Selasa, 13 Mei 2014

Buka Tulang Rusukku

Bukan Tulang Rusukku
Oleh : Liyana Zahirah



"Kenapa kau tertawa? Apa menurutmu ini lucu!"
"Lucu? Iya, ini lucu. Sikapmu sungguh menggelitik! Dulu, kau bilang tak ingin peduli padaku. Sekarang, saat aku dekat dengan yang lain, kau berlagak seolah yang paling tersakiti karena aku. Aku tak paham maumu bagaimana."

Hening...

"Mestinya, kau paham. Aku selalu ingin dekat denganmu, itulah mengapa aku tak pernah ingin menjadi sekadar kekasihmu saat ini. Aku ingin, saat hatimu dan hatiku telah mantap, barulah kemudian kita merajut benang kasih ini. Membuatnya menjadi selimut-selimut hangat yang kemudian kita kenakan bersama selamanya. Iya, selamanya. Selama napasmu dan napasku masih mengudara bersama. Aku ingin tak hanya mengenakan label "pacar" saat bersamamu. Aku ingin, lebih! Aku ingin menjadi adik, sehabat, serta potongan dari tulang rusukmu. Seharusnya kau memahami itu tanpa harus kujelaskan."

Aku diam, suaraku akhirnya redam sebelum sempat mengeluarkan kata apa pun. Senyumannya, tatapannya, serta caramu menatapnya membuat aku paham. Tak seharusnya aku menuntut atas perasaan lima tahun silam itu kepadamu.

...

Palopo, 14052014

Template by:
Free Blog Templates