Senin, 01 Desember 2014

Dunia Shopie, Ramalan, dan Kado

Saya baru saja tiba pada halaman ke-105 dari novel ini, Dunia Shopie. Sebuah novel filsafat karya, Jostein Gaarder. Seperti halnya Sophie yang keheranan dan bingung saat pertama menemukan sebuah surat. Saya pun juga demikian. Kali pertama melihat novel ini, di rumah kedua saya, sekretariat HMPS-PBSI. Puluhan pertanyaan menghujani pikiran, saya. Bagaimana cara Jostein Gaarder menyelesaikan novel dengan ketebalan-700 halaman ini? Lantas apa yang menarik dari sebuah novel filosof? Mungkin Jostein Gaarder juga ingin menjadi seorang filosof, atau jangan-jangan dia memang telah menjadi filosof? Saya tak tahu, dan baru akan mencari tahu setelah menamati novel ini.

Saya mulai membuka dan membaca novel ini kemarin dengan keadaan yang sedikit kurang fokus, sehingga beberapa kali harus kembali membuka halam sebelumnya, dan mencerna beberapa halaman yang saya anggap menarik. Saya mulai memikirkan beberapa hal yang selama ini mungkin luput dari pikiran saya, pikiranmu, dan pikiran beberapa orang, -mengapa orang dewasa tak lagi mau bermain bongkar pasang, mengapa anak kecil selalu dipandang remeh dengan pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal, atau mengapa semua orang ditakdirkan hidup ,lalu mati kembali, dan hidup kembali (begitu yang dikisahkan)-. Apa semua pertanyaan harus dijawab secara rasional? Lantas mengapa wanita cenderung bersikap tak rasional. Saya juga, kadang-kadang. Barangkali, sebab itu sehingga filosof-filosof (dulu); Thales, Anaximander, Parmenides, Empedocles, Demucratus, dan yang lain -kecuali Shopie- semuanya lelaki. Saya tak tahu, dan saya masih akan bertanya-tanya sampai halaman di novel ini tuntas saya baca.

Siang ini, saya kembali menyeruput ice cappuccino buatan saya sendiri. Saya tak peduli dengan kado awal desember dari, Tuhan -entah bagi kalian ini kado atau karma- tapi saya lebih senang menyebutnya kado. Sebuah pipi bengkak yang entah karena akan hadir anak gigi baru, atau karena sebab yang lain (saya tak tahu, dan akan mencari tahu). Saya hanya menikmatinya dan tetap melahap makanan apa saja, tanpa peduli itu pedas, dingin, manis, dan apa pun. Bukankah segala sesuatunya memang harus dinikmati dan disyukuri? Termaksud jika pipimu harus bengkak sebelah karena sebentar lagi akan melahirkan gigi baru (semoga proses persalinannya dimudahkan).

Saya kembali ke dunia Shopie yang juga penuh kado dari seseorang misterius, bisa jadi seorang filosof (saya belum menamatinya jadi belum bisa memastikannya). Saya merasa, betapa beruntungnya menjadi Shopie, diusianya yang terbilang kanak, dia telah menemukan dunia baru yang tak akan ditemui oleh teman-teman sebayanya. Pembelajaran mengenai ilmu filosof, yang bahkan baru saya minati setelah duduk di bangku perkuliahan.

Satu hal yang menarik yang sempat saya baca dari novel ini, mengenai takdir. Sampai detik ini, saya terkadang masih sering bertanya-tanya mengenai takdir yang kesannya terlalu rahasia. Apa benar segala yang terjadi di dunia ini telah ditetapkan? Maksud saya, apakah tak ada cara lain mengubah takdir? Misalnya menukar kematian. Saya memilih tak mati dan membiarkan orang lain mati menggantikan saya. Apa boleh seperti itu? Atau, memang benar yang dikatakan orang yunani mengenai fatalisme? Mereka percaya bahwa apapun yang terjadi telah ditentukan. Meskipun di beberapa zaman, masih ada saja kepercayaan mengenai ramalan.

Pernah suatu waktu, saya diramal oleh nenek saya melalui garis tangan. Beliau mengatakan bahwa, jodoh saya nantinya adalah seorang duda. Dan bisa dipastikan, saya sangat terkejut mendengar hal tersebut. Tentu saja saya tak percaya, meski ada sedikit kekhawatiran dan pertanyaan yang muncul setelahnya. Apa jodoh saya seorang duda? Atau, nenek saya hanya bercanda, saja? Saya tak tahu. Dan masih tak mau tahu (semoga kalian tak sependapat dengan nenek saya).

Ramalan melalu garis tangan mungkin bukan sesuatu yang baru lagi. Namun, ada yang unik dari pelajaran filosof yang Shopie dapatkan perihal ramalan. Ramalan versi Norwegia. Orang-orang Norwegia (dulu) meramal keberuntungan mereka melalu cangkir kopi. Jika cangkir kopi telah kosong, biasanya masih ada sisa yang tertinggal di dasar cangkir. Dan sisa tersebut biasa membentuk pola yang akan diramal dengan imajinasi sang peramal. Ini ramalan yang menarik, bukan?

Saya masih akan membaca kelanjutan dunia Shopie, menghabiskan sisa ice cappuccino, dan menikmati kado di awal desember ini. Apa mungkin pipi saya bisa ditukar dengan pipi orang lain? Maksud saya, apa mungkin bengkak pipi saya bisa saya kadokan ke orang lain? Saya tak tahu. Saya akan mencoba meramal pipi saya sendiri dari sisa ice cappuccino ini. Barangkali akan nampak sebuah gambar balon pecah yang berati pipi saya akan segera kempes kembali. Atau, saya akan mulai menghilangkan rasa trauma saya tentang rumah sakit dan dokter, lalu mulai berpikir akan ke dokter besok, lusa, atau dalam jangka tiga hari ke depan (jika bengkak pipi saya masih tak reda). Entahlah. Saya hanya akan menghabiska ice cappuccino ini, dan berbenah untuk pergi lari sore.

Selamat menikmati akhir tahun, saja. Sebentar lagi, saya akan kehilangan satu angka dalam hidup saya. Takdir mana yang akan menghampiri saya? Saya tak tahu, dan mungkin akan belajar menerka. Sekali lagi, selamat bulan desember. Semoga dunia kalian semenarik dunia, Shopie. Ice cappucino saya masih banyak. Suatu waktu, mungkin kita bisa menikmatinya bersama sembari menceritakan keganjilan dunia kita masing-masing. :)

Selamat bulan desember, selamat meramal, dan selamat menanti kado ^_^

Palopo. 01 Desember 2014

Template by:
Free Blog Templates