Senin, 31 Maret 2014

Edisi; Komitmen

..

Meramu idea ..
Mengumpulkan patahan-patahan semangat ..
Menuliss ... Menuliss .. Menulisss ...

Harus rampung (TITIK).

Harus teguh sama komitmen
Harus mencapai target yang telah dipatok.
HARUSSSS !!!

Kaleng Kecil dan Sekolah


..

Inilah salah satu kenangan TOWR yang tersisa. Sebuah Essai singkat yang kemudian mendapatkan juara ke-2 sewaktu TOWR di akhir desember. Tulisannya masih sangat berantakan, saya malas memolesnya. Biarkan begitu saja, sebagai kenang-kenangan saat awal belajar menarikan jemari :)


Kaleng Kecil dan Sekolah
Oleh : Liyana Zahirah 



Hatiku meringis ketika tengah mengitari salah satu pusat perbelanjaan di kotaku. Seorang gadis kecil menyodorkan sebuah kaleng kecil dihadapanku. Dengan mimik wajah mengiba, berharap kaleng kecil itu terisi nilai-nilai rupiah seadanya. Ini bukan tentang pelit atau tidak. Tetapi ini tentang pembiasaan buruk bagi generasi penerus bangsa kita. Generasi yang semestinya berbekal ilmu serta pengetahuan yang menggunung. Ah, ini memang sungguh memilukan.
Bukan sesuatu hal yang asing lagi jika negeri ini sangat terkenal dimata dunia dengan kekayaannya. Bukan hanya bahasa, suku, dan idealismenya, namun sumberdaya alamnyapun begitu banyak. Bayangkan saja, sudah berapa puluh tahun Indonesia merdeka namun sumberdaya yang dipunyai belum juga habis. Bahkan sebelum kemerdekaan sumberdaya ini telah menjadi rebutan bangsa-bangsa asing. Wajar jika kita mendapat julukan bangsa terkaya di dunia.
Namun sayang seribu sayang, ibarat ‘Macan yang Tengah Tertidur’, begitulah gambaran yang tepat untuk bangsa kita saat ini. Sungguh ironis, jika kita melihat potensi bangsa yang semestinya dapat kita ramu sedemikian rupa hingga menjadikan penghuninya makmur, justru malah menjadikan bangsa kita semakin meciut dan tertinggal.
Saat ini, di Indonesia banyak sekali masyarakat yang tiap harinya harus mengais nasib ditumpukan-tumpukan sampah ditengah kemelimpahan sumberdaya alam kita. Bukankah ini hal memilukan ? Seorang anak kecil dengan kaleng kecilnya, bergelut dengan debu dan terik matahari. Mereka mengais nasib dari belaskasihan orang lain. Mengiba recehan demi recehan untuk memperpanjang hidup. Usia yang dini untuk merasakan penderitaan. 
Jangankan di Indonesia, di kotaku saja (Palopo), masih banyak hal-hal serupa yang kutemui. Diusia mereka yang begitu dini, semestinya mereka bergelut dibangku pendidikan. Bukan malah mengadu nasib dijalanan. Bukankah kelak mereka adalah generasi penerus bangsa ? Pemuda-pemuda yang kelak akan memperjuangkan bangsa ? Bagaimana mungkin mereka akan membela bangsa kelak, sementara saat ini saja mereka masih terjajah. Terjajah kemiskinan yang entah kapan akan merdeka.
Aku sempat bertanya pada beberapa diantara mereka. Untuk semua pertanyaan yang kujajalkan, dapat kusimpulkan bahwa mereka butuh sekolah, butuh pendidikan, namun lebih membutuhkan rupiah untuk menyambung hidup. Sehigga ketika ditanyai mereka akan lebih memilih mejadi penghuni sisi kota dibandingkan menjadi penghuni sekolah.
Saat ini pemerintah tengah gencar-gencarnya menyuarakkan program pendidikan gratis. Hal ini dilakukan dengan maksud agar pendidikan dapat merata. Namun tetap saja, program ini terbukti belum efektif untuk mencegah tingginya angka putus sekolah di negeri ini. Kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, ditambah lagi dengan desakan ekonomi mungkin merupakan beberapa dari sekian banyaknya faktor sehingga, angka putus sekolah tiap tahunya meningkat.
Kurang pekanya pemerintah terhadap masyarakatnya, serta kurangnya sosialisasi tentang peran pendidikan yang teramat penting merupakan celah tersendiri, sehingga masyarakat merasa masabodoh dengan hal yang berbaur sekolah dan pendidikan. Padahal, justru dengan bersekolahlah, diharapkan kelak mereka akan menjadi agen of change bagi bangsa.
Kita tidak dapat menyalahkan pemerintah sepenuhnya akan hal ini, namun kita juga tidak boleh membiarkan ini berlarut. Kemerdekaan semestinya merata bagi semua masyarakat, bukan hanya menjadi milik penguasa dan hartawan saja. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya kembali menjadi pengasuh yang baik untuk masyarakatnya. Tumbuhkan kembali kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Tanamkan kembali dalam benak generasi penerus bangsa tentang makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Bukan dengan mengibaskan kaleng kepada pengunjung pusat perbelanjaan, melainkan dengan memungsikan pemikiran. Karena aset terbesar bangsa sesungguhnya bukan berada pada limpahan sumber daya alamnya, melainkan sumberdaya  manusianya.
Bangsa yang besar ialah bangsa yang dihuni oleh orang-orang kaya. Kaya akan ilmu dan segudang pemikiran – pemikiran besar rakyatnya. Oleh karena itu. mari sama-sama kita merangkul kembali jejak-jejak pejuang kita, hingga puing-puing penderitaan bangsa di masa lampau tidak lagi kita rasakan di masa sekarang dan dimasa yang akan datang. Jangan biarkan kebodohan menjadi celah sehingga bangsa-bangsa lain dengan lihainya mengklaim apa yang menjadi asset negara kita. Pemerintah juga sebaiknya menggelar kembali amanah-amanah besar masyarakat. Sehingga angka kemiskinan dapat berkurang, tingkat putus sekolah tak lagi merajalela, dan bocah-bocah cilik dengan kaleng kecilnya tidak lagi menjadi kuli-kuli kebodohan.  


