Jumat, 04 April 2014

SENJA



Jika ini rindu, maka biarlah. Aku rela digerogotinya. Sungguh!
Gulita menyapu langit, dentingan jam meraung – pilu. Ada rindu yang kurasa hadir di setiap malamnya. Pada dia, si pemilik bola mata teduh itu. Lekuk senyumannya, tatapannya, gaya bahasanya, serta sapaannya untukku. Cahaya.
“Dalam gelap pun ada Cahaya” Katamu lirih.
“Dan Cahaya akan nampak sempurna saat Terang menyelubunginya” Geming hatiku.
Kita larut, dalam ruang rindu yang sama. Menanti jamuan-jamuan yang lebih indah selanjutnya. Melunasi janji – menuntaskan rindu, lalu menggelar hutang-hutang kerinduan yang lebih banyak lagi.
***
Malam semakin merayap, tangan-tangan mulai saling memeluk. Rindu kian buncah!
“Kau suka malam ?” Tanyamu lirih, sembari menyulam senyum di bibirku. Meronakan wajah malamku. Aku terbang – melayang. Menembus antariksa waktu yang menjulang. Pertemuan awal kita. Aku mengenang.
“Tentu, aku sangat menyukainya. Bagaimana denganmu ?”
“Aku menyukai malam, namun, lebih menyukai Cahaya”
Rindu memeluk, senyum rekah, ada rasa yang entah – . Tatapan kita saling beradu, tanpa kedipan, enggan untuk melepas malam yang kian pekat.

***
Nona, sesungging senyumanmu membuatku luruh, membuat langit-langit hatiku bergemetaran. Tunggu,.. bukan hanya langit-langit hatiku saja, namun seluruh sendiku pun ikut bergemetaran ketika menatap binar matamu. Ada teduh di sana, ada rasa yang enggan memaling, ada hati yang bersorak. Riang!
Nona, ekor matamu membuntutiku. Sesungging senyumanmu membuat hatiku berdesir – terkepung dalam pesonamu. Sore ini, saat senja hendak melambai, kunanti kau kembali. Menggelak tawa bersama, saling memuji, dan membekukan waktu bersama. Cahaya!
***
Gerimis tipis mengikis langit. Bulir-bulir rasa tumpah ruah di sana – sini.
“Aku bukan pawang rindu; mengendalikan rindu tanpa harus dikendalikan rindu, bebas merindu, tanpa harus membebaskan rindu. Sungguh, aku bukan pawang rindu, Tuan”
“Tuan, salahmu masuk ke dalam duniaku, namun, salahku juga membiarkanmu dan tak mengusirmu keluar. Salah ? Semoga ini bukan kesalahan. Aku menerima uluran hatimu, Tuan. Aku menerima segala pujian yang tumpah padaku. Segalanya, Tuan! Sebab, kau sekarang berupa candu bagiku, sulit rasanya melalui malam tanpa patahan-patahan katamu, tanpa larik-larik puisimu, dan tanpa bait-bait merdu di setiap lagumu. Kau membuatku, koma. Koma untuk segala keadaan yang meniadakan namamu dalam hariku, Tuan.”
“Jika aku Cahaya bagimu, maka biarlah kau menjadi Terangku, sebab, Cahaya tak pernah nampak sempurna tanpa Terang. Tidak akan! Ia akan nampak sempurna jika bersama, beriring, dan saling menopang – melalui malam, berjalan di dalam gulita, melewati sunyi - sepi, serta kembali menggelar pagi bersama.”
***
Senja yang sendu, di suatu hari. Kita memasung janji bertemu. Di bawa teduh. Sembari menyedu segelas kopi pahit dan teh pekat paforit (kita).
“Kopi pahit kesukaanmu, Tuan, dan ini teh pekat untukku. Gulanya hanya di ujung sendok, tapi rasanya lebih manis dari yang kau duga, sebab, sudah kutaburi bersendok-sendok cinta saat mengaduknya tadi.” Ucapmu suatu malam, saat hendak memejamkan mata bersama. Kita bernyanyi, mendedangkan lagu kerinduan yang sama. Saling bersorak. Bertepuk. Bintang tersenyum, rembulan ikut berdansa – menari di tengan kebahagian (kita).
Aku masih menantimu, Cahaya. Menanti kau datang memenuhi janji; melunasi hutang – menuntaskan rindu. Kerinduan yang setiap malamnya kita agung-agungkan. Lalu kita sama-sama berjanji membekukan waktu. Membunuh detik yang menjajalkan rindu. Lalu, kita kembali menanami ladang kerinduan kita dengan rindu yang lebih banyak lagi. Lebih banyak dari rindu sebelumnya!
***
Darahku berdesir, senyumku kandas. Senyumanmu rekah, dalam lamun serta khayal yang indah. Jamuan-jamuan jemarimu dalam ponselku kurindukan. Tatapan binarmu mengapung, memenuhi rongga-rongga dadaku. Sesak. Menyesakkan!
“Nona, apa kau lupa caranya membuka mata ?”
“Nona, sadarlah! Ini sudah hari ke tiga kau tak memelukku dengan kerinduanmu.”
“Nona, apa kau sudah lupa dengan kesakralan janji yang hendak kita ucapkan bersama, nanti. Di hadapan banyak tamu. Di hadapan Ayah – Ibumu..?”
“Nona, hanya waktu yang hendak kita bekukan, bukan ? Namun mengapa, kini sekujur tubuhmu pun ikut beku!”
“Nona, rinduku kian buncah. Tanpamu, terangku tak ada gunanya, sebab kau Cahayaku. Cahaya yang selalu menyinari duniaku..”
“Nonaaaaaa …… nonaa ….. “
Gerimis tipis mengikis langit. Rinduku buncah, mataku berair. Deras, sangat deras!
Untuk kepergianmu yang tiba-tiba.. membuatku koma untuk waktu yang panjang. Sangat panjang!

**

Palopo, 2 April 2014



Template by:
Free Blog Templates