Jumat, 19 September 2014

PERIHAL RINDU III

; SEKOLAH dan RUPA KUTUKAN  




Apa yang kalian ingat dari masa putih abu-abu? 
Bukan sekadar sebuah seragam yang membalut, tapi juga rentet cerita yang barangkali -seperti yang saya rasakan- sulit terhapus dari rekaman otak kita. Yah, sebuah upacara bendera setiap hari senin, lalu jadwal olah raga, peer, dan ehem.. odo'-odo'

Senin lalu dan senin - senin berikutnya, barangkali saya akan banyak-banyak bernostalgia dengan masa itu. Masa putih abu-abu. Masa di mana banyak hal yang mengesankan yang terjadi. Heeuuww .. Tuh kan, teringat lagi... 

Mendapat tempat PPL di sebuah sekolah menengah ke atas bukan perkara yang mudah, menurutku. Bagaimana menghadapi siswa yang baru saja memasuki masa transisi ke remaja menjadi tantangan tersendiri. Saya teringat masa putih abu-abu dulu. Saat jam pelajaran yang dianggap membosankan, saya sering bolos ke kantin. Biasa pula, di tengah jam pelajaran, saya izin ke wc yang buntutnya berbelok arah ke tukang batagor dekat kantin. Yang tak akan saya lupakan waktu mogok belajar massal. Ehmm.. alasan ini sedikit rahasia. 

Belakangan, kenakalan-kenakalan unik semasa es-em-a inilah yang kemudian menari-nari di kepala saya. Bagaimana kalau siswa saya nanti seperti saya dulu. Apa harus saya juluki "anak ayam" seperti julukan yang diberikan guru kimia saya dulu, karena sering mengendap-ngendap keluar kelas saat beliau sedang mengajar? Atau bagimana kalau siswa-siswa saya memberi saya julukan macam-macam seperti yang juga dulu sering saya lakukan -memberi julukan-julukan kepada guru- karena jengkel. Pak dollar, misalnya. Atau Pak buldog, atauu bu (tiiitttt..). Ouhmaygat.. Ampuni dosa saya duluu, Tuhan! ^_^

Saya jadi khawatir kutukan guru saya dulu betul-betul terjadi. Saya selalu ingat, dulu sewaktu guru-guru saya masuk mengajar ada mantra serupa kutukan yang selalu tergerai dari mulut guru saya. Dan bahkan mantra ini pun masih sering saya dapati saat dosen saya mengajar. Kurang lebih mantranya seperti ini "Suatu hari, kalian pasti akan merasakan apa yang seperti saya rasakan. Saat kalian mengajar, menjelaskan, dan murid-murid kalian ribut tak memperhatikan". Saya yakin, kalian juga pasti sering mendengar mantra itu. 

Senin, 15 Sep 2014 
Pukul 07.00, ini kali pertamanya saya kembali mengikuti upacara bendera setelah kurang lebih tiga tahun fakum. Yah, semenjak lulus es-em-a, ritual senin; upacara bendera, bukan lagi hal yang musti diwaspadai. Tak harus lagi sibuk mencari topi dan dasi yang tercecer di rumah. Atau mencari alasan agar pak satpam sekolah berbaik hati membuka pagarnya lebih lama. Yang lebih ekstrim lagi, tak harus sembunyi dikolong meja biar tidak ketahuan tak ikut upacara. 

Yah, ini kali pertamanya saya kembali ikut upacara bendera dengan barisan yang berbeda. Sejajar dengan staf dan guru. Heuww.. ini hal yang sering saya dambakan waktu es-em-a dulu. Dan rasanya? Sama saja. Bahkan pegalnya lebih terasa karena sepatu yang digunakan hak-nya sedikit lebih tinggi -_-.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan, ini masih minggu pertama saya ditempatkan di sekolah ini. Masih tahap observasi dan pengenalan saja. Saya sempat masuk dan memperkenalkan diri di sebuah kelas. Kelas X Ipa I. Kelas yang berisi tapi ribut. Tak ada tingkah luar biasa selain lawakan serta tawa mereka yang pecah tak beraturan. Kelas yang kocak, unik dan heboh. Yang unik, dalam kelas itu ada si kembar Hasan dan Husain yang tiap kali saya melirik, matanya berkedip-kedip gak jelas. Hehehe .. Dasar anak abege. -_-

Saya masih berharap, di kelas-kelas yang lain -yang belum sempat saya masuki- siswanya tidak macam-macam. Ehm, saya jadi berpikir untuk mencari siswa yang karakternya hampir mirib dengan saya sewaktu es-em-a dulu. hihihii :D 



Palopo, 20/09/14



 





Template by:
Free Blog Templates