Selasa, 30 September 2014

MONOLOG RINDU

:KUTITIP INI





Seberapa lama kita sanggup mengunci rapat mulut, ketika hati mengetuk, memecah riuh. Dan gelombang membawa nama-nama kita menghampiri senja.
Pada lipatan hari keberapa kita akan berani; melafalkan beberapa frasa meski terbata, meski malu serta sedikit ragu. Lalu saling menautkan genggam dengan serapah janji tanpa khianat.

Kau dan aku serupa...
Sebuah luka yang hadir dari masa yang entah -
Menyembunnyikan lebam yang berbeda, dalam pepuisi
Lalu tersenyum saat saling bertemu dalam prosa tak berjudul..

Jika juntai doa cukup mampu membuat hati kita temui rindu yang kikuk,
Maka aku, si kaku yang selalu manjadi bisu atas beberapa rasa padamu ingin berterus terang

;  matamu serupa arak yang memabukkan,
Senyuman serupa sabit yang menenangkan
Dan suaramu serupa angin yang menyejukkan..

Kutitip padamu hatiku,
Sebelum malam menjelma purna,
Dan bintang-bintang mencurimu dari tatapku;

Tak pernah ada lupa mencintaimu,
Dengan cara yang tak biasa ...  
Dengan cara yang tak biasa ...
Dengan cara yang tak biasa ...


:)

Palopo, 30 Sep 2014 (Diringkuk sepi)





Template by:
Free Blog Templates