Minggu, 02 November 2014

PELEPASAN

KEPULAN CERITA DI ANTARA TERIK





Hiuuhh, waktu melesat terlalu cepat. Saya bahkan masih menerka; apa sudah cukup berbagi yang saya punya. Esok akan jadi cerita, jika pernah beberapa pekan, saya menghabiskan banyak letih di tempat itu. Dulu sekali, di awal penempatan -yang sama sekali tak saya duga akan di tempatkan di sana- eluh selalu meronta. Berharap penuntasan beban segera tuntas. Bayangkan saja, betapa tidak asiknya menghabiskan jam tidur siang dengan mengendap - ngendap di ruang olah raga. Menyusun meja sembari berbaring, berharap tak ada yang mengintai dan menerobos masuk selain dari kami. Aku dan kedua temanku, yang tidak kalah eluhannya.

Belum lagi jika menemukan siswa yang ribut saat menjelaskan. Itu menyebalkan sekali, rasanya. Tetapi, itu tidak berangsur lama. Minggu - minggu kedua, saya mulai merasa terbiasa dengan lakon baru itu. Saya mulai terlatih menanggalkan ritual terlambat yang telah melekat lama dalam diri saya -meski sesekali masih biasa melakukannya-. Saya merasa akrab dengan beberapa hal baru yang sebenarnya dulu juga sering saya lakukan. 

Bagaimana bisa saya tidak terkekeh, saat menemukan siswa yang mengendap - endap "ngemil" saat pelajaran berlangsung. Bukankah dulu, saya juga pernah melakukan hal serupa?! Bahkan dulu, beberapa teman saya sering protes ketika mendapati laci saya penuh dengan bungkusan cemilan di hari piket mereka. Selain itu, saya juga pernah dibikin tergelitik oleh siswa yang saling curi - curi pandang saat pelajaran berlangsung. Ah, mereka sedang kasmaran. Saya juga pernah berada di posisi seperti itu, dulu. Dulu!

Besok bukan waktu yang tepat memunguti kenangan. Sebab itu, saya ingin menulis ini sebelum hari itu datang. Saya barangkali pernah merasa ingin sesegera tuntas, tetapi setelah hari ini, saya merasa sangat rindu untuk berbagi dengan kalian kembalii..

Siswa - siswi yang gifo ini selalu menanti berpose dengan kami :D


Ini yang saya maksud kami :D

Sewaktu di kantin,
Kita sering berbincang mengenai sop ubi
hahaha ..

PERAYAAN, KADO, DAN PUISI

UNTUK, NOVI

 Berbuka puasa dengan wajah cu'mala


Waktu jelas tak bisa menunda. Jika saja dan mungkin bisa terus berangan, namun tetap tak bisa menghalau jarum jam untuk tak menanjak menerobos hari. Jemari tidak cukup lihai menghitung hari yang gugur setelah keharusan menjadi tanggung jawab baru dalam hidupku. Aku tak punya kuasa atas sesuatu yang jelas, kau -bahkan aku- tak pernah pahami mengapa harus hadir di antara pilihan yang tak pernah kita ajukan. Menyalahkan sesiapa atau pada apa bukan pula solusi yang tepat, bukan?

Perayaan tahunmu yang ketiga setelah hari itu. Tepat jatuh hari ini. Aku tak menyiapkan bingkis kado seperti di dua tahun sebelumnya; boneka panda, bantal panda, atau segala manik - manik panda kesukaanmu pun tak kusiapkan. Hanya mata panda yang mungkin bisa kau lihat sesekali jika nanti kita bertemu. Namun itu tak akan kukadokan, untukmu. Segala cerita pernah jelas terekam di sana. Air matamu juga pernah membuatnya basah. Kau ingatkan, saat perayaan ulang tahunmu yang ternyata -- akhir tahun kebersamaan kita di masa itu. Kau sedikit cengeng waktu itu, dan aku terlihat lebih berani membelamu. Meski di akhir, kau bisa pahami semua hanya fiktif. Bukankah yang selalu paling berani adalah, kau? Iya, bahkan ketika geramku sengaja tak kuluapkan, kau malah menjadi amarah yang meledak pada sesiapa yang membuatnya ada. Heh, kau memang sahabat yang peka. Sekali pun begitu, aku tetap tak akan mengadokan mata pandaku padamu.

Semalam, aku menulis sebuah puisi. Hendak kukadokan tepat saat jarum jam menuntaskan usia ke-20 tahunmu. Hanya saja urung kuberikan, sebab sebaiknya kekasihmu yang lebih dulu memberimu kado. Sedikit tak masuk akal, memang. Tapi tetap saja harus begitu.

Selamat atas usia barumu. Rapal janji masih terpatri di kepalaku. Kita masih akan menua bersama; bukan sebagai sepasang kekasih, tentunnya -karena jelas hal itu menyimpang-, tetapi sebagai sepasang sahabat. Selanjutnya jadwal liburan yang telah kita susun setelah mapan nanti; Bali dan Timur Tengah. Semoga sempat kita wujudkan -- kelak.

Kau tahu, hempas jarak selalu membut rindu menggumpal.
Kepalaku selalu dipenuhi coret - coret usang masa remaja kita.
Kau tak lagi menyontek pada kertas tugasku,
Meski kadang, kita rindu duduk di bangku yang sama pada ruang kelas itu.

Uh, perayaan memang selalu punya ceritanya sendiri.
Aku memilih meletakkan kita pada kotak kenangan
Jika kelak kau menjambangi rumahku
Aku kuberitahu anak - anak dan atau bahkan cucu - cucuku
Kau, sahabat tebaik yang pernah setia memapah hariku

Selamat menapaki usia barumu
Kita telah sama dewasanya
Meski tak tahu, siapa yang lebih dulu menua --

Di usiamu yang ke-21
Semoga kau tak mengingat jika kita pernah jatuh dari motor bersama. heheh..


Merindukanmu dari jauh, Chugil :*




Template by:
Free Blog Templates