Minggu, 18 Mei 2014

Baris Terakhir Puisi

 Baris Terakhir Puisi
                                                                Oleh : Liyana Zahirah
 
Ada bait,
Di mana kamu, aku,
Adalah jelmaan diksi pada pepuisi yang sama

Ada bait,
Di mana aku, kamu,
Adalah jelmaan narasi dalam pepuisi yang sama

Ada bait,
Di mana kamu, aku,
Harus berpisah pada baris tak sama dalam pepuisi yang tak sama

Baris terakhir puisi
Aku ingin jadi pembaca dederet puisi-puisimu...

Palopo, 170514

Malam Perpisahan

Malam Perpisahan 





 Oleh : Liyana Zahirah





Angin tak berisik
Bulan terpaku risih
Hujan rintik-rintik
Jelma ketegasan sunyi
Pada bait terakhir puisi
Kita tuntas sampai di sini



Palopo, 170514

Mata







 

Mata 
Oleh : Liyana Zahirah





Matamu, mataku
Mataku, matamu
 

Matamu
Mataku
Mataku
Matamu
 

Mata mata mata
 

Kamu kamu kamu
Aku aku aku
Aku aku aku
Kamu kamu kamu

Matamu, mataku
Mataku, matamu

Tatap kita tak seirama!
 

Palopo, 170514

Nyanyian Pohon Pinus

Alhamdulillah, setelah kesekian kalinya mengirimkan karya ke harian Fajar, hari ini karya saya pun diterbitkan =D. "Man Jaddah, Wa Jadah". Tuhan selalu memeluk mimpi-mimpi kita, kok! Setelah ini, rasanya, ingin terus menulis :)

 



Nyanyian Pohon Pinus
Oleh : Liyana Zahirah





Angin berbisik,
Kala itu, gerimis tipis mengusik,
Ingin ikut dalam percakap unsil
Menggelak tawa – haru ..

“Lihat, dia tumbang sekarang”
Bisiknya sembari tersenyum tipis
Tawa rekah; mereka terbahak!

Tangis pecah!
Buncah!

Nyanyianmu mengalun ;
Teduh, rindang – tumbang …
Kenangan terasing,

Sejak rantaumu, kau tak pernah kembali
Wajahmu kian samar di memori
Hanya nyanyianmu, nyaring – mengalun, melambai, mencipta riuh

Sebatang pinus yang menjulang telah tumbang,
Hasil jamuan tangan kita – bertahun silam,
Saat dunia masih sempit kukenal.

Jika pinus ini rebah, biarlah!
Namun, jangan kau yang rebah,
Karena aku tak mungkin tegar.

Pulanglah, Ibu ..
Putrimu telah dewasa,
Rantaumu, biar ia mengganti.





Template by:
Free Blog Templates