Sabtu, 07 Februari 2015

SATU PUISI



SATU PUISI
Liyana Zahirah






Di sudut matamu, selalu saja aku ditikam tanya
perihal janjiku padamu
perihal puisiku untukmu
yang memang tak pernah tuntas kutunaikan

sering kali kudapati senyummu menjelma angka
seperti barisan tanggal yang kalah
yang kubiarkan berlalu dengan acuh
dan desah napasmu yang turut pasrah
menanti purnama yang akan menyadarkan khilafku

Kekasih, di sudut yang paling absurd dari kita
kau menjelma beribu bait yang Tuhan tulis sebagai puisiku
kau menjelma huruf yang terangkai
menjadi rima-rima indah dalam sajak hidupku

saban hari, ketika satu purnama membebaskan malam
di bawa cahaya yang selalu kita tunjuk bersama
aku ingin membaca satu puisi
yang kutulis dengan hati penuh sunyi
di atas nisanmu yang usang kini

“aku bukan penyair, sayang. Tapi kau adalah puisiku
yang enggan untuk berhenti kubaca”

Palopo, Januari 2015


*terbit di harian cakrawala. Edisi, 24 Januari 2015











Template by:
Free Blog Templates