Minggu, 04 Mei 2014

PENGAKUAN RINDU




     Malam ini, di sela jemari hujan yang menerabas malam. Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Tentang sesuatu yang kerap kali menyinggah dalam pikiranku. Sesuatu yang kemudian membuat jemariku menari begitu lentik dalam merangkai huruf demi hurufnya. Sesuatu yang kuyakini bahwa kamu, dia, mereka, dan kalian semua pasti pernah melafalkannya. Bahkan barangkali pernah merasakannya. Bisa jadi juga, perasaan itu seperti perasaan ini. Atau bisa jadi pula, bahkan lebih dari apa yang dirasakan perasaan ini.

    Jika ada pasang mata, yang kemudian dengannya seseorang bisa berdiam diri lebih lama di bawah derasnya rinai hujan agar kuyup bersama detiknya saat itu. Apakah itu rindu?

    Jika ada sesungging senyuman, yang kemudian dengannya seseorang bisa melupakan banyak hal dalam dirinya kecuali pada senyuman itu sendiri. Apakah itu disebut rindu?

    Apakah dengan semua peristiwa, yang dengannya seseorang kerap merasa hadirnya bisikan lirih yang memanggil untuk kembali. Itu disebut rindu?

    Jika benar rindu, apakah yang kurasakan adalah rindu? Yang kemudian dengannya aku kerap dipeluk kesunyian. Yang dengannya kemudian, aku kerap mematung menghadap detik -berharap memutar haluan- hingga merasakan apa-apa sebelum kehadirannya. Apa ini rindu?

    Jika benar ini rindu, kepada siapa harus kualamatkan rindu ini. Sedan di sinii, di negeri yang pulaunya tak terbilang jari, aku masih buta dalam mencari alamat yang tepat untuk menetapkan rindu ini.






..
Palopo, 04052014 (Di puncak kerinduan kronis)

Template by:
Free Blog Templates