Selasa, 02 Desember 2014

Hey!!


Hey!!
Apa kabar?


 
Sudah berapa malam kau insomnia? Apa kau masih mengonsumsi kopi berlebihan. Bukankah sudah kukatakan untuk tak dibuat candu oleh kopi. Ah, kau memang selalu membandel. Tadinya, aku ingin menulis sebait puisi untukmu. Tapi,.. lupakan saja. 

Pukul berapa semalam kau tidur? Mungkinkah kau insomnia karena memikirkanku? Aku hendak menceritakan sesuatu padamu. Jangan menebak apa pun sebelum aku selesai mengatakannya (meski kutahu, kau sudah menebak banyak hal dalam hatimu).

Beberapa malam ini, aku bermimpi banyak hal yang aneh. Apa kau juga bermimpi yang sama? Aku merindukanmu, sepertinya. Sebab itu, aku memimpikan beberapa hal tentangmu belakangan ini. Kau sehatkan? Jika sedang sakit, minumlah obat. Atau, pandangi saja potoku. Barangkali bisa sedikit mengobati sakitmu. Atau, sobek saja potoku. Mungkin kau akan lebih sehat setelahnya.

Kau tahukan, belakangan ini aku disibukkan dengan perkara semester akhirku. Kau tentu tahu, betapa getirnya menghadapi semester akhir; disibukkan dengan skrip"shit", tanda tangan dosen pembimbing, konsultasi, dan... judul skripsiku harus diganti. Kau tahu, menyesakkan sekali jika judul skripsimu yang telah di-acc dua kali dan tiba-tiba menerima pengumuman kalau salah dan harus diubah. Ah, menyebalkan sekali, bukan? Tapi sudahlah. Lupakan saja.

Apa kau sudah makan? Jika belum, makanlah yang banyak. Aku tak mau melihatmu kurus. Bukankah sudah kukatakan, aku tak peduli jika kau harus gendut. Maka, makanlah yang banyak malam ini. Oh, mengenai kabarku. Aku baik-baik saja. Dan akan sangat baik jika saja kau ingin bernyanyi malam ini untukku. Aku tak akan memaksamu tentu saja.

Ayo, mulailah bernyanyi.
Mulailah dari tangga nada yang kau bisa.
Aku menantimu bernyanyi. Bernyanyyilah!



Palopo, 2014




Desember, Bintang, dan Kado




Selamat Malam, 

Saat ini, di kotaku tengah merujuk pada pukul 19.57. Di kotamu bisa saja lebih cepat sejam, atau lebih lama, mungkin juga sama saja. Tak mengapa. Aku hanya ingin mengucapkan, selamat malam.

Apa di kotamu musim dingin? Maksudku, musim penghujan. Ini awal desember, bukan? Seharusnya, intensitas hujan yang menyambangi kotamu dan kotaku sama derasnya. Desember identik dengan hujan, kan? Juga perayaan. Yah, perayaan...

Kau masih ingat ceritaku perihal hujan? Perihal bagaimana pertemuan kita nanti. Uh, membayangkannya sungguh mendebarkan. Apa kau merasa hal serupa? Sudahlah. Kita lupakan saja mengenai khayalanku itu. Bagaimana pun, kita pasti bertemu jika saatnya tiba. Entah saat musim penghujan, atau musim kemarau. Dan tentu saja, kita akan merayakannya dengan makan, ngopi, atau berceritra perihal diri kita masing-masing. Dan kau harus menepati janjimu padaku. 

Aku tak akan membahas perihal apa pun tentangmu malam ini, sebab aku sangat merindukan seseorang, dan tentu saja bukan dirimu (meski aku tetap memikirkanmu). Yah, aku sangat rindu pada si Bintang, si bungsu yang sangat menggemaskan itu. Iya, dia adik bungsuku yang kini masih duduk di bangku SD. Giginya sudah tidak ompong lagi, tapi masih selalu kuhujani ciuman setiap kali berkunjung ke kotamu. Kau memang se-kota dengan ibu dan ayahku, Makassar. 

