Selasa, 21 Oktober 2014

No Choice But Seduction

Johanna Lindsey 

; Jerat - jerat Cinta Sang Kapten


Ini adalah kali pertamananya saya membaca karya Johanna Lindsey. Sebuah novel dengan ketebalan yang hampir mencapai lima ratus halaman (hampir). Dan wow ... imajinasi saya menjadi sangat liar saat membacanya. 

Saya membayangkan jika saja saya adalah seorang Katey Tyler, wanita petualang yang hendak menghabiskan beberapa babak dalam hidupnya hanya untuk melihat belahan dunia yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Memutuskan tak jatuh cinta dengan berpura-pura telah menikah saat bertemu seorang Boyd Anderson. Sosok penyayang, juga pemberani. 

Johanna Lindsay berhasil membuat saya ternganga saat tahu, bagaimana kehidupan seorang keluarga Malory yang begitu erat. Saya merasa akan sangat beruntung menjadi seorang Katey, yang pada akhirnya ternyata merupakan keturunan keluaga Molory. Meskipun fakta itu baru ia ketahui nanti, setelah ia telah memasuki usia kedewasaan dalam hidupnya.

Babak menegangkan dalam kisah ini ialah ketika Katey berhasil menyelamatkan Judith, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun, yang juga merupakan keluarga malory. Bagaimana mungkin seorang Katey bisa melakukannya dengan sangat berani, meskipun dengan sedikit khawatir akan keselamatannya, toh pada akhirnya ia berhasil menyelamatkan Judith.

Awalnya, saya mengira Johanna Lindsey akan membawa saya pada sebuah alur yang penuh dengan misteri. Saya sempat membayangkan Judith tak akan kembali ke rumah keluarganya. Ternyata dugaan saya salah. Justru pertemuan Katey dengan Judith merupakan awal dari petualangan sesungguhnya yang dilalui seorang Katey.

Ehhm, dan mengenai Boyd Anderson, dia itu pria yang tampan meskipun sedikit keras kepala. Saya suka setiap adegan saat Boyd Anderson bertemu dengan Katey. Bagaimana Boyd Anderson menatap Katey, berbicara, dan melamar Katey. Sungguh, sesuatu yang sangat romantis, menurutku.

Ketika menuntaskan bacaan ini, saya jadi berpikir kau serupa dengan Boyd Anderson. Begitu keras kepala dan begitu memikat. Saya sendiri tak paham, mengapa tak bisa berpikir jernih tiap kali berada di dekatmu. Saya selalu merasa, detak jantung saya di atas normal ketika bertemu denganmu. Akh, sudahlah. Bagaimana pun, pada akhirnya Katey dan Boyd memutuskan untuk menikah. Katey akhirnya menyadari, betapa ketiadaan Boyd membuat harinya membosankan. Meskipun terkadang Boyd terkesan menyebalkan, tetap saja hanya Boyd yang dapat membuat perjalan Katey menyenangkan.

Hey, saya jadi berharap bukan hanya Katey saja yang pada akhirnya hidup bahagia bersama Boyd Anderson. Juga kita - aku, kamu-- 

hehehe :D

"Kita akan memiliki seluruh hidup kita untuk melihat dunia. Tidak perlu melihat semuanya dalam waktu satu atau dua tahun."  


Palopo, 21 Oktober 2014

Template by:
Free Blog Templates