Jumat, 28 Maret 2014

Kamar 04




Awalnya kukira semuanya akan berakhir dengan guratan kesedihan. Sama saat awal desember menyapaku. Berkali-kali krikil masalah menerpaku. Mulai dari sindiran-sindiran halus tentang aku yang katanya kurang profesional, sampai pada kenyataan pahit bahwa kegiatan yang diadakan oleh jurusan yang menjadi kebanggaanku diklaim gagal. Yang membuatku kecewa bukan kegagalan yang disandangkan padaku sebagai bendahara dalam kepanitiaan itu, melainkan lebih kepada beliau yang mengklaim hal tersebut. Beliau tak lain adalah seorang pimpinan dari program studi yang menaungiku saat ini.
Lupakan soal guratan lukaku di awal desember ini, semuanya telah kukubur bersama tetesan-tetesan air langit pagi ini. Aroma kotaku telah menenggelamkan segala beban yang sempat menancap lekat di memori otakku.

***

Welcome to Kota Daeng. Tahukah kalian, betapa aku selalu merindui kota ini. Ada banyak hal yang telah kutoreh di kota ini. Masa kanak-kanak yang indah, hingga masa remaja yang tak mungkin dapat terlupakan. Di kota ini juga sempat kutancapkan rindu pada seseorang. Seseorang yang sempat membuat degub jantungku tak normal. Ah, aku jadi rindu padanya. Sedang apa yah dia ? Mungkin tengah tersenyum bahagia bersama kekasihnya. Sudahlah, dia hanya serpihan masa lalu yang jelas harus ikut kukubur. Baiklah, aku tidak akan bercerita panjang lebar tentang aku dan kota ini, karena bukan itu inti sari dari narasiku kali ini. 
Kalian tahu, akhir desember ternyata menyimpan kenangan tersendiri buatku. Aku bertemu mereka dalam sebuah forum kepenulisan yang sangat luar biasa. Mereka yang ku maksud bukan hanya Lisa dan Rahma (teman seperjuanganku ketika di ma’had dulu), Melainkan mereka ‘Calon-calon nama dari deretan judul-judul buku Best Beller’ yang kelak mungkin akan kalian baca. Amin.
Beberapa oleh-oleh dari TOWR (Semuanya Hadiah)
Semua ini berawal dari ketidaksengajaanku melihat sebuah pamphlet diakun facebook milik salah seorang sahabatku ‘Ifha’. FLP, jelas tulisan itu tak asing dimataku. Bahkan tulisan ini yang kerapkali kucari di kotaku, eh maksudku di desaku bermukim. Sayangnya, aku tak pernah menemukannya.  Oh yah sedikit kuperjelas, kalau aku ini seorang peserta TOWR satu-satunya dari Palopo. Sebenarnya aku sempat menetap di Makassar beberapa tahun, hanya saja takdir berkata lain. Kelulusanku dari bangku putih abu-abu mengharuskanku ke sana. Yah, begitulah takdir, selalu punya misteri sendiri.
Dengan begitu menggebu kurespon pamphlet itu, kupadatkan jadwal untuk menyelesaikan tugas-tugas kampus agar bisa mengambil jatah libur yang lebih sebelum final test di bulan Januari. Man Jaddah wa jadah, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Alhamdulillah, usahaku tidak sia-sia. Aku berhasil tak memadamkan api yang tengah berkobar dalam hatiku saat itu. Hingga akhirnya aku dapat berkumpul dan bercengkraman dengan mereka, para pemain pena dan diksi.
Bersama gerimis tipis yang menderai, pengalam luar bisapun dimulai. Yang membuatku melongok untuk kali pertamanya ialah saat aku bertemu beberapa kawan lamaku. Teman seperjuanganku di Penjara Suci dulu. Ah, skenario Tuhan memang tak dapat tertebak. Pertemuan kami akhirnya menjadi sebuah reunian kecil yang tak pernah terduga sebelumnya. Selain betemu mereka, aku juga mendapatkan keluarga kecil yang baru. Keluarga kecil yang memiliki hobby yang sama denganku. Pejuang-pejuang pena yang kelak akan merubah dunia.
