Rabu, 30 April 2014

MAWAR


Mawar
Oleh : Liyana Zahirah

Aku mampir, pada padepokan lusuh penuh melati. Serupa kubur menanti jamuan doa. Padanya kemudian aku menanam mawar. Berharap tetumbuhnya menjadi wangi tanpa melati.

Dibeberapa selang hari yang berganti, aku mampir hendak mencuci kaki.
Kudapati mawar mulai memanjat langit. merekah kelopak-kelopak berwarna; indah, elok. Bahagia terbang di sana-sini. Kutanam janji, kembali menengok esok.


Dibeberapa selang hari tepat menanam janji. Aku kembali membawa bibit unggul. Bukan mawar, bukan melati. Bibit matahari untuk malam hari. Nyanyian mengayun di sepanjang jalan. Kicauan burung kalah akan siulan laguku. Aku berlari menujunya, mawar berwarna di padepokan lusuh.

Aku tersungkur menatap nanar. Duri-duri telah tiada disetiap dahan. Kelopak-kelopak gugur menyapu tanah. Akar-akar terangkat ke permukaan. Bebau melati menusuk serupa belati. mawarku gugur dalam nyanyian penanti. Bibit-bibit matahari malam redup tak menyentuh cahaya.


Semusim berlalu. Mawar telah gugur dan layu.
Aku kembali tanpa menuai setangkai keindahan,-

...


Palopo, 30042014

Template by:
Free Blog Templates