Senin, 01 September 2014

Perihal Rindu

; Menulis Caraku Merindukanmu


Hey, sudah berapa lama kita bertahan, teguk rindu dari bola mata sendiri? Sudah berapa purnama peluki sendirimu? Apa kau masih setia menghitung titik embun?

Malam ini, rindu mengendap-ngendap ketuki mataku. Menyeret wajahmu penuhi cermin tempat aku biasa menatap diriku sendiri. Sesekali, aku biasa berkhayal, jika kau ada di belakangku. Kita memandangai wajah kita bersama pada satu cermin yang sama pula. Sesekali pula, aku membayangkan, kau menggelitikku dengan mesrah dan membuat si cermin cemburu. Ah, sekali lagi, aku hanya membayangkannya saja.

Saat merindukanmu malam ini, aku tak bisa apa-apa selain menulis. Yah, menulis adalah caraku mengobati rindu atas dirimu. Entah mengapa dan bagaimana hingga pada akhirnya rinduku bisa sedikit terobati dengan menulis. Setiap kali aku merindukanmu, aku hanya ingin menulis. Apa saja. Dengan begitu, rinduku bisa sedikit menguap. 

Huumm .. 

Apa lagi yang ingin kutulis sekarang. Aku bahkan tak tahu harus menulis apa. Jika terus menulis aku merindukanmu, aku khawatir akan membuat kupingmu panas. Jika berhenti menulis, aku khawatir rindu semakin merongrongku. Apa yang harus kulakukan? Bahkan berkata sepatah kata pun padamu aku tak sanggup...


Bagaimana kalau aku membaca saja?





Template by:
Free Blog Templates