Kamis, 16 Oktober 2014

Denting Lagu

; (Masih) Tentang, Er




Er, entah --
Aku harap kali ini kau sedang bergurau padaku. Kau membuat napasku terengah, seseaat setelah tak kutemui namamu di dederet nama yang sering menyapa pagiku. Er, kau tahu, ilalang berbisik lirih padaku pagi tadi. Katanya, kau merindukanku. Benarkah begitu, Er?

Er, kau tahu, aku sedang berputus asa sesaat setelah tahu, kau baangkali hanya akan menjadi figur dalam ketidakmampuanku. Iya, ketidakmampuanku bersamamu... Samar kubaca, bimbang gelantungi hatimu, Er. Matamu mengedip berkali-kali. Lagi dan lagi. "Semoga bukan pertanda buruk" hanya itu yang mampu kuucap, Er.

Er, oktober telah menyapa. Hujan sudah tak pernah mengetuk jendela kamarku setiap malamnya. Cuaca berubah sangat panas ketika malam hari, dan daun-daun berserakan penuhi teras rumahku setiap paginya. Kau tahu, aku tak begitu menyenangi musim gugur, Er. Beberapa daun masih muda sudah jatuh lebih dulu. Ah, sungguh, Er. Aku tak begitu menyenangi musim gugur... Sebab khawatir, rindu juga ikut gugur dari hatimu.. Ah, kecemasan macam apa ini!?

Er, kemarin aku berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan kota ini, sebuah lantun lagu memekik penuhi telingaku. Dadaku berdegup dan kepalaku dipenuhi bias wajahmu. 

"Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta, kepadaku" sebuah lirik lagu klasik menggaung. Aku lupa siapa penyanyinya, tetapi aku yakin, kau tak pernah lupa kepada siapa kau pernah menyanyikan lagu itu.

Bukan, Er... Bukan untukku. Lagu itu kau sembahkan untuknya. Untuk seorang... 
Seseorang yang entah --
Cukup kupahami, hatimu sedang dilanda nyeri ... 



Palopo, 161014

 


Template by:
Free Blog Templates