Rabu, 18 Februari 2015

NAMAMU YANG SELALU RAHASIA



; PADDI*

Kembali kucari makna namamu malam ini
setelah kemarin kutanyai kau jumlah jemarimu
yang tak genap sepuluh
dan usiamu yang entah berapa
– kau tak pandai menerkanya
bahkan mungkin kau lupa kapan terakhir kali
menyanyikan lagu "selamat ulang tahun" untuk dirimu

Dua hari yang lalu kudapati kau tersenyum
sembari melambai girang ke arahku
jemari kita berjabat rapat
seolah telah lama kita saling mengakrabi
lalu kutanyai kau rupa-rupa warna hidup

; di tepi bibirmu yang terbata
kau menyebut warna biru langit
sedang matamu memercik hijau rerumput pagi
namun, di lekuk senyumanmu
selaksa embun riuh mengulas kesaksian
betap Tuhan begitu dekat
betapa hidup seharusnya menjadi sama

darimu, aku belajar mengenal warna
juga likuk hidup untuk tersenyum

Enrekang, Februari 2015

Ket : Paddi' (nama salah seorang penderita downsyndrom yang menganggap saya sebagai sahabatnya)


Sabtu, 07 Februari 2015

SATU PUISI



SATU PUISI
Liyana Zahirah






Di sudut matamu, selalu saja aku ditikam tanya
perihal janjiku padamu
perihal puisiku untukmu
yang memang tak pernah tuntas kutunaikan

sering kali kudapati senyummu menjelma angka
seperti barisan tanggal yang kalah
yang kubiarkan berlalu dengan acuh
dan desah napasmu yang turut pasrah
menanti purnama yang akan menyadarkan khilafku

Kekasih, di sudut yang paling absurd dari kita
kau menjelma beribu bait yang Tuhan tulis sebagai puisiku
kau menjelma huruf yang terangkai
menjadi rima-rima indah dalam sajak hidupku

saban hari, ketika satu purnama membebaskan malam
di bawa cahaya yang selalu kita tunjuk bersama
aku ingin membaca satu puisi
yang kutulis dengan hati penuh sunyi
di atas nisanmu yang usang kini

“aku bukan penyair, sayang. Tapi kau adalah puisiku
yang enggan untuk berhenti kubaca”

Palopo, Januari 2015


*terbit di harian cakrawala. Edisi, 24 Januari 2015











Template by:
Free Blog Templates