Ditulis di akhir desember; saat gerimis tipis mengguyur, dan kita larut dalam suasana khitmat :)

Edisi Rindu II

..

Malam ini ada rasa yang enggan pergi ;


RINDU

Padamu, yang menyempurnakanku sehingga ia terlihat menawan.
Syairmu tak kudengar malam ini,
Bait-bait puisimu tak memenuhi malamku,
Ke mana, kau?


Aku ini bukan pawang rindu seperti yang kau kira
Mataku pun dapat basah sebab rindu,
Sebab, kau --

Jangan biarkan aku luruh dalam gulita,
Jangan!!

Aku butuh kau agar tetap elok
Agar tetap melihat dalam gelap
Agar tetap berjalan dalam senyap

Rinduku buncah,
Bergeming -- lirih..

Aku masih belur, bukan karena pujianmu,
Namun karena rindu,



Palopo, 31 Maret 2014

Puisi untuk Mita

Seorang sahabat me-request sebuah puisi. Katanya, puisi ini untuk seseorang yang begitu sangat ia harapkan agar kelak menjadi imam buatnya..Baiklah .. baiklahh .. Karena orang yang dituju pun tak lain adalah sahabat saya juga, saya pun akhirnya bersedia membuatkannya sebuah puisi. Semoga ini bisa membuat hati kedua sahabat saya ini menjadi berbinar .. hehehe :)


MITA  LHAGO

Pertemuan bisa menjadi awal dari lecutan - lecutan api simpatik dalam dada,
Entah kapan itu terjadi, namun yang pasti, saat ini, aku begitu mengagumimu, Lhago ..

Entah bagaimana cara Tuhan menyulam hati manusia,
Sehingga akhirnya hatiku luruh dalam pelukan hatimu ..
Sudah lama, sangat lama ..
Pertemuan kita terjadi -- namun tak menyisahkan apa pun ..

Mita, sapamu ..
Ah, ada desiran aneh saat kau menyapaku malam itu,
Ini bukan kali pertama kau menyapaku, Lhago.
Masa putih abu-abu, kita sering bersua, bukan ..
Saling melempar tatapan serta sesungging senyuman.
Namun tak menyisahkan rasa -- apa pun ..

Mita, panggilmu ..
Ah, dadaku kembali berdesir, Lhago
Sihir apa yang kau gunakan,
mengapa rasanya hatiku bergemetaran dibuat olehmu ...

Mita, Mita, Mita,
Iya, Lhago.

...

Oh, Tuhan ! Bisakah kukatakan sekarang,
Betapa alur hidup yang kau tulis begitu indah -- bersamanya.

...

Paras bukan takaran,
Harta hanya titipan,
Dan kamu yang ku inginkan ..

Mereka mencemooh,
Mengataiku picik, dengan sebelah mata.
Tapi kau, Lhago -- tanpa curiga menyambut hatiku
Aku luruh,
Mereka menyengir; sirik ..

Tahu kau mengapa kucintai kau melebihi siapa pun pria di bumi ini ?
Sebab kau selalu membuatku menjadi sosok yang lebih istimewa,
Sebab kau selalu membuatku merasa menjadi wanita yang sesungguhnya,
Sebab kau pun, aku merasa lelaki semua tak sama ..

..

Mita, tahu kau mengapa aku selalu percaya padamu ?
Sebab tatapanmu tak pernah dusta,
Tidak seperti mereka --

;

Palsu

Palopo, 31 Maret 2014



Template by:
Free Blog Templates