Kamis, 03 Juli 2014

PUISI UNTUK PAK REKTOR

Beberapa hari yang lalu, sebuah pesan masuk ke inbox facebook saya. Suatu hal yang mengejutkan, karena ternyata pesan tersebut dari Pak Rektor kampus saya. Sambil menunggu pesan terbuka untuh, saya merenung. Mencoba mengingat-ingat kesalahan fatal yang barangkali dalam waktu dekat saya perbuat di kampus. Saya rasa tidak ada. Iya, memang tak ada. 

Saya bukan mahasiswa aktivis yang selalu menyeret ban bekas untuk dibakar di depan rektorat. Angkat "toak" pun saya tidak pernah. Bukan karena tidak peduli dengan kelakuakn birokrasi yang terkadang membuat hati beberapa mahasiswa memanas, tapi karena memang saya tidak begitu tertarik melakukan itu. Lagi pula, saya ini perempuan. Tak wajarlah jika terlihat berkoar-koar menuntut sesuatu. 

Karena jaringan pada saat itu barangkali sedang kalut, saya pun kembali mengingat-ingat peristiwa fatal yang barangkali saya lakukan dalam waktu dekat ini. Barangkali bukan sama pihak birokrasi, tapi pihak prodi. Ah, tidak. Saya rasa saya juga belum mencoba cari masalah dengan pihak prodi. 

Lama saya berpikir mengenai kemungkinan-kemungkinan fatal yang pernah saya lakukan di kampus sehingga Pak Rektor berinisiatif menanyakannya melalu pesan di inbox fb saya, tapi hasilnya nihil. Saya merasa, saya tak punya salah apa-apa dalam waktu dekat ini. Saya memang berniat menanyakan mengenai KKN kepada pihak prodi dan birokrasi karena merasa sedikit rancu, tapi saya belum melakukan itu sewaktu pesan beliau mendarat ke facebook saya. Apa jangan-jangan Rektor saya punya feeling yang kuat? Ah, sudahlah. saya berusaha menepis anggapan-anggapan yang menyinggahi kepala saya.

Cukup lama saya menunggu sampai jaringan berbaik hati membuka pesan tersebut. Saya terkaget sewaktu membaca pesannya. Bukan surat peringatan, bukan pula sebuah teguran yang saya dapati, melainkan sebuah pertanyaan yang cukup buat saya tergelitik.

Beliau menanyakan mengenai sebuah puisi yang saya posting di dinding facebook saya. Beliau menanyakan pengarang puisi tersebut. Antara ragu, malu, dan takut saya berkata itu karya saya. Saya khawatir respon Beliau selanjutnya tidak seperti yang saya harapkan. Lama saya menunggu balasannya. Barangkali karena jaringan yang lagi suntuk sehingga balasan pesan saya harus terombang ambing dulu sebelum sampai ke Beliau.

Beberapa waktu kemudian, beliau merespon balasan saya. Dan sungguh di luar pikiran saya, beliau justru meresponnya dengan sangat positiv. Beliau bahkan meminta untuk dibuatkan sebuah puisi. hahaa..

Saya tersanjung mendengarnya. Terus tersang, saya enggan mengiyakan permintaan beliau. Khawatir jika saja saya tak bisa mengeluarkan diksi yang indah. Namun saya juga merasa berat menolaknya, jadilah saya mengiyakan saja requetsan beliau.

Saya akhirnya membuatkan sebuah puisi dengan judul "Kaukah Belahan Jiwaku", yang kemudian diposting dicatatan facebook milik kampus. Mengenai tema, beliau sendiri yang merequest. Beliau meminta tema yang berhubungan dengan belahan jiwa. Saya sendiri tidak paham mengapa. 

Beberapa jam kemudian, saya pun mengirimkan puisi tersebut ke pesan facebook milik beliau. Beberapa menit kemudia beliau post di catatan facebook milik kampus. Beberapa jempol saya lihat berhamburan memenuhi puisi itu, pun dengan komentar-komentar yang cukup membangun. Terusterang awalnya saya sangat khawatir akan jelek, namun saya berusaha percaya disi saja. Lumayanlah, ini bisa sedikit mengangkat citra jurusan saya yang kerap dipandang seblah mata.

Setelah melihat respon atas puisi tersebut cukup positif, saya pun kembali terpacu untuk lebih giat menulis. :)
Terkadang, kita memang tidak pernah menduga dari mana datangnya semangat-semangat itu.. ^_^


(PUISI UNTUK PAK REKTOR)

KAUKAH BELAHAN JIWAKU
Oleh : Liyana Zahirah

Kaukah belahan jiwaku?
Titah yang Tuhan titip padaku.
Yang kutemui tepat di ujung istikharahku dengan-Nya.
Yang menjadi lantunan bait dari serapah doa-doaku di pertigaan malam yang sunyi.

Kaukah belahan jiwaku?
Separuh dari tulang rusukku yang selama ini mengembara dalam hingar binar dunia.
Mencari-cari aku yang juga tertakdir untuk berjalan bersisian denganmu.
Menjadi imam penuntunmu, dan menjadi ayah bagi anak-anakmu.
Seperti kau yang digariskan hidup denganku,
menjadi makmum setiaku, dan menjadi Ibu bagi anak-anakku.

Kaukah belahan jiwaku?
Separuh alasan mengapa Tuhan lebih memanjangkan napasku atas bentang takdir hidupku.
Separuh alasan mengapa Tuhan lebih memanjangkan kesendirianku di ceruk kesunyian malam.
Agar kelak, kau yang mendekapku tanpa ragu.

Kaukah belahan jiwaku?
Yang berjalan pelan merapali ruang sunyi dalam sudut hatiku yang melompong.
Dengan seteguk cinta tanpa tawar serta alasan.
Kaukah itu, kekasih?

Palopo, 290614

(Karya mahasiswa Sastra UNCP)

Ket : Ini saya coppy kembali dari catatan facebook tempat beliau meletakkan puisi ini.


Template by:
Free Blog Templates