pas buat mereka yang sedang memadu kasih, atau merapikan hati yang patah sebab cinta. Aku memilih untuk lesehan, sebab dari sini aku dapat memperhatikannya dengan sangat dekat; saat jemarinya bermain di atas keyboard laptop berukuran sepuluh inci, saat ia mengacak-ngacak rambut, saat ia menyeruput kopi susu pesananya. Semuanya nampak begitu dekat dari sini, namun, Aku tetap tak terlihat olehnya.   

Tik .. Tok ..
Enam puluh menit, dua puluh detik. Aku melihatnya mulai gusar. Ia mulai merapikan tumpukan buku di atas meja, lalu mematikan laptop dan mulai berjalan menuju kasir. Tiap langkahnya seakan ingin kutahan agar berlama-lama di tempat ini. Tempat di mana aku dapat melihatnya lebih nyata.
Enam puluh menit, tiga puluh detik. Ia pun kembali, mengambil tas dan beberapa tumpuk buku di atas meja. Setelah memastika semua barang-barangnya lengkap, Ia pun beranjak pergi, melangkahkan kaki tanpa ragu. Aku hanya terdiam, memerhatikan tiap langkahnya, sampai tubuhnya lenyap dari hadapanku.
Aku memutuskan mengikuti jejaknya, pulang. Saat hendak ke kasir untuk membayar, seorang pria dengan tinggi yang hampir mencapai 165cm menghampiriku, berseragam rapi bertuliskan Warkop Bambu di celemek yang ia kenakan. Ia memberiku secarik kertas tanpa amplop. Seperti pesan-pesan misterius yang juga kuterima belakangan hari ini.
“Pulanglah! Ini sudah larut. Angin malam tak baik untukmu”
Pesan yang sama. Tanpa inisial -- misterius.
***
Malam kembali menyapu langit. Seperti biasa, aku kembali dengan tas ransel kesayanganku. Berisi beberapa novel terbaru, hasil perburuan di tokoh buku langgananku sore tadi. Hot capuccino dengan paduan pisang goreng nugget keju, dua menu andalan inilah yang membuatku betah menghabiskan berjam-jam di tempat ini. Satu lagi alasan kebetahanku, dia, lelaki kurus bermata elang.
Tiga puluh menit, lima belas detik. Hot cappuccino pesananku mulai dingin, begitu pula pisang goreng nugget mulai raib satu per satu. Aku bahkan sudah berada di pertengahan novel dengan ketebalan 300 halaman, namun, ia belum nampak. Sosok  yang begitu kurindukan di setiap malamnya.
“Barangkali ia tak datang” Hatiku lirih. Ada gurat kesedihan menggenanginya.
Enam puluh menit, tiga puluh detik, ia masih belum datang. Aku mulai lelah menantinya. Mataku kian redup, sementara pisang goreng nugget keju pesananku tinggal sepotong. Kuputuskan menyelesaikan membaca ending bacaan novel yang memenuhi wajahku, setelah itu  baru aku akan pulang. Aku memang sedikit rakus dalam hal membaca, apa lagi jika bacaan fiksi, Aku bahkan dapat melahap sebuah bacaan fiksi hanya dalam waktu semalam.
Seperti malam kemarin, saat hendak menuju kasir, seseorang kembali menghampiriku dan memberikan secarik kertas tanpa amlop, namun, kali ini sedikit berbeda. Setangkai mawar merah turut berkolaborasi di dalamnya, menambah kemisteriusan pengirimnya.
“Aku melihat ada gurat kelitihan di wajahmu malam ini. Mawar ini mungkin bisa jadi sedikit penawar keletihanmu. Pulanglah ! Istirahat yang cukup, aku tak ingin kau sakit”
Begitulah isi surat yang kuterima malam ini. Malam-malam berikutnya pun kulalui dengan menyisahkan bercak misteri. Surat-surat tak berkaleng mendarat di hadapanku setiap kali saat hendak menuju kasir untuk membayar. Aku tak pernah tahu siapa pengirimnya, bahkan pelayan yang mengantar surat pun bungkam saat kutanya.
