Sabtu, 06 Desember 2014

(BELUM) BERJUDUL








Pukul 08.00.
Ia baru saja terbangun dengan kepala sedikit berat. Aroma alkohol masih mengendapi napasnya. Selimut menutup setengah tubuhnya, hanya dada bidangnya yang terlihat tanpa busana. Ia masih membayangkan setiap adegan yang dilaluinya bersama Maria semalam. Lekuk tubuh Maria membuatnya tak bisa segera beranjak dari ranjang. Ia masih membayangkan, bagaimana Maria begitu lihai melumat bibirnya, dan lengan-lengannya begitu hangat mendekapnya.
Selamat pagi, Sen. Maaf, Aku pulang terlalu subuh. Terima kasih atas jamuannya semalam.”
Yonsen terperanjat dari lamunannya saat SMS dari Maria mendarat di ponselnya, padahal ia baru saja ingin menghubunginya. Senyum tipis dibibirnya rekah.
“Ah, aku mencintaimu, Maria” ungkapnya sambil mengecup ponselnya. Segera ia mencari nomor kontak Maria dan menghubunginya. Beberapa kali ia menghubungi Maria, tapi tetap tak ada jawaban. Hanya operator telepon yang mengatakan Maria sedang sibuk dan silakan menghubungnya nanti.
“Maria mungkin memang sedang sibuk,” gumamnya. Ia kembali membenamkan tubuhnya di ranjang. Kali ini, seluruh kepalanya ikut sembunyi di bawah selimut. Ia kembali membayangkan wajah Maria yang berbentuk oval. Barisan giginya begitu rapi saat tersenyum dan tatap tajam matanya memacu setiap detakan pada dadanya kembali.
***

Sore itu di sebuah café, Yonsen duduk di salah satu pojok, tepat mengahadap arah barat. Secangkir hot cappuccino ditenggaknya habis. Matahari mulai membenamkan dirinya, ia larut dalam pikirannya sendiri. Entah sejak kapan ia mulai senang menikmati senja. Padahal dulu, ia selalu saja menolak ajakan kekasihnya untuk ke pantai berburu senja.
“Segalanya mungkin akan berubah, seperti kebiasaan-kebiasaan yang tiba-tiba menjadi sangat ingin begitu, setelah dulu sangat tak ingin seperti itu.  Tak ada yang selalu setia dengan keadaan yang sama. Bahkan cinta.” Ia masih larut dalam pikirannya sendiri.
***

Di meja yang berlainan, seorang wanita duduk menghadap ke arahnya. Tatapannya kosong. Sesekali ia terlihat tersenyum tipis, sesekali raut wajahnya terlihat sangat kesal. Kadang-kadang ia mengepalkan jarinya, seakan ingin mendaratkan tinjuannya pada wajah seseorang. Sesekali pula, ia terlihat merenggang-pasrahkan jemarinya. Yonsen menatap wanita itu dengan tatapan heran. Baru kali ini ia melihat wanita dengan ekspresi seperti itu di café ini.
Sudah hampir sepekan ia menghabiskan sorenya di tempat itu, menikmati jatah liburan pasca kecelakaan di kantor. Ia dituduh selingkuh dengan pacar bosnya. Belakangan barulah terkuak, jika informasi yang diterima bosnya salah. Tentu saja setelah beberapa tinjuan berhasil membuat pipinya belur dan hidungnya merembeskan darah. Beruntung karena bosnya adalah sahabatnya sendiri, sebab itu, ia diberi jatah libur yang cukup lama. Tentu saja tanpa potongan gaji.
Ia mengalihkan pandangannya lalu menatap wanita itu. “Wanita aneh,” gumam hatinya. Ia segera memalingkan wajah, saat wanita itu mendapati matanya sedang menjajal wajahnya. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu. Yonsen kembali meluruskan pandangannya, menatap siluet senja.

***

  
#Tentu saja ini belum selesai. Ini (mungkin) akan sedikit panjang, tentu saja.  :') 

GIGI BUNGSU

"Karena setiap peristiwa patut diabadikan. Sebab itu, tulisan ini saya dedikasikan buat Gusi saya tercinta, yang sebentar lagi akan melahirkan Gigi terkahirnya"



     Tak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi, Gusi. Dalam hidupnya, ia ditakdirkan melahirkan anak Gigi sebanyak tiga puluh dua kali. Jika ada manusia normal yang melahirkan tiga puluh dua anak dalam hidupnya, barangkali akan masuk kategori "persalinan terbanyak versi omaygat" di tivi. Beruntung karena hanya Gusi yang ditakdirkan melahirkan anak-anak Gigi yang begitu banyak. 

     Belum lagi, saat Gusi harus mengalami kehilangan anak-anak Giginya ketika manusia berusia sekolah dasar. Menjadi ompong tentu saja akan membuat seorang anak kecil terkadang jadi bahan olokan temannya, tapi sadarkah kita, saat itu ada yang diam-diam sedang menangis. Gusi. Sebab itu, saya selalu menghargai upaya Gusi saya melahirkan anak-anak Giginya dengan cara rutin menyikatnya dua sampai tiga kali sehari. Yah, kecuali jika dalam keadaan darurat.