Oh yah, ada satu tempat di TOWR ini yang begitu lekat di memoriku selain aula umum tempatku memperoleh ilmu. Tempat itu tak lain adalah kamar 04. Mengapa ? Karena di dalam kamar ini aku bertemu dengan mereka, sahabat-sahabat baru yang memiliki idiologi serta daya humor yang tinggi, sama denganku. Awalnya kukira akan sulit beradaptasi dengan mereka, sampai akhirnya sapaan kak’ Aiya merubah pandanganku. Bahkan di malam pertama pertemuan kami rasa keakraban itu sudah nampak.
Dek Tifa kenapa ikut TOWR ini ? Hobby nulis atau niat jadi penulis ?’ Kurang lebih seperti itulah pertanyaan yang kak’ Aiya ajukan kepada kami semua. Dan bukan hanya Tifa saja yang memang berniat menjadi penulis, aku, Leha, Hijrah, Dian, dan beberapa orang lainnya juga memiliki impian yang sama.
Kalau kak’ Aiya sendiri kenapa ikut TOWR ?’ Tanya Tiwi. Tiwi juga merupakan penghuni kamar 04 yang sampai detik ini masih akrab denganku sepulang TOWR. Ia seorang mahasiswi kampus merah dengan kacamata yang menjadi cirikhasnya. Bagi Tiwi, TOWR kali ini merubah beberapa hal dalam hidupnya, diantaranya ialah keputusannya memakai hijab. Tiwi memang lebih cantik ketika mengenakan hijab. bukan hanya Tiwi, semua wanita muslimpun kurasa cantik ketika berhijab. Semoga istiqomah yah, Tiwi..
Kalau saya ikut TOWR hanya iseng-iseng saja dek’ Jawab Kak’ Aiya sembari berbaring. Sementara kami hanya melongok mendengar jawabannya.
Saya suka menulis dek’ tapi gak terobsesi jadi penulis. Ikut TOWR juga karena diajak Uthy (Teman Kak’ Aiya yang juga sekamar denganku)’. Sambung kak’ Aiya.
Malam itu, sebelum melahap materi yang pertama di TOWR, kami penghuni kamar 04 telah lebih dulu melahap pengalaman-pengalaman manis kak’ Aiya. Kata ‘iseng’ yang dia ungkapkan di awal mungkin benar, begitu pula dengan obsesi yang tidak menggebu sebagai seorang penulis. Tapi satu hal yang kumaknai dari kisah kak’ Aiya sampai akhirnya ia menunjukkan kumpulan cerpennya yang telah dibukukan (Hadiah Untuk Kekasihku) kepada kami ialah, sikap rendah hati yang ia miliki. Kak’ Aiya mungkin tak mengakui dirinya sebagai seorang penulis, namun karya-karyannya telah menjadi bukti, betapa ia sebenarnya merupakan seorang penulis yang handal. Ia hanya nampak sedikit merendah dihadapan kami, padahal sesungguhnya ia seorang yang hebat.
Semakin tinggi, semakin merunduk’ mukin seperti itulah gambaran kak’ Aiya dimataku. Sejak diskusi kecil itu berlangsung, keakraban kami semakin erat. Oh iya, selain kak’ Aiya, aku juga kagum loh sama dek’ Tifa. Tifa inilah yang paling muda diantara kami. Dia masih SMA kelas dua, namun kemampuannya menulis juga tak bisa dipandang eteng. Buktinya, sepulang TOWR, dua pekan karyanya di muat di salah satu Koran ternama di kota ini. Aku yakin kelak Tifa juga akan menjadi penulis yang hebat.
Tidak bisa dipungkiri, kamar 04 menyimpan banyak kenangan manis di memoriku. Selain penghuni kamarnya yang hebat dan kreatif, beberapa kejadian-kejadian kecil yang terjadi di kamar ini tak jarang membuatku senyum-senyum sendiri ketika mengingatnya. Tawa khas Kak’ Uthy ketika menceritakan pengalaman KKN-nya, usaha Tiwi dalam meniup jilbabnya, Unga yang pemalu, Tifa sang pecinta kucing, sampai rasa kesal Dian pada si jilbab Pink. Eh, bukan cuman Dian, tapi kami (kecuali Unga barangkali). Hehehe :D.  Aku yakin kalau kak’ Uthy dengar kata jilbab pink, pasti takkan berhenti tertawa. :D
