Jumat, 11 Desember 2015

Selamat Dua Puluh Tiga, Saya!

...

Terima kasih kepada kalian, yang menyempatkan beberapa menit waktunya untuk mengucap doa di-bertambahnya usia saya tahun ini. Ya, semoga semakin dewasa, saya. Tetap sehat dan segera terwujud mimpi-mimpinya (lanjut study dan nikah muda "hihihi..). Amin.

Terima kasih pula kepada best uncle-nya saya, atas kado (vidionya). Sungguh manis! Kepada segenap keluarga besar HMPS - PBSI yang masih selalu mengingat hari lahir saya, terima kasih. Semoga jarak bukanlah jalan untuk saling melupakan (jika pernah kita berbagi aroma kopi) di gelas yang sama. Kepada kalian yang masih bersetia menjuluki saya "best friend" padahal kadang saya menyebalkan sekali, "Gumawo!" :)

Untuk kepala-kepala yang sudah menyumbangkan ide menceburkan saya ke sawah (yang entah milik siapa) sore tadi, Thank you very much. Sangat mengejutkan! Sepotong kue kecil yang mungil dan lilin yang tak serasinya sangat eksotik di mata saya. Hehe... :D Kalian keluarga baru yang penuh cinta dan kasih sayang. Semoga lekas abroad :)

Kepada kedua orang tua saya, di dada saya doa-doa kalian membara. Menjadi selimut yang mengahangatkan ketika rasa malas membekukan cita-cita saya. Sabarlah, anakmu telah dewasa dan masih mengingat rumahmu yang penuh kehangatan itu.


 :)   Selamat 23, SAYA!




Desember Basah, Kopi, dan Angka Dua Puluh Tiga

Saya ingin membuka tulisan ini dengan ucapan selamat milad kepada seorang perempuan kecil yang selalu punya mimpi besar.

Lagi-lagi desember bertamu, membawa aroma hujan seakan tahu tanah tandus telah merindukan kehadirannya cukup lama. Pagi tadi, dia membuka angka dua puluh tiga-nya dengan seteguk kopi Bali. Rasanya cukup pahit dan sedikit kecut. Aroma khas Bali yang kental memaksa ingatannya kembali pada sebuah percakapan pahit yang menggetarkan. 

"Kau tahu, kenapa kopi pahit?" tanyanya. Dia seseorang yang sering disapa Er oleh perempuan itu. Entah, Er hidup dalam dunia imajinya cukup lama.

"Kenapa?" 

Dia menatap genangan cangkir kopinya cukup lama, seperti menatap mata seorang gadis yang ia jatuh cintai. 
"Sebab hidup selalu punya sisi manis yang dapat kita nikmati" Jawabnya mantap.

"Kau jatuh cinta pada seseorang?" tanya perempuan itu. Ia mencoba membaca gelagatnya. 

"Tidak! Aku tak tahu cara jatuh cinta melalu tatapan. Kau tahu, selalu ada pekat yang sembunyi di sela-sela mata seorang perempuan, sebab itu akan sulit mengetahui kapan ia betul-betul jatuh cinta padamu. Seperti kopi, selalu ada ampas yang tak akan habis kau tenggak. Selalu ada mistea yang tak sanggup kau sibak. Selalu ada tanya yang akan membuatmu tersesat dan tak menemui jawaban. Dan, selalu ada jatuh cinta yang akan menyeretmu menemui titik patah hati"

"Lalu?"

"Minumlah kopimu, selagi hujan belum turun"

"Kenapa?"

"Sebab hujan akan merampas aroma kopimu." Jawab pria itu sembari kembali meneguk kopinya.

"Kau mencemaskan sesuatu?"tanya perempuan itu.

"Tidak! Aku hanya khawatir kau tak menghabiskan kopimu"

Mereka larut dalam percakapan bisu, sedang di langit titik-titik air mulai memasang siasat. Mereka beradu tegukan kopi. 

"Kau tahu, kau tak akan sanggup mencapai rekor insomniaku hanya dengan ikut ngopi bersamaku malam ini" kata pria itu dengan senyum puas.

