Senin, 09 Juni 2014

KASIH II



KASIH II
Oleh : Liyana Zahirah
 




Kasih,                                                                   
Sudah tak lagi kusaksikan biru mengarung di matamu
Lekuk bulan sabit di senyumanmu sudah tidak lagi bercahaya seperti dulu
Dan pelangi di matamu menjelma fatamorgana yang absurd
Maka biarlah kali ini, aku tenggalam bersama senja yang temaram
Hingga kawalan burung gereja mengantarkan bunga pada makam kenangan di hati kita


Kasih,
Barangkali memang sebaiknya seperti ini;
Meredam bara dalam tungku-tungku yang menyala,
Menyurutkan asa agar tidak melangkahi sisimu,
Lalu berakhir menjadi dinding-dinding kebisuan dalam dirimu


KASIH I



KASIH I
Liyana Zahirah




Kasih,
Kita pernah berjalan di lingkar-lingkar hari yang penuh onak
Mendayung-dayung kesejatian tanpa muara yang pasti
Lalu kita tegakkan asa di kepala-kepala yang penuh dengan kepal-kepal kecemasan
Dan kita kukuh, berusaha menanggalkan masa yang menyeret amarah-amarah dalam gerbong-gerbong hati yang merah

Kasih,
Kita pernah berjalan mengarungi musim dengan tongkat-tongkat yang penuh kepincangan
Meredam bara dalam tungku-tungku menyala
Sampai akhirnya tirai-tirai kepercayaan luntur dalam koyak-koyak pengkhianatanmu
Kau hias bibirmu dengan gincu-gincu cercaan
Lalu kau poles wajahku dengan garus-garis tanganmu yang kokoh
Kita amuk dalam badai-badai kepasrahan

Kasih,
Saat jingga tak lagi berwarna,
Biru tak lagi mengarung,
Dan merah menjelma abu-abu,
Maka kau tak perlu lagi melambai-lambaikan nista
Mengratkan golok di mulutmu
Lalu melucuti hatiku dengan madu-madu beracun

Kau yang Dulu Begitu Indah



Kau yang Dulu Begitu Indah
Oleh : Liyana Zahirah





    Denting waktu berjalan melambat. Sayup-sayup kurasa pelukanmu hadir di antara celah angin yang gigilkan malam. Kau yang dulu begitu indah semakin sulit teraba oleh hati. Kau yang dulu begitu manis, semakin samar dalam denyut nadi. 

     Dua windu yang lalu, hujan datang menertawakan kita. Menertawakan kepincangan kita atas apa yang dulu sering kita namai kasih. Lamat-lamat kita saling menatap. Menuang benci dalam amarah yang entah terjadi karena apa. Aku tak paham! 

     "Kita putus!" Katamu memecah kebisuan.
     "Putus? Kenapa?"

    Kau bisu, aku menunggu patahan katamu selanjutnya. Tak ada, kita bisu dalam amarah yang meluap-luap. Entah karena cinta, atau justeru karena kita mulai muak tentang hukum alam. Mengapa yang beda selalu mencari jalan untuk menepikan dirinya masing-masing. Entah--

***

     Kasih, aku paham mengapa selalu ada beda yang membuat rerentet jarak atas kita. Keyakinan, bukan. Iya, kita selalu tak pernah punya nyali untuk menyatukan langkah atas hal ini. Kita selalu tak paham bagaimana caranya membuat orang terkasih kita percaya, bahwa tak ada kata kebetulan di dunia ini, termaksud diantaranya pertemuan kita. Iya, kan?

     Kasih, angin di sini terlalu berisik. Hujannya juga selalu tak asik untuk diajak bernyanyi, apa lagi menari. Bagaimana dengan duniamu sekarang, kasih. Masihkah penuh puisi-puisi puitik untukku?


 ***
     
     Angin menerbangkan debu-debu, dalam deru cinta yang berdebu.
     Rinduku hinggap di telapak-telapak waktu
     Silih berganti tak tentu

     Kasih, Berapa waktu untuk kita saling mengenal.
     Berapa butuh untuk kita saling menyandangi
     Lalu berapa jarak yang kemudian hadir menepis rangkulan kita yang tak pernah sampai.

     Kini, hujan tak lagi membasahi
     Rinduku kerontang menahan dahaga
     Tak ada puisi untukmu lagi,
     Tentang cinta, rindu, dan apa-apa yang dulu sering kita sebut kasih.

     Jika mentari menyapa tanpa lelah
     Maka kini, aku ingin rebah dalam peluk - peluk tanpa nestapa

     Kasih, jika sembab merias wajahmu
     Maka aku akan lebam dalam kenestapaan abadi.
     Tersenyumlah, kita nikmati bersama opera ini

***

     Kasih, hujan di sini terlalu berisik. Tak asik untuk diajak berdialog, apa lagi untuk diajak bernyanyi dan menari. Bagaimana dengan duniamu sekarang. Masikah dipenuhi impian-impian klasik kita?

    Kasih, sudah dua windu rindu saling mencerca. Mengapa cinta hadir sebagai nestapa atas pertemuan. Dan lembar-lembar kenangan hanya jadi prasasti lusuh yang berdebu. 

    Kasih, mengapa harus ada beda di dunia ini? Lantas mengapa pula takdir pertemuan melingkar atas jalan kita. Jika ternyata siksa tetap menggidik dalam langkah-langkah yang kuyuh, maka mengapa kau setuju berpisah saat itu. 

    Kasih, kau yang dulu begitu indah, kini lusuh dalam paragraf-paragraf tak beralur!

***

    Kasih, aku tak pernah paham, mengapa beda hadir dalam lingkar takdir atas kita. Kupahami hatimu yang begitu cinta, dan kuyakin kau juga pahami tulus yang selalu tercipta. Namun, kasih. Di sisa hidup yang menua, aku tak berharap kau menyesal atas hidup yang dusta. Beberapa mulut telah kita paksa berbisu. Bebrapa mata telah kita paksa buta. Namun, kasih. Kita tetap tidak akan bahagia jika hanya berdua.

    Kasih, denting waktu yang kian genting saat itu. Aku memutar-mutar pikiranku. Mencari ide terbaik atas jalan yang harus kita lalui. Ayahmu mendesakku. Ayahku tak kalah riuhnya. Aku terdesak oleh kepala-kepala yang telah membuat kita hidup. Lelehan air mata ibu menggenang, kubayangkan ibumu yang juga demikian. Beban berat yang kupikul membuatku pincang. 

     "Kita Putus!"

    Kau tahu, kalimat itu menyiksaku. Dan harus kukatakan sebelum ayahmu menembak dirinya sendiri di hadapan kita--

     Kasih, berbahagialah atas dia yang kini di sampingmu. 

***

   

 

Template by:
Free Blog Templates