     Sebulan yang lalu, saya begitu rakus dalam hal melahap dan menghabiskan makanan. Tiap kali ke kampus, saya selalu singgah di depan gerbang untuk menyapa Mas Joko* dan melahap somay yang dijajalkannya. Sepulang kampus, saya tak langsung pulang. Kerap, saya mengajak teman-teman saya untuk nongkron di Lapangan Pancasila* sembari meminum es kelapa muda milik si mba (yang tak saya ketahui namanya). Belum lagi jika sudah di rumah, saat begadang, saya kerap memakan banyak cemilan.

     Beberapa minggu setelahnya, saya merasa ada keganjilan pada mulut saya. Gusi saya serasa kembang kempis, belum lagi pipi saya mulai tembem, lebih tepatnya bengkak. Mungkin sariawan, bukankah lumrah saja jika mulut juga butuh sakit. Saya pun tak menghiraukan hal tersebut. Beberap hari kemudian, keganjilan itu semakin terasa. Gigi saya masih kembang kempis, pipi saya juga semakin bengkak, dan lagi rahang bawah dekat dagu saya juga terasa mulai bengkak. Saya mulai menderita dan berpikir akan belajar menghilangkan trauma saya terhadap dokter waktu itu. Mungkinkah saya sakit gigi? 

     Suatu siang, saat saya sedang menikmati perih yang ditimbulakan oleh gigi saya, saya teringat perkataan dosen saya yang waktu itu memang tengah mengalami sakit gigi. Ia berdalil bahwa, "Saya lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi seperti ini"  Benarkah seperti itu? Mungkin saya akan membenarkan perkataan dosen saya itu, jika saja saya lebih sering sakit gigi dari pada sakit hati. Kenyataannya, saya jarang -bahkan setelah dewasa tak pernah- sakit gigi, namun saya pernah merasakan sakit hati saat ditinggal pergi mantan pacar (dulu). Kedua hal tersebut jelas beda. Meski tetap ada saja sakit yang ditinggalkan dari keduanya.

     Saya kembali ke Gusi, saya. Belakangan saya mengetahui, kalau Gusi saya tengah mengandung anak terakhirnya, Gigi bungsu. Dan tentu saja, ini sangat mencemaskan buat saya. Beberapa artikel yang saya baca menceritakan tentang bagaimana kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja dialami oleh si cabang Gigi. Mulai dari kelahiran tidak normal (miring, tidur, terbalik), sampai pada impaksi -infeksi sekitar mahkota gigi (pericoronitis), sakit kepala, parestesi pada rahang, bahkan gangguan sendi rahang (temporo mandibular disorder)-. Dan tentu saja, hal ini akan sangat membuat saya resah memikirkan proses persalinan si Gusi, saya.

     Saya belum tahu kapan tepatnya Gusi saya akan melahirkan anak barunya, saya belum pernah cek up dan melakukan rongsen panoramik* ke dokter Gigi. Saya khawatir akan difonis macam-macam dan berujung pada persalinan yang tidak normal di ruang oprasi. Saya tak mau persalinan si cabang Gigi dilakukan secara sesar dengan cara oprasi odentektomi*. Saya trauma dokter, fobia jarum suntik, apa lagi ruang oprasi. Saya betul-betul ngeri membayangkannya. Meski sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mencari kekasih seorang dokter gigi, barangkali dengan begitu anak-anak Gusi saya nanti akan tumbuh sehat sampai kakek-nenek. Ah, tapi sudahlah. Saya tetap trauma dengan dokter. Titik!

     Buat teman-teman saya yang super dan bijaksana, bantulah mendoakan proses persalinan si Gigi bungsu, saya (yang barangkali tinggal menghitung hari). Doakalah agar ia lahir normal dan sehat. Saya sudah mencoba memberi asupan gizi terbaik saat ia ngidam; mulai dari memberinya somay, es kelapa, es mataram, sampai cemilan tengah malam. Saya sangat berharap, si bungsu dapat lahir normal dan lengkap. Bukankah kebahagiaan seorang ibu adalah ketika anaknya lahir selamat dan normal? Dan saya yakin, Gusi saya pun akan merasa hal serupa jika si Gigi bungsu lahir normal dan selamat. Sekali lagi, doakalah Gusi, saya. Saya akan sangat senang membesarkan si bungsu jika ia lahir normal. :')

     Salam cinta saya, untuk si cabang Gigi. Lahirlah normal, nak! Saya menantimu :')


*karena gusi juga pernah sakit, melahirkan dan kehilangan. Percayalah!


Ket:
- Mas Joko:  Tukang somay depan kampus saya.
- Lapangan Pancasila: Tempat tongkrongan anak muda Palopo
- Ronsen Panoramik: scraning sederhana yang dilakukan untuk memastikan keadaan gigi bungsu
- Odentektomi: Oprasi gigi bungsu.
- beberapa istilah kedekteran lainnya saya peroleh di goggle.




Palopo, 06 Desember 2014 
(Sedang siaga menanti kelahiran si buah Gigi)


    

Template by:
Free Blog Templates