Minggu, 10 Agustus 2014

APA KABAR

APA KABAR?

Saat terbangun subuh tadi, aku mendapati tubuhku berada dalam pangkuan gigil yang begitu sekam. Sebuah alarm berdetak pelan, membawa beberapa ingatan memenuhi kepalaku. Gigil semakin memeluk dengan mesrah. Perlahan, hujan diam-diam berjalan dengan rute tak beraturan. Seperti sebuah alur cerita yang dibolakbalikkan dengan musik clasik sebagai saundtrack yang menghanyutkan.

Apa kabar?
Sudah berapa lama kau tak mengucap itu padaku? Aku rasa sudah cukup lama. Sejak hari itu -sebulan sebelum koma merampas sadarmu- beberapa pesan singkatmu sudah tak pernah memenuhi handphoneku. Namamu juga tak pernah lagi muncul ketika aku berselancar di dunia maya. Dan rencana-rencana kita ... kini hunus dalam lelehan kenangan. Yah, kenangan...

Hari ini, aku mendapati namamu lagi. Sebuah nama yang begitu akrab di telingaku. Sebuah nama yang dua tahun silam hadir mencicipi kue kering di rumahku. Sebuah nama yang selalu setia menanyai kapan kembaliku dari rantau, lalu menyusun rencana untuk sebuah reunian kecilkecilan. Sebuah nama yang dulu selalu memenuhi malamku dengan curhatan curhatannya... Yah, sebuah nama yang dulu!

Aku ingat, sebulan sebelum hari itu. Hari di mana koma merampas seluruh sadar dalam dirimu, hari di mana usiamu mendekati kedewasaan, dan hari di mana aku akan kembali ke kotamu. Kau menanyaiku tentang bagaimana kabarku, kapan aku akan pulang, dan bagaimana kita akan mengumpulkan sahabat-sahabat putih merah kita dalam sebuah reunian. Aku menjawab semua tanyamu dengan semangat yang sama. Rindu menjelma dalam cerita-cerita kita.

Kau ingat, dulu aku selalu jadi tukang posmu. Saat di sekolah, kau selalu menanyaiku cara membuat surat cinta yang bahkan aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Selepas sekolah, kau kemudian menitip surat itu padaku, dan keesokan harinya menagih balasannya padaku. Ah, aku terkadang tertawa geli kalau mengingat tingkah konyolmu saat sedang jatuh cinta dengan tetanggaku dulu.. Kau ingat itukan?

Beberapa hari lalu saat mengantar adik bungsuku ke sekolah, aku melihat sebuah pohon ketapang masih menancap kokoh di tengah-tengah bangunan yang rupanya sudah begitu cantik, tak seperti waktu kita menghuninya. Kau ingat pohon ketapang itukan? Itu tempat kita kerap bermain dulu, tempat kita berlari-lari tanpa berpikir akan terjatuh. Bahkan dalam beberapa keadaan, kerap menjadi tempat anak pramuka mendirika tenda-tendanya. Huft, semoga kau mesih mengingat itu..

Hari ini aku sudah berada di kotamu, tetapi kau sudah tak menghuni kota ini lagi. dan rencana rencana kita ....

Jika sempat membaca tulisanku ini, anggap saja kita sedang reunian di sebuah warkop kecil di sudut kota ini. Anggap saja wajah-wajah teman kecil kita hadir dan memecah keheboan di sini. Anggap saja semua yang pernah terencana dalam benakmu telah terjadi saat membaca tulisanku ini. dan di akhir pertemuan kita, aku datang membawa sebuah tart istimewa untukmu dengan iringan lagu yang begitu familiar di telingamu. Anggap saja seperti itu, seperti anggapan-anggapan yang tak mungkin lagi terwujud setelah hari itu.

Apa kabar?

Kue kering di rumahku masih banyak, tapi kau tak mungkin datang dan memberi salam ke rumahku. Maka biarlah kali ini aku yang memberi salam untukmu...

Selamat bertambah usia, Muh Ifran Priyanto.
Semoga ketenangan tetap memenuhi rumah barumu.
Aku sudah di kotamu, sebungkus doa sudah kusiapkan untukmu. Semoga sampai selamat di halaman rumahmu.

Makassar, 100814 (Di sudut kotamu, bersama ingatan, rindu, dan cerita cerita klasik kita)

Template by:
Free Blog Templates