“Tadi seseorang menitipkan surat ini untuk mbak” Kata seorang pelayan warkop yang sudah begitu familiar di mataku.
“Dari siapa mas ?” Tanyaku dibelit rasa penasaran.
“Gak tahu mbak’, dia hanya menitipkan ini saja tanpa memberitahukan namanya”
“Ah, dasar manusia aneh. Kalau fans mestinya tak perlu seperti ini. Tinggal langsung datang saja kemudian minta tandatangan atau minta nomor hp !” Gerutuku.
Aku mulai merasa terusik dengan surat-surat tak berkaleng yang tiap malamnya menunggu untuk kubaca, sementara pria pemilik senyum indah yang kutaksir pun tak pernah lagi datang ke warkop tempatku mejeng.
Terakhir kali, aku melihtanya masuk warkop saat aku hendak pulang. Seandainya waktu itu tidak ada jadwal kuliah pagi, sudah pasti kuurungkan niatku pulang dan kembali mencuri-curi pandang padanya. Sayangnya, malam itu kantuk juga ikut menyergap paksa agar aku pulang.
“Ah, seandainya aku tahu itu pertemuan terkhirku dengannya, aku tidak akan pulang hanya untuk memenuhi dahaga mataku malam itu” Sesalku.
***
Surat tak berkaleng yang bertubi-tubi menimpalku betul-betul mulai mengusik kenyamanan hidupku. Ini seperti teror yang berkepanjangan di setiap malamnya. Bahkan semakin menjadi-jadi. Jika awalnya aku hanya mendapatkannya saat hendak pulang, kali ini bahkan saat aku mulai datang. Untaian kata-kata puitis serta perhatian yang berlebih tertulis jelas dalam surat-suratnya. Yang lebih anehnya, pengirim surat-surat ini sepertinya mengetahui rutinitas harianku.
Pernah suatu ketika, saat aku mulai menjajaki alur novel yang baru kubeli, tiba-tiba pelayan warkop datang dan memberiku secarik kertas.
“Bagaimana Persentasemu hari ini? Lancarkan?, semoga saja indeks prestasimu tetap menjulang, Kiran.”
“Persentasi ? Kiran ? Bagaimana mungkin ia tahu semua itu. Namaku, bahkan Persentase tugas yang kuhadapi siang tadi. Ah, ini mulai rancu. Aku mulai muak! Privasiku mulai terusik…”
Aku pun memutuskan untuk tidak lagi mendatangi warkop itu. Aku memilih pindah tongkrongan ketimbang harus terusik dengan surat-surat itu. Setiap malam, aku hanya di rumah, menghabiskan malam dengan bacaan-bacaan fiksi serta tumpukan tugas kampus, tanpa surat-surat sok romantis, tentunya.
Sampai pada suatu hari, saat malam mulai menggulung, menyapu langit dengan pekat gulitanya, aku melihat seorang pria melintas di halaman rumahku. Pria kurus, bertinggi sedang dengan ransel menempel di punggunya. Sosok yang begitu akrab dan sangat kurindukan. Pria yang diam-diam telah meninggalkan gurat rasa tak karuan di hatiku.
Aku melihatnya berjalan, menuju warkop. Yah, warkop tempat pertemuan awalku dengannya. Aku memerhatikan tiap langkahnya saat memasuki warkop, hingga kuputuskan untuk mengikuti jejaknya. Aku bahkan lupa tentang surat tanpa kaleng yang membuatku malas ke warkop itu.
***
Lantunan lagu Afgan – Jodoh Pasti Bertemu mengalun, memenuhi ruangan bercorak klasik. Aku mulai menjajaki setiap sudut warkop hanya untuk mencari pria itu. Si mata elang. Begitulah juluknku padanya. Aku mulai menyerah, tak ada tanda-tanda bahwa ia ada di warkop, pasalnya saat ini warkop sedang sepi pengujung.
