Senin, 04 Agustus 2014

Fajar, Edisi; Sabtu, 2 Agustus 2014

KESAKSIAN KUNANG-KUNANG DI MALAM PENGANTIN



Kusaksikan kunang-kunang menari di matamu malam itu. Bercerita lirih tentang pahat luka yang menyinggah di beberapa lekuk senyumanmu yang sabit. Dadaku sembap. Pelukmu penuh luka. Jika aku ada dalam daftar dederet nama yang menyobek separuh sayapmu, maka biarlah kau ambil separuh sayapku untuk terbang malam ini.
Kunang-kunang masih menari di matamu. Kau mendekapku erat. Memelukku dengan sayat luka penuh lubang. Kau bungkam tanpa bercerita luka. Meski begitu, kupahami hatimu masih menyimpan kecewa yang membiak. Ah, aku barangkali terlalu kejam untuk sebuah pengakuan. Tapi sampai kapan aku menyembunyikannya darimu. Sementara waktu tak memberiku jeda untuk menghitung mundur sebuah perpisahan.
***
Kau tak sungguh menangiskan? Bukankah seorang lelaki tak seharusnya menangis? Tapi matamu... matamu berair, sayang.
Dadaku sembap. Beberapa kenangan menari-nari di kepalaku. Kepalamu rebah dalam pangkuanku. Pahaku basah sebab matamu. Hujan turun dari bola mata kita.
Sudah berapa petak waktu yang membawa kita sejauh ini. Mengingkari kenyataan yang semakin hari semakin berwujud. Keluh lidahku harus kutahan. Harus kubertahu padamu sebelum hari itu betul-betul tiba. Bukankah kita harus siap atas semua kemungkinan? Termaksud jika itu sebuah perpisahan, bukan!?
Kau kerap berkata, bahwa pertemuan selalu hadir beriring dengan perpisahan. Hanya saja kita punya cukup waktu untuk menahan seberapa lama kita akan berada pada titik pertemuan dan tak melangkah menuju gerbang perpisahan itu. Tapi seberapa lama kita akan bertahan dengan ini. Desak semakin tak terelakkan. Namun kau ... Aku harus memberitahu ini padamu. Bahkan jika restumu harus kujinjing beriring air mata.
***
Malam ini seharusnya berlalu khikmad. Kebahagiaan seharusnya rekah jika yang datang besok adalah kau, lelaki yang telah menutup sekat-sekat kesunyian hariku selama lima tahun belakangan ini. Lelaki yang kukenal tanpa sengaja dari salah seorang sahabat SMAku.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Para tentangga serta keluarga berhias dengan bedak serta gincu-gincu rapi. Semua bahagia. Kecuali hatiku, juga hatimu, barangkali.
Apa yang bisa kulakukan sekarang. Kau bahkan tak menahanku untuk tak duduk di malam mappacci ini. Kau membiarkanku bersanding dengan lelaki yang tak kucintai sama sekali. Lelaki yang baru sekali kutemui. Itupun hasil dari desakan dari orang tuaku. Apa kau tak mencintaiku lagi? Tapi tak mungkin kau tak mencintaiku.
Aku bisa saja kabur dari rumah sebelum malam ini tiba. Namun kau melarangku. Kau tak membiarkanku melakukan hal konyol yang justru menurutku masuk akal. Bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana mungkin aku akan melalui seluruh hidupku dengan orang asing. Melahirkan keturunan bukan atas landasan cinta.
Kepalaku pening. Kupaksa senyum rekah memenuhi bibirku. Luka tak harus diumbar. Pikirku.
***
Tamu-tamu kembali memenuhi rumahku. Beberapa wajah yang akrab denganku satu-satu memasuki kemarku hanya sekadar untuk memberi ucapan selamat dan berfoto denganku. Ah, bagaimana bisa mereka semua bahagia?
Sebentar lagi aku akan resmi menjadi milik orang lain. kau berjanji akan datang dan menyaksikan ijab qabulku. Kita berjanji tak akan saling menitihkan air mata jika waktu itu tiba. Tapi apa aku sanggup menepati janjiku?
***
Tamu-tamu semakin ramai. Kudengar beberapa orang mulai memberi tanda bahwa mempelai pria telah datang. Dan itu bukan kau. Dadaku kembali sembab. Haru mengelus lembut mataku. Aku tak boleh menangis. Aku telah berjanji untuk tak menangis. Dan kau berjanji pula untuk datang dan memenuhi undanganku.
Ibu mulai menuntunku keluar kamar. Rumah betul-betul telah ramai. Dekorasi indah telah menutup beberapa cat yang mulai memudar. Mataku sedikit berair. Aku tak boleh menangis. Tak boleh!
Aku berharap kau tak datang dan melihat mataku yang merah. Atau datang dengan sebuah ketegasan. membatalkan pernikahanku dan mengajakku lari. Tapi itu tak mungkin terjadi. Aku tahu bagaimana kau begitu menghormati ayah ibuku, sekalipun mereka tak pernah betul-betul menyukaimu.
Mataku mulai menjajali isi ruangan. Kusaksikan penghulu telah hadir dengan segala kesiapannya. Aku masih mencarimu. Kau akan datangkan?
***
Kunang-kunag menari di matamu. Kepalamu rebah dalam pangkuanku. Pahaku basah sebab matamu. Hujan turun dari bola mata kita.



Template by:
Free Blog Templates