Sabtu, 16 Agustus 2014

(Masih) Episode Rindu


; Perihal Lamaran dan Lampu Jalan



Hey, sudah berapa episode rindu yang kita lewatkan?
Adamu masih selalu absurd, membuat tiadaku semakin bias.
Lampu jalan menuju rumahku masih setia, jika saja kau tiba-tiba datang tengah malam dan hendak ketuki pintuku rumahku. Kau masih ingatkan jalan menuju rumahku? Sedikit berkelok memang, tapi aku percaya kau adalah pengingat yang hebat. Aku sudah siapkan jemari untukmu, untuk kita gunakan menghitung episode rindu setelah berjumpa nanti. Kau masih ingat rumahku kan? Pagarnya masih bercat hijau, hanya saja dua pohon mangga hasil tangan ayah telah terpangkas rapi. Ah, aku rasa hal itu tak akan menganggu ingatanmu.

Kebiasaan insomniaku perlahan menurun. Aku juga sudah jarang menyeruput kopi. Asam lambungku kerap protes tiap kali menghitung jumlah tegukan kopi yang berhasil melewati kerongkonganku. Serupa hatiku yang selalu protes akan tiadamu. Tapi tenanglah, itu bukan sesuatu yang harus kau pikirkan.

Malam ini purnama tak hadir, lusa segerombolan akan bertmu kerumahku. Membawa cincin serta beberapa erang-erang khas pengantin. Kau tahu, ayah ibuku begitu bahagia karena putrinya sebentar lagi akan berkeluarga. Aku juga merasa bahagia. Aku jadi membayangkan jika yang datang lusa adalah ayah serta keluargamu. Pasti kita akan menghabiskan malam ini dengan dialog-dialog kegelisahan. Lalu beberapa waktu sebelum lusa tiba, kita telah sibuk mencari cincin yang tepat, menerka-nerka tanggal yang baik untuk melangsungkan ijab kabul, lalu merencanakan bulan madu yang indah.

Hey, sudah berapa episode rindu yang kita lewatkan?
Adamu masih terlalu absurd. Apa kau masih setia pada kopimu? Ayah dan ibuku kerap menanyaiku tentangmu. Aku hanya tersenyum setiap kali mereka menggodaku. Sesekali bertamulah ke rumahku, mereka sangat penasaran perihal wujudmu. Malam ini aku tak akan begadang, seseorang melarangku untuk selalu begadang. Katanya, tak baik untuk kesehatanku. Sebab itu, kau juga tak harus selalu begadang.
Ayah ibuku sudah terlelap. Subuh nanti, beberapa keluarga akantiba di rumahku. Rumah akan ramai dipenuhi kerceriaan. Aku akan segera tertidur setelah menulis ini. Jika tak sempat bertamu ke rumahku, cukup bertamu ke mimpiku malam ini. Tak perlu sertakan ayahmu, cukup bawa dua cangkir kopi untuk kita seruput bersama.



Makassar, 160814

Template by:
Free Blog Templates