Saat hendak melangkah pulang, tiba-tiba saja seorang pelayan warkop pun menghampiriku. Sosok yang begitu familiar, pemberi surat tak berkaleng.
“Mbak’ cari siapa ?” Tanyanya heran.
“mm .. mm ..  anu mas .. Tadi, seorang pria masuk di sini, tapi kok sekarang tidak ada yah?” Jawabku gugup dengan dipenuhi rasa ragu dan malu.
“Pria ? Sedari tadi tidak ada yang masuk Mbak’, pelanggan trakhir yang masuk yah Mbak’. Kalau sebelum Mbak’, yang bapak di pojok sana” Ia pun menunjuk seorang pria paruh baya yang sedang asik bercengkraman dengan laptopnya.
Aku pun mulai putus asa. Barangkali yang lewat tadi hanya ilusiku saja, sebab rindu saja! Aku pun memutuskan untuk pulang.
“Mbak!” Ucap pelayan tadi saat aku mulai melangkah pulang.
“Jangan-jangan selama ini Mbak bertemu Mas Seno.” Timpalnya lagi.
“Mas Seno ? Siapa dia ?” Tanyaku penuh penasaran.
“Mas Seno itu anak dari pemilik warkop ini, yang tiga bulan lalu mengalami kecelakaan di sekitar jalan menuju warkop.”

***
Bruk ,,,
Dadaku mulai sesak, mendengar cerita dari pelayan warkop yang sudah mendedikasikan dirinya bekerja selama hampir dua tahun. Pelayan sekaligus sahabat dari Seno, anak pemilik warkop yang tiga bulan lalu meninggal karena menyelamatkanku saat hendak menyebrang menuju warkop.
Aku ingat, tiga bulan yang lalu aku mengalami peristiwa tragis saat hendak menuju warkop. Karena terlalu girang mendapat hadiah novel dari seorang teman, aku pun tak memerhatikan jalan saat hendak menyebrang, tiba-tiba mobil sebuah truk pengangkut sampah melintas dengan sangat kencang. Aku terpaku, seluruh sendiku tertahan saat mobil sudah berada beberapa centi dariku, siap untuk menabrak. Lalu, Seno datang, mendorong tubuhku tanpa memerdulikan dirinya. Ia terseret ke kolong mobil, sementara aku pingsan (selamat).
Ah, bodohnya, aku tak tahu kalau yang menolongku itu Seno, pria yang tiap malamnya kutemui di warung kopi ini. Pria yang diam-diam kurindukan kehadirannya di sampingku. Pria yang diam-diam juga menyelipkan rindu yang sama tanpa pernah mengungkapkannya. tanpa pernah kutahu.
Aku meraung sejadi-jadinya dalam hati. Saat pulang ke rumah, kucari kembali surat tak berkaleng pemberian Seno, hasilnya nihil. Aku tak menemui satu pun dari surat-surat itu, bahkan tak ada jejak-jejak surat yang ditinggalkannya. Hanya sekuntung mawar merah, yang kelopaknya mulai gugur satu per satu.
“Jadi selama ini, aku bertemu hantu Seno, yang diam-diam menaruh hati padaku. Ia menyamar sebagai Fikri, sahabatnya.” Batinku.
Aku mulai merinding, merindu, dan menangis. Mengapa, saat aku mulai menaruh hati, justeru aku harus terluka. Mengapa pula Seno (hantu Seno) yang harus menjadi cinta pertama di hidupku.
Ahh,, Seno .. Seno .. Seno ..  sang makhluk penunggu warung kopi.
Aku mulai mengapung, dalam buaian mimpi. Wajah Seno pun hadir, tersenyum padaku. Senyuman kedamaian. Lalu menghilang !

***
Palopo, 18 Maret 2014


Template by:
Free Blog Templates