Selasa, 26 Agustus 2014

Tentang Pagi

; Janji dan Tumpukan Naskah Tak Beralur


Ini adalah tulisan pertama yang kutulis setelah kastil kecilku ini (blog ini) berubah wajah. Semakin berserihkan? Semoga kalian menikmatinya ^_^.

Sudah hampir seminggu aku di kota ini. Tak ada yang berubah. Nenek masih setia dengan gelapnya, dan tante dengan gagasan-gagasannya. Satu hal yang berbeda di kota ini, hujan. Hujan selalau lupa bersembunyi. Di akhir agustus, ia masih memonopoli musim. hehehee...

Sebelum kembali ke kota ini, aku sudah menanam beberapa janji; Pertama, akan mulai tekun menulis -menyelesaikan naskah novel yang sampai detik ini belum menemukan titik terangnya-. Kedua, akan menghidupkan Puntilolo Art (sebuah sanggar seni yang  kugagas dengan beberapa orang teman). Ketiga, fokus atas studi semester akhir. Dan terakhir, ingin cepat kembali ke kota itu -kota yang dipenuhi kenangan- meskipun pada akhirnya aku mungkin tidak akan menetap di sana.

Perihal janji pertamaku, aku barangkali akan kembali menundanya. Bukan karena malas, tetapi ada manuskrip puisi yang hendak kuselesaikan terlebih dahulu. Terusterang saja, aku lebih jatuh cinta dengan puisi. Mantra-mantra di dalamnya bisa menyihirku untuk berkutat lebih lama di depan laptop. Ini sungguh, looh..! Namun perihal janjiku, aku tetap akan menyelesaikan naskah novelku.

Beberapa waktu belakangan, selain menulis puisi, aku juga belajar menulis cerpen. Bukankah langkah besar di mulai dari satu langkah kecil? Yah, aku mulai belajar menulis cerpen sebagai langkah awal sebelum menyelesaikan naskah novelku. Doakan aku, semoga bisa setia dengan janjiku ini! :D

Perihal janjiku yang kedua, akan segera kurealisasikan! Kami sedang menanti moment untuk meluncurkan sebuah single (lagu) *chiee.. macam artis saja. hehee :D

Perihal janjiku yang ketiga, ini wajib! Tahun depan aku sudah harus hengkang dari kampus. Janjiku pada diri sendiri -menitip karya di kampus- sebelum lulus akan segera kurealisasikan. Sebuah antologi Puisi hasil tangan teman-teman kelasku akan segera kuserahkan di beberapa petinggi kampus. Jika memungkinkan, aku akan menitip pula di perpustakaan. Mengajak beberapa kepala untuk mencintai sastra ternyata tidak mudah. Butuh pendekatan dan mantra-mantra khusus, pemirsa! -_-'

Dan perilah janjiku yang terakhir.. Aku tak bisa menjamin. Berada di semester akhir justru menjadi beban tersndiri di kepalaku. Ke mana selanjutnya telapakku akan berpijak? Itu masih selalu menjadi teka-teki yang berusaha kupecahkan. Kembali ke Kota Daeng dan meninggalkan nenek rasanya menjadi sulit setelah tiga tahun di sini. Menetap di sini juga bukan pilihan yang mungkin akan kupilih. Aku mulai gencar menceritakan niat melanjutkan studi pada ayah ibuku. Beberapa universitas juga sudah kuajukan sebagai bahan persetujuan mereka. Bukan Kota Daeng, barangkali. Tapi ... Akh, sudahlah. Sebaik-baiknya perencana ialah Tuhan. Apa yang terbaik meurutNya, maka biarlah menjadi jalan atas jalanku setelah ini.

Pagi ini aku masih disibukkan dengan undangan yang sebentar lagi akan diedarkan. Undangn pernikahan. Tapi bukan aku yang akan menjadi mempelainya. hehehee.. Banyak yang kemudian bertanya, kapan aku akan menyusul? Jawabku, kapan-kapan... Aku juga ingin menikah, tapi belum sekarang. Masih ada beberapa mimpi yang hendak kuwujudkan. Jadi, Mama dan papa tak harus sibuk menjodoh-jodohkanku dengan pria ini itu.. Bukankah maut, rezki, dan jodoh sudah ada aturannya? Tulang rusuk tidak akan mungkin tertukar. Siapa dan bagaimana rupanya, cukup jadi teka-teki untuk saat ini. :) *ini bukan sok tegar lohh!! -_-

Kusudahi dulu tulisanku kali ini, beberapa nama masih mengatri untuk segera diketik. Aku berharap, namaku dan namamu (entah siapa) kelak juga akan menjadi mempelainya.  *apasih!

keh keh keh :D


Palopo, Agustus 2014 










Template by:
Free Blog Templates