Senin, 16 Maret 2015

MONOLOG RINDU

BAYANG DALAM KELAMBU RINDU 


Terkadang, ada banyak sekali rindu yang hadir tiba-tiba. Ada banyak sekali kenangan yang ingin sakali untuk dikenang. Bahkan dalam detik, menit, dan waktu yang tak pernah kau tahu, cinta menyapamu dengan cara yang tak biasa.

Pagi ini di sudut meja kerjaku, sepasang kenangan menuntut untu dikenang. Potongan-potongan rindu menguntit, membelai lewat sela-sela kata. Bahkan dengan sedikit egois, cinta mendesak, sesaki seisi kepalaku. Aku tak berdaya!
 
Memang ini salah. Mencintai bayang berarti kau harus siap untuk tak mendapat apa-apa. Tapi bukankah segala apa-apa, pada akhirnya akan menjadi bayang. Masa lalu, misalnya. Atau kenangan.

Hummm .. Biar kutarik napasku dengan sedikit pelan. Lalu kusaspi setiap aroma rindu tiadamu.

Kadang mungkin, kita harus tangguh atas perasaan sendiri. Dengan begitu, rindu menjadi tahu, kapan seharusnya ia hadir dan bagaimana seharusnya ia pergi.

Di teguk terakhir, sebelum ampas kopi menjelma bayangmu, aku menjadi pengkhayal yang ingin selalu punya pagi indah bersamamu.





Palopo, Maret 2015 (Dikelambui rindu)

Template by:
Free Blog Templates