Rabu, 01 Juli 2015

DI SATU MAKAM

    Sejak beberapa hari yang lalu, saya disesaki rasa bersalah. Beberapa teman meminta alamat kastil kecil saya. Mereka hendak mampir dan melihat-lihat, katanya. Padahal, saya sendiri bahkan tak pernah menyempatkan mampir, walau hanya untuk meminum kopi dan bercerita seperti bulan-bulan sebelumnya (saya memang payah!). Tapi, sebagai penebusan rasa bersalah, malam ini saya ingin menulis puisi dan membacakan sebuah puisi. Meski sebenarnya, saya sedang belajar menulis hal-hal yang lebih panjang sekarang ini. Hehehe...

Yukk!!

DI SATU MAKAM

Jauh tapak langkah pergi
mengembara mencari entah
singgah bertemu nokhta
menyusuri lembah-lembah kepasrahan
ke mana, lalu bagaimana?

Kubiarkan segala tanya lepas
menemui setiap alasan yang bungkam
seperti kubiarkah kau pergi tanpa perlu menjelaskan apa-apa
Ya, kurasa setangkai kata adalah seikat dusta
yang akan melukai lebih raksa
maka kupercaya diam adalah jawaban terbaik
untuk saling menyakini
bahwa ada genggaman yang tak erat di sela-sela jemari kita
ada janji yang tak tegas pernah tuai di bibir kita

Kenangan cebur di lautan garam
lalu kusaksikan kepedihan menemui ajalnya di matamu
lagi-lagi, kubiarkan alasan dan penjelasan tak bertemu
kubiarkan tubuhmu dihujani sepi
kubiarkan gigil merangkul harapanmu atas aku
sebab kita hanya akan pernah ditakdirkan bertemu
di satu makam
di satu galian
; masa lalu


Palopo, Juni 2015


Bisa didengar -->> Di Sini









Template by:
Free Blog Templates