"Juga rekor patah hatimu, kan?" Perempuan itu hampir terbahak.

"Memahami sisi pahitmu pun, kau tak akan mampu menandingiku" ujar pria itu. 

....

Selamat dua puluh tiga, perempuan kecil, penggemar kopi. 
Kau tahu, kopi selalu menyembunyikan banyak filosofi, seperti hidup yang penuh dengan persimpangan tanya. Walaupun begitu, percayalah selalu ada gula yang cukup mampu menjadi penawar pahitnya pekatmu.

:)




Senin, 23 November 2015

PARTITUR RINDU



PARTITUR RINDU
Liyana Zahirah


Tenggelam dalam riuh mimpi
serupa menyaksikan kepulan gelisah merangkak
menerabas sulbi-sulbi rindu yang karam

Di beranda keterasingan, parodi kenangan menimpali setiap gamang
mencubiti resah yang tak terjawab
melucuti nostalgia yang pernah tumpah menjadi pelangi
; meski hujan tak pernah singgah sebagai pemicu

Ya, denting jam memang selalu setia menanam peristiwa dalam kepala kita
mengajari cara berbagi dalam gelas yang sama
mengajari cara tertawa dengan gelak yang sama
mengajari cara bersabar dengan duduk bersama
; membagi gelisah, membagi perbedaan, membagi makna-makna absurd dari sebuah lengkungan senyum atau sekadar kedipan mata belaka

Lalu pada masanya, jumlah hari akan menua
menggiring segala yang pernah,
menuju gerbong selamat datang yang baru

Bisa jadi, akan ada rumah-rumah baru yang angkuh
halaman-halaman cerita yang meliukkan
atau pagar besi yang menjulang
tapi percayalah, selama apapun lambaian tanganmu di udara
garasi rindu selalu melantunkan partitur yang sama
; PULANG



Kediri, 1 Nov 2015
(satu menit setelah pukul satu gugur)


 Ket. terbit di buletin LPM Aksara Univ. Cokroaminoto Palopo.


Rabu, 01 Juli 2015

DI SATU MAKAM

    Sejak beberapa hari yang lalu, saya disesaki rasa bersalah. Beberapa teman meminta alamat kastil kecil saya. Mereka hendak mampir dan melihat-lihat, katanya. Padahal, saya sendiri bahkan tak pernah menyempatkan mampir, walau hanya untuk meminum kopi dan bercerita seperti bulan-bulan sebelumnya (saya memang payah!). Tapi, sebagai penebusan rasa bersalah, malam ini saya ingin menulis puisi dan membacakan sebuah puisi. Meski sebenarnya, saya sedang belajar menulis hal-hal yang lebih panjang sekarang ini. Hehehe...

Yukk!!

DI SATU MAKAM

Jauh tapak langkah pergi
mengembara mencari entah
singgah bertemu nokhta
menyusuri lembah-lembah kepasrahan
ke mana, lalu bagaimana?

Kubiarkan segala tanya lepas
menemui setiap alasan yang bungkam
seperti kubiarkah kau pergi tanpa perlu menjelaskan apa-apa
Ya, kurasa setangkai kata adalah seikat dusta
yang akan melukai lebih raksa
maka kupercaya diam adalah jawaban terbaik
untuk saling menyakini
bahwa ada genggaman yang tak erat di sela-sela jemari kita
ada janji yang tak tegas pernah tuai di bibir kita

Kenangan cebur di lautan garam
lalu kusaksikan kepedihan menemui ajalnya di matamu
lagi-lagi, kubiarkan alasan dan penjelasan tak bertemu
kubiarkan tubuhmu dihujani sepi
kubiarkan gigil merangkul harapanmu atas aku
sebab kita hanya akan pernah ditakdirkan bertemu
di satu makam
di satu galian
; masa lalu


Palopo, Juni 2015


Bisa didengar -->> Di Sini









Senin, 16 Maret 2015

MONOLOG RINDU

BAYANG DALAM KELAMBU RINDU 


Terkadang, ada banyak sekali rindu yang hadir tiba-tiba. Ada banyak sekali kenangan yang ingin sakali untuk dikenang. Bahkan dalam detik, menit, dan waktu yang tak pernah kau tahu, cinta menyapamu dengan cara yang tak biasa.

