Senin, 24 November 2014

SECANGKIR KOPI DAN PERKARA TUBUH YANG HARUS LUPA



Kali ini, aku tak sedang menghitung gelas-gelas kopi yang lesap dalam jamuan bibirmu. Juga tak sedang bergerutu perihal kecoak yang masih setia pada nampan makanan, nenek. Aku sedang belajar memaknai sebuah mantra, yang diajarkan salah seorang juniorku di kampus. Katanya, mantra itu memang akan berguna di beberapa keadaan genting. Yah, seperti malam ini, jamuan tugas kampus (kembali) membujukku untuk rujuk dengan kopi. Dan, perihal mantra itu.. juga berlaku bagiku, saat ini (mungkin).

Harus kuakui, perkara tengah malam terkadang terlalu berat. Apalagi saat republik rakyat cacing dalam perutku minta diberi cemilan. Memerdekakan perut juga perihal yang penting, jika saja ...  malam tak selarut ini. Maka segelas kopi telah cukup sebagai penyangga mata, juga penyokong perut, menurutku. Jangan mengira aku sedang diet! Hanya saja, sulit untuk tak tergoda membeli coklat jika harus menyertakan cemilan saat begadang. Sekali lagi, aku tak sedang diet!

Perihal mantra yang kumaksud tadi, tak usah dipertanyakan. Karena sebenarnya hanya sebuah ungkapan biasa yang sering dilontarkan ketika berhasil memaksa tubuh untuk lupa pada; ranjang, kasur, guling, dan langit-langit kamar yang setia menunggu tuannya. Juga, dalam menyelesaikan hal-hal yang menjebakmu dalam kesulitan, seperti begadang (barangkali).

Tugas kampusku telah kelar. Besok, beberapa agenda telah berbaris rapat untuk menjamuku dengan ucapan "selamat pagi, semoga kau tak lupa ini hari apa?" Dan, tentu saja, aku tidak akan lupa jika besok adalah hari selasa. Hari yang "mendumba-dumba -kan", menurutku. Hari pembuktian, juga hari kenyataan. Uh, semoga jarum jam yang baik hati mau berjalan lambat malam ini. 

; sebuah judul skripsi telah kusiapkan, juga draft tugas yang pekan lalu luput dari ingatanku. Kali ini, aku tidak akan mengecewakan beberapa orang, juga seseorang, dua orang, dan orang-orang yang (juga) kekenali dan ada tautannya dengan perkara-perkara, besok. Ini bukan perihal judul skripsi yang telah kusiapkan, juga draft tugas yang telah rapi. Ini perihal mantra yang diwariskan dari juniorku di kampus. Dan, mujarab! Tapi, di beberapa keadaan berikutnya, aku (mungkin) tidak akan menggunakannya lagi. Ini tak ada kaitannya dengan mantra "sim salabim", yang lazim di telinga banyak orang. Sungguh! Dan jika kau penasaran mengenai mantra itu, datanglah berguru padaku dengan membawa beberapa cemilan. Sertakan coklat, juga puisi. Bisa jadi, kau adalah mantra yang masih rahasia dari aku.



Palopo, 25 Noveber 2014 (ditemani kemerdekaan insomnia)






Template by:
Free Blog Templates