Jumat, 30 Mei 2014

PAHAMI AKU!

 PAHAMI AKU!
Oleh : Liyana Zahirah



Kau menyuruhku untuk belajar memahami sesuatu yang sebenarnya kau sendiri tak pernah memahami untuk apa ia harus dipahami. Sementara kita sibuk mengucap rasa yang mulai tak seimbang dari cara kita saling memahami hal-hal yang entah itu perlu untuk dipahami atau tidak. Iya, sesuatu yang entah __ Hingga retak-retak yang barangkali bentuk dari paham ini berceceran dan tak pernah kita pahami bersama.

Kau ingat kata ini "Tolonglah, pahami aku!"

Kata-kata yang kerap kau lontarkan ketika aku juga sebenarnya ingin untuk kau pahami saat itu. Kata yang ketika aku mengingatnya kembali, rasanya gelak tawaku seakan ingin pecah. Bagaimana mungkin kita saling mengucap kata itu, sementara kita tidak pernah paham untuk apa kita harus saling memahami. Seperti angin, bertiup tanpa irama teratur; menggugurkan daun satu-satu, menyapu telapak-telapak di jalan setapak, tanpa pernah ada mencoba memahami untuk apa ia ada, untuk apa ia diciptakan, dan untuk apa ia harus dipahami.

Siang itu, di langit sendu yang mulai tertutup awan gelap, kita saling menuntut untuk dipahami. Saling menguak-nguak hal; di mana kau telah memahamiku dengan jelas, sementara aku tak pernah memahamimu dengan sebaik-baiknya. Dan aku, dengan pembelaan yang menurutku sangat benar, menyatakan aku yang lebih memahamimu semetara kau tak pernah memahami aku. Kita bersitegang. Menggugurkan kenangan begitu banyak yang pernah tercipta tanpa kata "pahami aku".

Bagaimana mungkin aku lupa, saat dulu kita tidak pernah saling menuntut pemahaman namun saling paham caranya memahami. Bagaimana mungkin di saat waktu telah menggulung begitu banyak kenangan manis di antara kita, kata itu (memahami) kian buncah. Apa yang akan kita pahami setelah ini?

Angin bertiup, satu-satu air tumpah dari langit. Kulihat bara di matamu, sementara air di mataku berusaha memadamkannya. 

"Bruuukkkkk ..."  Suara bantingan pintu terdengar mengilu. Langkahmu menjauh. Semakin jauh, dan mulai tak terlihat.

Apa begini cara kita saling memahami? Apa aku harus belajar memahami seorang suami yang kemudian pergi lantaran wanita lain yang entah sejak kapan dikenalnya. Sementara seorang anak yang usianya masih terbilang jari menjerit di balik lemari dengan semua pertengkaran orang tuanya.

Bagaimana mungkin kita begitu fasih saling menuntut paham, sementara cinta sudah terlalu abstrak untuk kita raba, untuk kita lihat, untuk kita saksikan, dan untuk kita pahami.

***

Titik-titik hujan kian deras, mengantar langkahmu menuju pembaringan terakhir, setelah truk besar dengan suksesnya menggilas separuh dari tubuhmu. Apa yang akan kupahami setelah ini. Bagaimana kemudian kita akan saling memahami, jika ternyata mulut-mulut tetangga telah menjadi ajang adu domba antara kita. Bagaimana mungkin aku akan belajar memahami, jika ternyata waktu sudah tidak paham bagaimana membuatmu kembali ada dan mengucap "biarlah kita saling memahami, tanpa pernah mematok takaran atas paham itu". Bagaimana mungkinnn ... ??

Hujan telah berhenti, langkahmu tak pernah kembali. Bahkan sampai hari genap memasuki angka ke lima puluh dari usiaku, aku masih enggan belajar memahami sebab mengapa kita harus terlena untuk pernah menuntut paham, atas apa yang sebenarnya tidak begitu penting untuk kita pahami. Iya, sangat tidak penting!



Palopo, 30 Mei 2014
Di kamar sunyi, ditemani titik hujan yang berisik! :')





Template by:
Free Blog Templates