Selasa, 23 Desember 2014

Kisah Inspirasi



TENTANG JARUM YANG PATAH DAN 
SEMANGAT YANG TAK HARUS IKUT PATAH



Wanita itu masih terus memutar roda mesin jahitnya. Ini sudah kali ketiga jarumnya patah, padahal biasanya akan patah sekali dalam sebulan, atau dua kali, atau tak patah sama sekali. Kali ini, dalam satu hari ada tiga jarum yang patah. Wajahya mulai gelisah, leleh keringat mulai bercucuran dari kening, juga pelipisnya. Setelah memasukkan jarum keempat, ia kembali menginjak roda mesin jahitnya, berharap kali ini jarumnya tak kembali patah.
Usianya hampir menginjak setengah abad. Ia seorang penjahit, tapi bukan penjahit sungguhan. Begitulah yang sering ia katakan pada orang-orang yang datang membawakannya baju, celana, atau kain untuk dijahit. Ia memang bukan penjahit sungguhan, itu yang dikatakan sebagian pasiennya, orang-orang yang pernah memercayakan kainnya untuk dijahit.
Ia tak pandai membuat pola, tapi mahir membikin baju anak-anak. Tanpa pola, tanpa ukuran. Dia memang bukan tukang jahit. Kakinya hanya sebelah.”
Ia masih mencoba memainkan roda mesin jahitnya. Kali ini, ia mengambil kain tebal. Bekas potongan celana levis yang didapatkan dari tetangganya, yang bukan seorang tukang jahit. Ia akan menjahit tanpa pola dan ukuran. Tentu saja, lap kaki tak perlu diukur dan dibikinkan pola macam-macam seperti baju. Dirapatkannya sepatu mesin jahit pada kain, lalu ia kembali memutar roda mesin jahit, berharap jarumnya tak patah kembali.
Ia wanita separuh baya. Usianya hampir mencapai setengah abad. Ia sendiri di rumah yang cukup untuk dihuni sepuluh kepala, atau lebih. Separuh waktunya ia habiskan di roda mesin jahit, separuhnya lagi di balik panggangan kue.
“Kelak, jika sudah tak bisa menjahit, atau memanggang kue, saya masih punya tabungan membayar listrik,” katanya di suatu siang.
Ia kembali meroda mesin jahitnya, dengan harapan agar jarumnya tak kembali patah. Ini jarum yang keempat. Ia akan menjahit sebuah lap kaki tanpa membuat pola dan ukuran. Ia bukan tukang jahit sungguhan. Jalannya tak sempurna. Tapi di masa tua, ia punya uang cukup untuk membayar listrik.

Tak harus sempurna untuk menjadi bahagia, bukan!?


Palopo, Desember 2014

Template by:
Free Blog Templates