Minggu, 25 Januari 2015

MEMBUNUH AKAN MEMBUATMU JATUH CINTA

AS YOU LIKE IT
- William Shakespeare



Pada catatan kali ini, saya ingin curhat. Betul-betul ingin curhat!

Beberapa hari ini, saya dirundung galau yang akut. Bukan karena saya tidak punya pacar untuk dirindukan, bukan pula karena uang saku saya yang menipis karena pembayaran kuliah, tapi karena saya gagal menulis sesuatu. Parahnya, saya gagal membunuh rasa malas membaca dalam diri saya. Kau tahu, hal yang paling sia-sia di dunia ini adalah membiarkan waktu membunuh banyak hal yang bisa kita lakukan, lalu membuat penyesalan tumbuh dan berakar setelahnya.

Siang ini, saya belajar sesuatu. Belajar membunuh. Belajar jatuh cinta. Saya membunuh segala "malas" yang membelenggu tubuh saya. Saya membunuh segala galau yang merajuk pikiran saya. Dan saya belajar jatuh cinta. Iya, saya belajar jatuh cinta pada seorang, William Shakespeare. Dalam buku Dunia Shopie karya Jostein Gaarder, di bab ke-sekian-sekian, ia membahas sedikit mengenai periode Barok, zaman di mana Shakespare menulis beberapa karya mengenai dunia yang tak lebih dari sebuah panggung sandiwara.

Dalam As You Like It, ia mengatakan;
"Dunia ini panggung sandiwara, semua pria dan wanita hanyalah para pemainnya. Bagi mereka telah ditentukan jalan keluar dan jalan masuknya, dan seorang manusia bisa saja memainkan banyak peran."

Kutipan As You Like It, yang diceritakan Alberto pada Shopie merangsang indrawi saya untuk membaca As You Like It karya William Shakespeare, tersebut. Dengan bantuan om google, saya berhasil membaca sinopsis (yang lumayan singkat) mengenai, As You Like It. Saya memeroleh beberapa gambaran umum mengenai alur As You Like It, yang banyak bercerita tentang ketamakan seorang saudara, kecemburuan, serta saling jatuh cinta. Saya berharap, kelak bisa membacanya utuh. Meski entah itu kapan.

Kembali ke topik, saya sedang curhat!

Setelah membaca sinopsis tersebut, saya kembali bersiasat untuk membunuh. Membunuh rasa malas saya menulis. Saya ingin membunuh galau yang membumbu di kepala saya. Dan saya kembali membuka Dunia Shopie (yang belum betul-betul ingin saya tamatkan, meski sang empunya buku telah menagih-nagih saya untuk me-resensinya). Saya membuka halaman ke tigaratus sekian-sekian. Memahami William Shakespeare, dan jatuh cinta padanya setelah membaca As You Like It, maksud saya sinopsisnya. 

Setelahnya, saya berhasil menulis sebuah puisi. Hanya sebuah (satu buah) puisi, saja. Tapi ini lebih baik dari menjelajahi beranda mantan-mantan saya (yang sudah melupakan saya). Saya mulai berpikir, untuk lebih banyak membunuh, agar lebih sering jatuh cinta. Bisa jadi, besok saya akan jatuh cinta pada Descartes, Spinoza, Barkely, atau bisa jadi denganmu. Saya akan membunuh!

Satu lagi, saya akan lama menamati "Dunia Shopie", semoga Uncle Akar bersabar untuk menunggu bukunya kembali. hehehe :D

O, ya. Ini penggalan puisi yang berhasil saya tulis setelah jatuh cinta pada William Shakespeare, siang ini. Berjudul, Antara Panggung Kita Berjalan.

....

dari panggung kau berjalan

aku membaca puisi-puisimu yang jatuh cinta

lalu pelan-pelan kujatuh-cintai kau sebagai puisi-puisiku

seperti kau yang kikuk belajar menyatakan cinta padaku

meski selalu diam-diam kutanyakan ketulusanmu pada batang pohon



bacakanlah sajak malu-malu yang membuatmu memahami mataku

seperti mataku memahami hatimu yang dirangkul gemuruh

; rindu –



“As you like it…”



Palopo, Januari 2015
 (Membunuhlah, maka kau akan 
tahu rasanya jatuh cinta!)





Sabtu, 24 Januari 2015

JATUH CINTALAH!

JATUH CINTALAH!


Saya membuka tulisan pertama saya di tahun 2015 ini dengan seruan, "jatuh cintalah!". Beberapa hari belakangan ini, saya memang sedang disubukkan dengan perkara hari saya kacau. Mungkin ini yang dikatakan "GEGANA" Gelisah Galau meraNa. Entah. Tapi saya benar dirundung galau.

Sudah hampir seminggu, saya hanya berpangku tangan. Membuka tutup notebook tanpa menulis apa-apa, sementara di kalender saya sudah tertera bulatan-bulatan merah pada beberapa tanggal. Beberapa buku yang seharusnya telah tuntas saya baca-pun masih tergeletak pasrah, menunggu kapan saya selerah saya kembali pulih untuk membaca.

Mungkin, saya butuh jatuh cinta untuk semangat lagi?

; entah

Cat. Ini edisi curhat!


Template by:
Free Blog Templates