3 hari 2 Malam kulalui dengan begitu khikmad. Keakraban yang indah terjalin diatara kami, para peserta TOWR. Bukan hanya para peserta dengan peserta saja, melainkan dengan panitia juga. Potongan demi potongan ilmu kami lahap. Mulai dari materi menulis puisi, sampai materi menulis novel yang diajarkan langsung oleh mbak Afifa Afrah. Sebenarnya diantara semua materi menulis yang disajikan, yang menurutku paling rumit ialah materi menulis essai yang dibawakan oleh kak’ Bulqia. Aku memang sedikit agak payah dalam menulis essai, tapi anehnya dalam TOWR kali ini essai yang kubuat masuk kategori essai terbaik (Alhamdulillah). Semoga jurinya tidak menyesal memilih essaiku waktu itu :D hehehee.
Hal yang paling mengesankan bagiku ialah saat kami berlomba-lomba mencari inspirasi di antara jejeran bebatuan yang cadas, gemericik air terjun yang menjulang, belukar yang melilit, serta gerimis tipis yang saat itu turut menyertai semangat kami. Aku jadi ingat saat seorang kakak panitia menghampiriku dan menanyakan tentang sejauh mana goresan yang diciptakan penaku.
Belum ada sama sekali kak”, Jawabku singkat saat kakak itu menghampiri dan menanyaiku. Kudapati wajahnya nampak bingung. Barangkali ia tak percaya dengan jawabanku, bisa jadi ia juga merasa hal yang sama denganku. Bahwa mungkin sebenarnya aku memang tak pandai menulis, hanya ikut-ikutan saja. Tapi sungguh waktu ditanyai memang aku belum sempat menulis apapun. Aku masih berpikir, dimana keberadaan inspirasi saat itu.
Kupandangi air terjun yang menjulang, aku kembali melongok. ‘Inspirasi tak di sana’ bisik hati kecilku. Kemudian kupalingkan pandanganku. Kutatap bebatuan cadas yang dilumuri lumut hijau, tetap tak kutemui inspirasi itu. Aku jadi berpikir saat itu, barangkali inspirasi benci padaku. Teman-teman yang lain kok sepertinya terlalu enteng bercengkraman dengannya, sementara aku malah tak bertemu dengannya. Ah, aku memang payah !
Aku hampir putus asa kala itu, sampai kakak yang tadi menghampiriku kembali dan bertanya pertanyaan yang sama.
Bagaimana dik’, sudah banyak yang ditulis ?’ Tanyanya dengan sabar.
Belum kak’ Jawabku pasrah. Aku yakin ia mungkin kecewa dengan jawaban belum yang kembali kuucapkan. Sebenarnya aku juga kecewa pada diriku waktu itu. Tapi mau bilang apa, toh memang belum ada yang kutululis sama sekali.
Dik, menulis itu tidak harus langsung indah. Saat memulai, kamu tidak perlu berpikir apakan nantinya ia akan bagus. Tidak perlu khawatir apakah diksinya akan renyah dan gurih ketika dibaca. Tulis saja apa yang disaksikan matamu saat ini. Apa yang ada dibenak dan perasaanmu saat ini, kemudian biarkan penahmu menari. Jika tak memulai, maka tidak akan ada karya yang tercipta. Soal keindahannya nanti bisa dipoles dik’. Sekarang kamu menulis saja. Apa saja. Jangan mencari inspirasi, tapi pancing agar inspirasi itu datang. Sekarang menulislah dik’. Aku yakin kamu bisa lebih dari mereka’ Ujarnya sembari menunjuk peserta lain yang tengah bercengkraman dengan penahnya.
Aku hanya tersenyum, hati kecilku mengangguk pelan. Benar apa yang dikatakannya. Aku harus berani memulai. Memasung kata demi kata hingga menciptakan paragraf-paragraf baru. Seiring berlalunya kakak itu dari hadapanku, akupun mulai membiarkan penaku menari. Merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan alhasil aku berhasil menuliskan sebuah puisi yang lumayan panjang. Tapi belum sempat kutinjau kembali sampai detik ini. Maaf, aku juga lupa nama kakak yang menghampiriku saat itu. Aku memang payah dalam hal mengingat. Tetapi terimakasih banyak yah kak’, wejangannya sangat bermanfaat.
Jrenggg.. Tibalah kita di detik-detik perpisahan. Kami semakin akrab, semakin dekat, dan seperti keluarga. Utamanya keakraban kami. Penghuni kamar 04. Kami memang baru bertemu, namun toh rasa persaudaraan itu kok’ erat sekali yah ! Ah, aku jadi rindu mereka. 

