Rabu, 07 Mei 2014

Ada Isyarat

    SELAMAT DATANG DI KASTIL KECIL SAYA :)


        Inilah dia, tempat saya biasanya menghabiskan banyak waktu. Saat warkop tempat saya nongkrong barsama teman-teman padat pengunjung, tempat inilah yang kemudian menjadi pilihan saya. 

        (Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka ...?!). Mari kita berkenalan dulu kalau begitu ^_^

       Seorang pengagum hujan, pecinta senja, penyuka cahaya, sangat gemar bermain diksi serta begitu terobsesi dengan prosa, fiksi, dan puisi. Kelahiran 11 Desember "92" dengan nama Ratu Bulkis Ramli, yang kemudian mendeklarasikan diri sebagai seorang Liyana Zahirah dalam setiap jejak karyanya.  


        LIYANA ZAHIRAH. Liyana yang berarti lembut dan Zahirah yang berarti suci. Wanita yang lembut dan suci, kurang lebih seperti itulah makna dari nama pena saya. Banyak teman-teman yang kemudian bertanya, kenapa saya tidak memakai nama asli saja (Ratu Bulkis). Ini pertanyaan yang sungguh tidak bisa saya jawab dengan serius. Beberapa alasan yang kemudian sering saya paparkan kepada mereka; Alasan pertama, saya khawatir kalau sewaktu-waktu saya menjadi terkenal dan berdatangan fans untuk dimintai tanda tangan. Bayangkan saja kalau lagi di kampus tiba-tiba ada yang minta tanda-tangan*ehh! (imajinasi tinggi). Alasan kedua saya yang sama tidak pentingya, yah karena ikut-ikutan saja (ini alasan paling ngawur). Alasan ketiga saya, yang masih terkesan tidak penting juga, karena MEMANG! *Nah loh!!? Iya karena memang. Karena memang saya mau pakai nama itu saja. Jadi sebenarnya alasan saya memakai nama pena, bukan hal yang penting untuk didiskusikan.

         Saya seorang wanita berdarah Sulawesi. Sulawesi Selatan, tepatnya. Sekarang sedang berjuang menyelesaikan studi strata satu di Universitas yang cukup tidak terkenal, dan mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karena saya berasal dari rahim Bahasa dan Sastra Indonesia, rasanya tidak afdol kalau hanya menyandang status saja tanpa pembuktian karya. Saya pun akhirnya mencoba membangunkan kembali kegemaran kecil saya. Menulis. Yah, menulis! Saya sudah mulai menggemari dunia ini sejak duduk di bangku SMP. Kegemaran yang berawal dari sebuah kegelisahan. 

        Sebuah lingkungan dengan segala keterbatasan media elektronik kemudian memupuk kejenuhan dalam diri saya saat itu. Kegelisahan atas rentet peristiwa yang sayang jika terabaikan begitu saja. Dengan berbekal buku tipis persegi yang saya beli dengan harga lima ribu rupiah waktu itu, saya pun menuliskan beberapa peristiwa yang membuat bibir saya hanya bungkam atasnya. Sebuah diary kecil yang kemudian terlihat begitu menggemaskan jika membacanya saat ini. Di situlah saya memulai hobby baru saya. Menulis. Berbagi nestapa dan kebahagiaan dengan lembaran-lembaran kertas putih yang tak akan membantah atas gagasan-gagasan konyol saya saat itu. Sampai pada suatu hari, seorang teman mengenalkan saya pada dunia fiksi.
        Novel. Saya mulai mengenal nama itu saat duduk di bangku kelas dua SMP. Jadian Enam Bulan, karya Rhein Fathia yang kemudian menjadi awal saya mulai menggemari dunia baca. Terus terang saja, saya dulunya bukan seorang kutu buku. Bahkan sekarang pun saya belum masuk ke tahap kutu buku. Sejak saat itu saya mulai hobby membaca, khususnya hal yang berbaur fiksi. Berawal dari kebiasaan berlomba menammatkan novel bersama beberapa teman di SMP inilah yang kemudian membumbungkan niat saya menjadi seorang penulis. Saya sempat mencoba membuat sebuah novel dengan gender mistik sewaktu SMP dulu. Sayangnya, saya menyerah sebelum sampai di klimaks. Barangkali karena teknik penulisan yang baik belum terpatri pada diri saya waktu itu.
         Saya tidak hanya mencoba menulis novel saja, saya pun menulis beberapa puisi dengan diksi seadanya waktu itu. Puisi-puisi itu pun pada akhirnya hanya cukup menjadi konsumsi pribadi saya saja. Kalau mengenai pepuisi, saya sudah menggemari ini sejak duduk di bangku SD. Entah. Bagi saya, larik-larik dalam pepuisi serupa mantra-mantra yang memiliki kemuatan magis bagi para pendengar serta pembacanya.
         Sampai detik ini, saya masih begitu menggemari dunia ini. Menulis. Belum banyak memang prestasi yang saya toreh. Namun kelak, saya percaya bisa seperti mereka-mereka. Penulis-penulis ternama yang dengan karyanya selalu membuat saya cemburu dan terus ingin berkarya. :)

        Terimakasih untuk kalian yang sudah mampir ke kastil kecil saya. Silakan berkomentar dengan semua perabot-perabot kata yang saya tata di sini. Itu akan membuat kastil ini lebih indah nantinya.






                                                                                                                                           Salam karya, 

    Liyana Zahirah :')


       
        






    Template by:
    Free Blog Templates