Minggu, 20 Juli 2014

KENANGAN PADA TUMPUKAN BAJU

Kenangan Pada Tampukan Baju


Ini sudah hampir empat tahun berlalu





Siang ini hujan kembali mengguyur. Saya betul-betul tak paham dengan musim di kota ini, terkadang di sela kemarau hujan tiba-tiba turun. Tak jarang pula sebaliknya. Barangkali memang tak ada menentu di dunia ini. Seperti hati, kadang berubah. Dan ingatan-ingatan yang tak betul-betul sempurna lekatannya.  

Beberapa hari lalu, saya dan beberapa teman-teman SMP berniat ke Malino. Salah satu tempat terkeren yang sudah pernah saya kunjungi beberapa kali. Beberapa kenangan juga berserakan di sana. Saya pernah ke sana saat musim stroberi sedang merah-merahnya. Pernah pula saat stroberi tak bemusim. Hanya pohon pinus yang setia di sana. Tak kenal musim untuk melihatnya bersenandung. Indah. tapi kali ini saya tidak akan menceritakan tentang Malino dan kebun teh, atau stroberi dan kuda-kuda yang bisa kita jumpai di pohon pinus, karena saya dan teman-teman SMP tak jadi ke sana. Yah, terkadang rencana bisa berubah haluan.  

Setelah batal ke Malino, saya jadi berpikir untuk mengunjungimu. Tetapi saat bangun dari tidur, genangan air sudah berkerumun di depan rumah, air juga tak betul-betul berhenti dari langit. Saya pun memutuskan untuk tetap di rumah dan tak ke mana-mana hari ini. Saya suka hujan juga menyukai matamu yang basah. Di sana juga ada kenangan yang terpelihara dengan baik. Di selipan hujan. Juga di kedipan matamu. Ah, kenapa juga saya bercerita tentang matamu dan hujan. Padahal kali ini bukan itu yang ingin saya ceritakan.  

Waktu menunjukkan pukul 14:30 beberapa saat sebelum saya menulis ini. Mama kedatangan seorang tamu yang entah dari mana. Saya tak melihatnya, hanya mendengar suaranya dan memprediksi kalau dia seorang wanita berusia beberapa tahun di bawah usia Mama. Dari percakapan mereka saya tahu, jika wanita tersebut berniat meminta baju bekas yang layak pakai. Karena rumah masih sangat berantakan, Mama hanya memberinya beberapa lembar pakaian saja. Dan menyuruh wanita tersebut datang berkunjung kembali setelah rumah betul-betul tertata rapi.  

Setelah wanita itu pergi, Mama bergegas menuju kamar si bungsu, memunguti pakaian-pakain yang tak terpakai dan masih layak pakai. Semua baju-baju sekolah pun tak luput dari tangan Mama. Saya hanya memerhatikannya sesekali sembari memencet-mencet tombol laptop. Sampai pada akhirnya mata saya betul-betul terusik saat Mama memperlihatkan sebuah baju berwarna putih yang dilumuri dengan warna-warni pilox tak bertata. Beberapa tanda tangan memenuhi baju itu. Saya bahkan masih hapal dengan beberapa nama yang ada di sana. Masa putih abu-abu memang selalu mengesankan. Haru memenuhi dada saya. 

Banyak yang berubah setelah hari itu. Beberapa adegan sering terucap berulang saat bertemu. Yang paling mengesankan saat-saat bandel-bandelnya dulu. Tak jarang pula, kita saling mengingat-ingat beberapa adegan yang terkesan menyebalkan waktu dulu. Ah, ingatan-ingatan memang kerap tak utuh. Tapi mengapa kita kerap selalu disibukkan untuk mengingatnya? Barangkali karena memang kenangan harus dipelihara dengan baik. Saya belajar itu dari seseorang. hahaa..  

Ssstt .. Salah seorang teman SMA nge-bbm saya. Jika hujan reda, barangkali saya tak akan berbuka di rumah hari ini  


Makassar, 200714

Template by:
Free Blog Templates