Pagi ini di sudut meja kerjaku, sepasang kenangan menuntut untu dikenang. Potongan-potongan rindu menguntit, membelai lewat sela-sela kata. Bahkan dengan sedikit egois, cinta mendesak, sesaki seisi kepalaku. Aku tak berdaya!
 
Memang ini salah. Mencintai bayang berarti kau harus siap untuk tak mendapat apa-apa. Tapi bukankah segala apa-apa, pada akhirnya akan menjadi bayang. Masa lalu, misalnya. Atau kenangan.

Hummm .. Biar kutarik napasku dengan sedikit pelan. Lalu kusaspi setiap aroma rindu tiadamu.

Kadang mungkin, kita harus tangguh atas perasaan sendiri. Dengan begitu, rindu menjadi tahu, kapan seharusnya ia hadir dan bagaimana seharusnya ia pergi.

Di teguk terakhir, sebelum ampas kopi menjelma bayangmu, aku menjadi pengkhayal yang ingin selalu punya pagi indah bersamamu.





Palopo, Maret 2015 (Dikelambui rindu)

Rabu, 18 Februari 2015

NAMAMU YANG SELALU RAHASIA



; PADDI*

Kembali kucari makna namamu malam ini
setelah kemarin kutanyai kau jumlah jemarimu
yang tak genap sepuluh
dan usiamu yang entah berapa
– kau tak pandai menerkanya
bahkan mungkin kau lupa kapan terakhir kali
menyanyikan lagu "selamat ulang tahun" untuk dirimu

Dua hari yang lalu kudapati kau tersenyum
sembari melambai girang ke arahku
jemari kita berjabat rapat
seolah telah lama kita saling mengakrabi
lalu kutanyai kau rupa-rupa warna hidup

; di tepi bibirmu yang terbata
kau menyebut warna biru langit
sedang matamu memercik hijau rerumput pagi
namun, di lekuk senyumanmu
selaksa embun riuh mengulas kesaksian
betap Tuhan begitu dekat
betapa hidup seharusnya menjadi sama

darimu, aku belajar mengenal warna
juga likuk hidup untuk tersenyum

Enrekang, Februari 2015

Ket : Paddi' (nama salah seorang penderita downsyndrom yang menganggap saya sebagai sahabatnya)


Sabtu, 07 Februari 2015

SATU PUISI



SATU PUISI
Liyana Zahirah






Di sudut matamu, selalu saja aku ditikam tanya
perihal janjiku padamu
perihal puisiku untukmu
yang memang tak pernah tuntas kutunaikan

sering kali kudapati senyummu menjelma angka
seperti barisan tanggal yang kalah
yang kubiarkan berlalu dengan acuh
dan desah napasmu yang turut pasrah
menanti purnama yang akan menyadarkan khilafku

Kekasih, di sudut yang paling absurd dari kita
kau menjelma beribu bait yang Tuhan tulis sebagai puisiku
kau menjelma huruf yang terangkai
menjadi rima-rima indah dalam sajak hidupku

saban hari, ketika satu purnama membebaskan malam
di bawa cahaya yang selalu kita tunjuk bersama
aku ingin membaca satu puisi
yang kutulis dengan hati penuh sunyi
di atas nisanmu yang usang kini

“aku bukan penyair, sayang. Tapi kau adalah puisiku
yang enggan untuk berhenti kubaca”

Palopo, Januari 2015


*terbit di harian cakrawala. Edisi, 24 Januari 2015











Minggu, 25 Januari 2015

MEMBUNUH AKAN MEMBUATMU JATUH CINTA

AS YOU LIKE IT
- William Shakespeare



Pada catatan kali ini, saya ingin curhat. Betul-betul ingin curhat!

