Sabtu, 13 Desember 2014

BALASAN PUISI UNTUK RANGGA

#Rangga

Perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karena cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya?
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hamba
ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin, kamu
itu saja


#Saya (bukan, Cinta)

Perempuan datang tak hanya atas nama cinta,
tapi juga seruan rindu yang terus berdengung di hatinya
dinding yang bebal akan runtuh
bulan terjaga di hatimu
mengeja wajah perempuan
; mungkin bunda, mungkin juga aku
tapi bukan gundah 
juga cecap sepi yang amat asin

Tak ada apa-apa dengannya.
caci tak memcecak nadi,
garis-garis senyum melengkungkan pelangi
masihkah ada "apa" dengan cintamu?

Pada purnama keberapa kau akan kembali
mempertanyakan cinta atas dirimu
aku menghitungnya bukan untukmu,
bukan untuk sesiapa, tapi untukku
karena aku juga ingin, kamu
cukup itu.




Palopo, 14 Desember 2014 
(membayangkan saya sebagai, Cinta)





Dua Puluh Dua

     Apa yang kau pahami tentang usia? Tentang angka yang bertambah dan jatah hidup yang berkurang, katanya (yang sepertinya memang benar). Saya belum memahami apapun. Saya tak pandai membaca apapun perihal takdir (kelahiran-kematian-jodoh). Yang saya pahami, usia, rezki, dan jodoh rahasia Tuhan (itu saya baca di buku agama saya, dulu). Saya (mungkin) hanya pandai membaca sajak-sajakmu. Itu saja (entah ini nyambung atau tidak). Tapi bagimana pun, hari ini saya ingin mengucapkan "selamat dua puluh dua, saya". Tetaplah sehat :)




Usia adalah bilang Tuhan yang rahasia.

Untuk hari ini, satu angka dari usia saya kembali. Banyak doa yang merapal, ucapan-ucapan selamat membanjiri, dan kado-kado (puisi) memenuhi lengan, saya. Sore tadi, dapat tart mini (tanpa sirama nano-nano berwarna tak mirib pelangi. Dan saya bersyukur) dari sahabat-sahabat saya. Hiuup, saya bersyukur dan berterima kasih, tentu saja. Di sela-sela sibuk, mereka masih menyisipkan ingat atas hari ini.

Saya meniup lilin yang mirib permen dengan perasaan beraduk. Saya sudah dua puluh dua tahun, saya sudah dewasa seharusnya. Iya, seharusnya memang telah dewasa, meski terlihat sangat mungil dan imut-imut (saya tidak bohong). Bapak dan ibu saya juga menelpon, mengucap selamat dan menggiring kado dalam bentuk doa-doa. Tentu saja, kado terbaik adalah doa, menurut saya. Saya tak meminta di belikan ponsel, tak minta dibelikan sepeda, dan lagi minta dibelikan ini-itu, saperti ketika diusia belasan, dulu. Saya sudah dua puluh dua, dan tentu saja, bapak dan ibu saya memahami hal itu.

Sebukit harap dan doa membanjiri kepala saya; saya ingin wisudah di usia dua puluh dua, saya ingin lanjut ke perguruan tinggi yang lain di usia dua puluh dua, saya ingin menulis lebih banyak lagi di usia dua puluh dua, saya ingin tetap sehat, tetap bisa mendengar suara bapak dan ibu di telpon setiap pagi di usia dua puluh dua, saya ingin menyelesaikan tulisan saya (yang mungkin novel) di usia kedua puluh dua, saya ingin banyak menulis puisi di usia kedua puluh dua, saya ingin jatuh cinta lagi di usia kedua puluh dua. Dan masih banyak ingin-ingin yang saya capai di usia dua puluh dua, nanti.

Usia adalah bilangan Tuhan yang rahasia. Seberapa hebat kau mengali-bagikan angka, kau tetap tak akan menemukan rumus kepastian usia. Saya tak ingin membahas banyak tentang usia. Usia dua puluh satu saya telah lesap terganti dua puluh dua. Saya bahagia. Kehilangan tak harus dirayakan dengan air mata, bukan?

Sekali lagi, selamat dua puluh dua, saya. Terima kasih pula kepada kalian yang masih mengingat hari ini untuk, saya. ^_^


Saya ingin mengadokan sebuah puisi untuk, saya.
Namun sayang sekali, saya gagal menulis bait-baitnya.
Kalau ada yang bersedia mengadokannya, dengan lapang hati saya menerimanya sebagai kado :D hehee..


Kado (gambar) di usia dua puluh dua tahun, saya.

 (ini dari Ifha, sahabat putih abu-abu saya. kami berjanji akan mendaki bersama)

(Ini teman-teman saya yang istimewa. Mengadokan kue dan garis keriput karena bandel tiap kali saya latih dramatisasi puisi)





Palopo, 11 Desember 2014 
(Ini saya tulis di menit ke lima puluh lima 
sebelum memasuki tanggal dua belas. 
Dan baru sempat memostingnya hari ini)













Template by:
Free Blog Templates