Rabu, 02 April 2014

April Berdarah



APRIL  BERDARAH
Oleh : Liyana Zahirah


   Suatu pagi di awal april. Saat matahari masih malu-malu menatap bumi, saat azan subuh belum berkumandang, saat mata pun baru saja terpejam, tiba-tiba saja, ketukan dahsyat terdengar dari luar pintu kamar yang ukuranya cukup besar. Samar kemudian kian sangar.

   "Bangun .. bangun .. " Teriak suara di luar sana. Terdengar memilukan. Suara butuh pertolongan. Segera.

   Mata masih enggan terbuka. Rasanya baru lima menit yang lalu mata kupejamkan, kini ketukan dahsyat menggerogoti pintu kamarku. Pilu. Ia menjerit kesakitan, sebab batangan ijuk sudah berkali-kali mendarat di punggungnya. Dalam keadaan tidak sadar,mataku terbelalak.

   "Ah .. sial!" Umpat hatiku.

   Rasanya dibangunkan saat kantuk masih menari dengan riang itu, seperti kiamat kecil.. Menyeramkan ...

   Dengan sisa-sisa napas yang belum stabil, aku berusaha bangkit, membelalakkan mata. Menatap gelap yang tumpah memenuhi kamar. Aku oleng, masih sangat oleng. Tugasku rampung pukul 02 : 30, dan mataku baru saja terpejam setengah jam setelahnya. Kini pukul berapa ? Gelap masih nampak si sana - sini; di luar jendela pun masih sangat gelap. Tak ada kokokan ayam bersahutan, menandakan pagi sudah kembali menyapa.

   "Ah, sial! Ini masih terlalu dini untuk bangun."

   "Bangun .. bangun .."

   Suara itu kembali terdengar. Kali ini justeru lebih histeris lagi. gaduh memenuhi telingaku, mataku kupaksa terbuka, kakiku kupaksa berjalan -- berjalan dalam gelap, dengan mata setengah tertutup. Napasku belum terkumpul sempurna saat pintu kamar kubuka. Seorang wanita paruh baya menatapku; tajam. Penuh kebencian, dendam, amarah, dan entah --. Ia menyodorkan sebuah sapu lidi dengan ketebalan yang entah.

   "Bantu aku" Pintahnya tegas.
   "Bantu, bantu apa ?" Tanyaku dengan nada heran, dan sedikit malas."

~~

   Teriakan-teriakan pilu pecah. Hening berubah gaduh, saat tetangga masih lelap dengan buaian mimpinya. Mataku terbelalak. Dengan keadaan seperdua belum sadar berlari -- kalang kabut dengan bekal sapu lidi.

   "Ayo tangkap dia. Dasar kurang ajar!" Teriak wanita paruh baya yang bersamaku. Ditangannya telah penuh dengan senjata. Siap menghantam tubuh lawannya.

   Ia mulai memukulkan senjata itu ketubuhnya. Musuh barunya, dua hari yang lalu. Sesekali ia mencoba maju melawan kami, aku maju, melawan. Saat ia kembali menyerang, aku mundur, teriak.. Takut.

   "Pukul kepalanya .. pukull .. " Teriak wanita itu padaku.

   Pukul ? Kau gila menyuruhku memukulinya. Dia tak punya salah padaku kali ini, urusannya hanya denganmu saja. Ah, aku betul-betul tak paham dibuat wanita ini. Dia menyuruhku bangun hanya untuk beradu tenaga.

   "Aku bukan pembunuh!" Teriak hatiku.

   "Plakkkkk ... " Senjatanya mengenai kepala korban. Ia masih sadar, dan mulai berlari pelan. Darah belum mengucur, namun kupastikan, saat itu ia sudah mulai  kalap. Napasnya tersengal.

   "Plakkk .. Plakkk ...  Dia pingsan .. dia pingsan" Ucap wanita itu padaku dengan girang. Aku melihat kepalanya masih bergerak, matanya pun masih terbuka sedikit.

   "Plakkkk ... " Aku melemparkan senjata yang kupunya ke wajahnya. Kepalanya. Ia terkapar, terbujur dalam napas yang perlahan lenyap.

  Tuhan, apa yang baru saja kulakukan. Apakah aku baru saja membunuh ? Aku bukan pembunuh, bukan!

~~

    Azan subuh berkumandan, badannya pun terbujur kaku. Aku iba. Ada sesal yang mulai menyelubungi hatiku. Riuh .. Sesal. Seandainya aku tak menuruti keinginan wanita itu untuk membalas dendamnya, pasti aku tidak akan dirundung rasa sesal seperti ini.

   Ada raut sesal pula yang kusaksikan di wajah wanita itu. Ia menyuruhku segera membereskan darah yang berserakan di sana sini. Menghilangkan jejak, namun, di hatiku masih ada jejak penyesalan yang tertinggal.

   "Aku benci, ia selalu menggangguku. Mengobrak abrik isi dapurku. Ia juga kerap kali mencuri makanan yang telah kumasak. Aku benci pencuri, benci!" Ucap wanita itu lirih, padaku. Berharap itu bisa sedikit menghilangkan sesal hatiku.

   "Tapi sungguh, aku menyesal sudah membunuhnya. Niatku hanya membuatnya pingsan saja, kemudian membuangnya agar tak menggangguku lagi, namun ... dia terlanjur tewas" Tambahnya.

   Aku diam, hanya menyimak pembelaannya. Ada benarnya juga. Aku pun sempat resah dibuatnya. bagaimana mungkin ia masuk ke kamarku, merusak beberapa barang milikku, kemudian meninggalkan tinjanya di kamarku. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikanku pembunuh. Membunuhnya.

   Ah, sungguh, Tikus - tikus got yang sering meresahkan ini membuatku merasa bersalah di pagi, di awal april yang cerah ini..


Palopo, 01 April 2014
  






Template by:
Free Blog Templates