Beberapa hari ini, saya dirundung galau yang akut. Bukan karena saya tidak punya pacar untuk dirindukan, bukan pula karena uang saku saya yang menipis karena pembayaran kuliah, tapi karena saya gagal menulis sesuatu. Parahnya, saya gagal membunuh rasa malas membaca dalam diri saya. Kau tahu, hal yang paling sia-sia di dunia ini adalah membiarkan waktu membunuh banyak hal yang bisa kita lakukan, lalu membuat penyesalan tumbuh dan berakar setelahnya.

Siang ini, saya belajar sesuatu. Belajar membunuh. Belajar jatuh cinta. Saya membunuh segala "malas" yang membelenggu tubuh saya. Saya membunuh segala galau yang merajuk pikiran saya. Dan saya belajar jatuh cinta. Iya, saya belajar jatuh cinta pada seorang, William Shakespeare. Dalam buku Dunia Shopie karya Jostein Gaarder, di bab ke-sekian-sekian, ia membahas sedikit mengenai periode Barok, zaman di mana Shakespare menulis beberapa karya mengenai dunia yang tak lebih dari sebuah panggung sandiwara.

Dalam As You Like It, ia mengatakan;
"Dunia ini panggung sandiwara, semua pria dan wanita hanyalah para pemainnya. Bagi mereka telah ditentukan jalan keluar dan jalan masuknya, dan seorang manusia bisa saja memainkan banyak peran."

Kutipan As You Like It, yang diceritakan Alberto pada Shopie merangsang indrawi saya untuk membaca As You Like It karya William Shakespeare, tersebut. Dengan bantuan om google, saya berhasil membaca sinopsis (yang lumayan singkat) mengenai, As You Like It. Saya memeroleh beberapa gambaran umum mengenai alur As You Like It, yang banyak bercerita tentang ketamakan seorang saudara, kecemburuan, serta saling jatuh cinta. Saya berharap, kelak bisa membacanya utuh. Meski entah itu kapan.

Kembali ke topik, saya sedang curhat!

Setelah membaca sinopsis tersebut, saya kembali bersiasat untuk membunuh. Membunuh rasa malas saya menulis. Saya ingin membunuh galau yang membumbu di kepala saya. Dan saya kembali membuka Dunia Shopie (yang belum betul-betul ingin saya tamatkan, meski sang empunya buku telah menagih-nagih saya untuk me-resensinya). Saya membuka halaman ke tigaratus sekian-sekian. Memahami William Shakespeare, dan jatuh cinta padanya setelah membaca As You Like It, maksud saya sinopsisnya. 

Setelahnya, saya berhasil menulis sebuah puisi. Hanya sebuah (satu buah) puisi, saja. Tapi ini lebih baik dari menjelajahi beranda mantan-mantan saya (yang sudah melupakan saya). Saya mulai berpikir, untuk lebih banyak membunuh, agar lebih sering jatuh cinta. Bisa jadi, besok saya akan jatuh cinta pada Descartes, Spinoza, Barkely, atau bisa jadi denganmu. Saya akan membunuh!

Satu lagi, saya akan lama menamati "Dunia Shopie", semoga Uncle Akar bersabar untuk menunggu bukunya kembali. hehehe :D

O, ya. Ini penggalan puisi yang berhasil saya tulis setelah jatuh cinta pada William Shakespeare, siang ini. Berjudul, Antara Panggung Kita Berjalan.

....

dari panggung kau berjalan

aku membaca puisi-puisimu yang jatuh cinta

lalu pelan-pelan kujatuh-cintai kau sebagai puisi-puisiku

seperti kau yang kikuk belajar menyatakan cinta padaku

meski selalu diam-diam kutanyakan ketulusanmu pada batang pohon



bacakanlah sajak malu-malu yang membuatmu memahami mataku

seperti mataku memahami hatimu yang dirangkul gemuruh

; rindu –



“As you like it…”



Palopo, Januari 2015
 (Membunuhlah, maka kau akan 
tahu rasanya jatuh cinta!)





Template by:
Free Blog Templates