Senin, 21 Maret 2016

BISAKAH SEKALI LAGI KAU MENCEMASKANKU

Demi merayakan hari puisi (yang sudah lewat beberapa jam lalu), saya berupaya mennulis puisi.


BISAKAH SEKALI LAGI KAU MENCEMASKANKU?
 ; Kepada, Kau __

Kita telah terlalu larut dalam pertapaan bisu
aku memenggal pergelangan waktu
meniadakan perayaan kecil yang sering kita lakukan di bibir senja
atau di larut malam yang rapuh

Aku belajar menerka rupa rindumu
__ lapuk mengurai jejak yang pernah sengaja luput aku rawat
; kau pemelihara yang habat

Subuh tadi gerimis menyerbu buru-buru
menyisahkan buih embun di jendela kamarku
aku teringat wajah cemasmu setiap kali mendapati langkahku yang tegesa-gesa
kau selalu gagal menyembunyikannya

Gulungan waktu memanjang
menampung jarak yang tak sanggup kuterka


Bisakah sekali lagi kau mencemaskanku?

Makassar, Maret 2016

Jumat, 11 Maret 2016

JODOH?

Saya sedang disibukkan dengan pekerjaan menjodohkan saat ini
; menjodohkan kata dengan kata agar menjadi kalimat eksotik tanpa bumbu dramatik di dalamnya. Menjodohkan berkas-berkas agar saling bertemu dan tiba dengan selamat di tempat tujuannya masing-masing. Dan yang paling penting, saya juga sedang berupaya menjodohkan diri saya sendiri (dengan kampus yang memungkinkan menerima saya apa adanya).

Sudahlah, saya sedang ingin menulis PUISI!!

PIPIMU
Pipimu adalah telaga paling tenang
tak pernah beriak
sedang matamu adalah sumber mata air paling jernih
aku senang berkaca di matamu
meski dengan tega kau sering menepisnya 
; mengataiku ini-itu hingga deru ombak bising di gerigi gigimu
 
Tak mengapa, sebab aku senang menganggumu
menegurmu untuk sekadar membuatmu merasa tak sepi
 
 
 
PUNGGUNG
Aku menitip dua pesan pada punggungmu
; jangan berbalik dan jangan terbalik
 
 

Palopo, Maret (11) 2016
 
 
 
 
 
 
 

Template by:
Free Blog Templates