Inilah mereka, penghuni kamar 04


Sebenarnya aku selalu kesulitan dalam memulai menulis, begitu pula saat harus mengakhirinya. Apalagi kalau harus mengakhiri ceritaku tentang TOWR ini. Tapi bagaimanapun, selalu ada akhir ketika awal telah hadir. Satu hal yang menarik sebelum acara TOWR resmi ditutup. Pengumuman peserta terbaik. Aku tidak pernah menduga sama sekali kalau namaku terselip diataranya. Yang membuat aku dan penghuni kamar 04 cekikikan saat itu, ternyata dari kaum akhwatnya semua penghuni kamar 04. Aku, Kak’ Aiya, dan Kak’ Uthy. Yang lucunya, karena lagi-lagi nama kak’ Uthy harus salah. Hahahaa :D
Alhamdulillah Ala’ Kulli Hal. Tak hentinya kalimat itu menggema dalam batinku. Kesyukuran luar biasa atas rencana Tuhan di akhir desember ini. Perpisahan mungkin telah resmi terjadi saat acara TOWR ditutup, tapi ini bukan akhir yang sesungguhnya. Setelah TOWR justru babak baru akan di mulai. Pertemuan kita akan berlanjut. Nama-nama kita akan bertemu direntetan buku yang terpajang di tokoh buku, bukan ? Dan semoga dengan sandangan Best Seller di tiap covernya. Aamin..   
**

Pete-petepun terus melaju. Kak’ Aiya masih sibuk dengan goyangan jempolnya. Kak’ Uthy dengan tawa khasnya. Sementara Tiwi sibuk merapikan jilbabnya. Dan Aku. Yah, aku  yang sebentar lagi harus turun duluan.




** ~ Sekian~**

Edisi; Semangat


Pagi ini, saat matahari terlihat masih malu-malu menatap bumiku, aku kembali -- menanam sepenggal asa yang sejak lama redup. Terus terang, mimpi ini pernah membumbung tinggi dalam anganku, namun entah hal apa yang selalu membuatnya pasang surut. Namun, pagi ini, aku kembali, menatap dunia yang telah lama kudamba ...*

Menjadi Penulis bukan hal yang mudah, butuh ketekunan dan konsistensi pada diri sendiri, sayangnya, aku selalu gagal dalam hal konsistensi itu. Saat ribuan ide tengah berkelebat dalam pikiranku, rasa malas tak sanggup kubendung. Jangankan menumpahkan idea, sekadar melesap dan menyusurinya lebih dalam pun rasanya aku malas.

Suatu ketika, aku merasa terpukul, sangat terpukul ! Saat seorang sahabat -- yang usianya terbilang lebih muda dariku-- mulai melaju pesat, membuktikan bahwa dirinya tidak hanya sekadar bermimpi menjadi seorang penulis saja, namun akan mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Cerpennya pun mulai meramba di media massa -- surat kabar harian yang menjadi konsumsi Ayah setiap paginya -- namanya jelas tak kukenal, sebab ia menggunakan nama penanya, namun wajahnya, aku tak mungkin lupa.

Merampungkan Idea
Kita pernah sama, sama-sama menanam mimpi itu, namun kau tekun; menyirami, memupuki, lalu menuai hasil, sementara aku -- hanya terus berangan tanpa pernah berani melangkah. Dan pagi ini, aku sangat tertampar. Aku mulai menyesali detik yang kulewatkan tanpa menuangkan gagasan-gagasan yang pernah singgah sebentar di otakku. Aku menyesali, setiap jam yang telah kulewatkan dengan berbaring dalam kepungan mimpi. Aku sungguh menyesal ! Penyesalan di akhir memang kerap kali menuai luka, namun, apa mau dikata ..*

Pagi ini, aku kembali, menatap dunia yang telah lama kudamba -- mengejar ketertinggalanku. Aku berjanji pada diriku, untuk tidak terlalu jauh berada di belakangmu. Bahkan, kelak, aku ingin  beriring denganmu. Biarlah hari ini kau dinobatkan sebagai juara-- aku bahagia. Namun kelak, aku ingin bukan hanya namamu saja, namaku pun turut serta mendampingi namamu.

                                                 ...

                                                    Di tengah tumpukan tugas kampus, semangat tetap berkobar :)
                                                                                                                Palopo, 28 Maret 2014


Template by:
Free Blog Templates