Kau tahu, adik bungsuku itu sangat menggemaskan (ini sudah kukatakan, tadi). Dan salah satu alasan kenapa aku selalu ingin pulang, yah.. karena dia. Kau tahu, betapa bahagianya menjadi kakak tiap kali si bungsu pulang sekolah dan mencarimu di setiap sudut rumah. Khawatir kalau saja kakaknya telah pulang tanpa berpamitan padanya. Belum lagi, ketika mengajaknya makan bakso atau coto (aku sering mengajaknya makan), dia akan membuat isi dompetmu terkuras. Tapi, bukankah itu membahagiakan? Sampai detik ini, aku masih selalu bertanya-tanya "bagaimana rasanya punya kakak?"

Dulu sekali, sewaktu masih berseragam putih-merah, aku memiliki kakak angkat. Lebih tepatnya, kakaknya sahabatku yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Setiap kali ada yang usil, aku hanya mengadu padanya, dan... tentu saja, aku akan dibela habis-habisan. Dan itu sungguh menyenangkan. Sayangnya itu tak berlangsung lama. Bagaimana rasanya punya kakak lelaki? Bagaimana bahagianya punya kakak perempuan? Tak perlu dijawab, sebab aku sendiri tak pernah merasakannya. 

Hari ini, si bungsu kehilangan satu usianya. Tapi apa yang ia pahami tentang kehilangan, toh, ia masih terlalu kanak untuk memikirkan hal itu. Doaku pagi tadi, semoga ia tetap menggemaskan dan sehat. Aku belum menelponnya pagi ini, mungkin besok. Semoga ia tak meminta kado padaku. Hihihi.. 

Sembilan hari lagi, aku juga akan kehilangan satu angka dari usiaku. Aku tak akan meminta diberi kado seorang kakak pada usia ke duapuluhduatahun. Sebab itu mustahil. Bapak dan ibuku mungkin akan menelpon dan menjanjikan sesuatu. Itu tak penting. Suara sehat mereka setiap paginya sudh lebih dari sebuah kado yang tak ternilai bagiku. Lagi pula, aku sudah memesan beberapa kado dari sahabat-sahabatku di kampus. Aku meminta dibuatkan surat. 

Aku tak pernah mendapatkan surat dari siapa pun. Perkembangan zaman sudah mengabaikan hal-hal romantis dari orang-orang dulu. Surat. Kadang-kadang aku membayangkan wajah ibuku (dulu), saat sedang membaca surat cinta dari bapak. Pasti wajahnya sangat merona. Dan bagaimana kegetiran hati bapak saat menulis surat cinta untuk ibuku... Humm... itu pasti moment yang membuat bapak sampai tak tidur bermalam-malam. Sebab itu, aku meminta diberi surat dari sahabat-sahabatku di kampus. Memaksa? Memang. Aku sering melakukan beberapa tindakan pemaksaan terhadap mereka. Dan, mereka rela-rela saja. Bahkan kadang-kadang selalu tertawa mendengar permintaanku yang aneh-aneh.

Hey, jika saja kau mau menulis sebuah surat di hari ulang tahunku, tentu saja aku akan sangat bahagia. Kadokan surat dan sebait puisi. Ini tak akan mahal, bukan? Tentu saja aku tak memaksamu. :)

Sstt... 
Bapak menelponku, barangkali si bungsu rindu. 
Akan kuucapkan "Selamat Ulang Tahun" padanya. Jika ia telah remaja, mungkin akan kuceritakan padanya, jika tahun-tahun tak pernah berulang. Dan usia kita selalu memendek setiap tahunnya. 


"Selamat ulang tahun, dik. Semoga kau tetap sehat dan naik kelas. Kau mau kado apa?"
"Pulanglah, kak"

Uh, saya juga rindu rumah, dik. 
Bersabarlah...
 


                         Palopo, 02 Desember 2014 
(rindu-rindu mengintip; 
di daun pintu, di balik gorden, 
di bawah kolong ranjang, 
dan sebrang suara bapak)



Template by:
Free Blog Templates